Jumat, 24 April 2026

Balai Bahasa

Sampaikan Pesan Menurut Konteks

Dalam kehidupan sehari-harisering kita sulit memahami sebuah pesan

Editor: bakri

Oleh Arbai, Guru SMPN 1 Kluet Timur, Aceh Selatan

Dalam kehidupan sehari-harisering kita sulit memahami sebuah pesan. Hal ini disebab-kan oleh kurangnya pengetahuan kita mengenai apa yang disampaikan atau mungkinjuga karena pesan tersebuttidak begitu jelas.

Edward T. Hall (1976)sebagaimana dikutip olehTjipta Lesmana (2008) mene-gaskan dari segi kultur kebu-dayaan manusia dibagi dalam dua kategori, pertama kebu-dayaan konteks tinggi (highcontext culture) dan keduakebudayaan konteks rendah(low context culture). Bangsa-bangsa timur, termasuk bangsaIndonesia, umumnya menganutkebudayaan konteks tinggi,sedangkan bangsa-bangsa ba-rat kebudayaan konteks ren-dah. Kebudayaan konteks ting-gi menghasilkan komunikasikonteks tinggi.

Sedangkan ke-budayaan konteks rendahmenghasilkan komunikasi kon-teks rendah.Dalam komunikasi bahasaIndonesia pun bisa kita jumpaidua  kategori konteks komuni-kasi itu. Komunikasi kontektinggi pada umumnya tidaksetiap orang bisa memahami-nya, artinya pesan yang disam-paikan tidak secara jelas. Lalu,pada komunikasi  konteks ren-dah pesan yang disampaikanoleh si pembicara begitu mudahditangkap. Karena disampaikansecara lugas, terang dan langsung.

Mari kita lihat beberapacontoh komunikasi kontekstinggi dalam bahasa Indonesia,yang pernah disampaikan olehtokoh-tokoh penting di negeriini.  Misalnya M Nuh menteripendidikan dalam pernyataan-nya mengenai kurikulum 2013sebagaimana dilansir (Kompas.com)14/2/2014 "berdasarkan hasilevaluasi implementasi kuriku-lum 2013 yang dilakukan ter-batas dan bertahap tahun lalu,diketahui ada banyak kekura-ngan. Setelah dirunut, kekura-ngan itu banyaknya tahap yangharus dilalui sampai kurikulumtersebut benar-benar diterap-kan pada peserta didik".Pesan yang disampaikan MNuh sangat sulit dicerna olehorang awam.

Kita tentu dibuatbinggung dengan kekuranganyang dimaksudkan. Dalam kalimatpenjelasan selanjutnya pun...banyak tahap yang harusdilalui... pesan yang ingindisampaikan harus kita tebakapa maksud yang sesungguhnya.Artinya, pesan itu tidak lugas dankemungkinan kita salah dalammengartikan pesan itu sangatterbuka lebar.Bandingkan dengan komuni-kasi konteks rendah yang digu-nakan Jokowi berikut ini "kalaukami pakai anggaran, namanyamendahului, dan secara prosudertidak benar, nanti dibilangkorupsi." (Kompas.com, 16/02/2014). Pesan yang disampaikanoleh Jokowi dapat kita kategor-ikan dalam komunikasi  konteksrendah, karena pesan itu lugas,langsung dan mudah dipahamidan tidak menjadi multi tafsir.Setiap orang bisa saja meng-gunakan komunikasi  konteksrendah atau komunikasi  kontekstinggi.

Namun,  pada umumnyatokoh-tokoh di Indonesia lebihmemilih komunikasi kontekstinggi. Faktor budaya juga bia-sanya ikut mempengaruhi.Kebanyakan orang Indonesiatidak berani terus terang atauto the point. Sehingga tidakberlebihan Hall (1979) dalamLesmana (2008) menyimpulkanorang Indonesia termasuk bagiankebudayaan konteks tinggi.Untuk para tokoh misalnyabanyak pernyataan-pernyataanmereka yang sulit dipahami,pernyataan Anwar Nasution inimisalanya "pemerintah sekarangini belum mengambil tindakanmendasar untuk menghadapimasalah ekonomi nasional yangsemakin sulit di masa depan (Kompas, 5/12/2013).

Berdasarkan pengamatan Anwar Nasution pemerintah belum membuatlangkah-langkah konkret ten-tang tindakan antisipasi eko-nomi masa depan. Namun,orang akan bertanya denganpernyataan Anwar Nasutionitu, apa maksudnya? Mengapaia menuduh pemerintah tidakmelakukan tindakan, tidakdijelaskan secara terangbenderang. Misalnya langkah-langkah konkret seperti apayang harus dilakukan. Kontekskomunikasi seperti inilah yangbisa dimaknai "bersayap.

"Kemudian contoh komuni-kasi konteks rendah lainnya,Ruhut Sitompol adalah contohyang paling tepat, misalnyasaja debat dirinya dengan FuadBawazier, Ruhut membuatpernyataan yang lugas dantegas serta pesan yang disam-paikannya pun mudah ditang-kap "Arab tidak pernah mem-bantu Indonesia."Berdasarkan bahasan dancontoh-contoh di atas bahwadalam konteks komunikasisampai tidaknya pesan yangingin disampaikan dalam sebu-ah kalimat atau pernyataantergantung konteks komu-nikasi yang digunakan. Olehsebab itu, entah itu penulisatau penceramah atau pejabatyang sering melakukan pidatoharus memilih konteks komuni-kasi yang tepat agar isi pesanyang ingin disampaikan jugabisa ditangkap dan dimengerti dengan mudah oleh para audiennya.

Selain konteks komunikasibudaya dan latar belakang paraaudien juga perlu mendapatperhatian khusus. Bahasa Indo-nesia yang merupakan bahasakesatuan yang telah disepakatisecara bersama tentu akanmampu menjadi alat komunikasiyang tepat, menjadi penyam-pai pesan yang tepat, asalkansi penggunanya mau dan mam-pu memahami bahasa Indonesiaitu sendiri. Sebagai penututupsemoga kita mampu berbahasaIndonesia sesuai dengan konteksnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved