Eri Nasrul, Pilot F-16 Asal Kutabaro
SIANG itu, Rabu (30/4) siang, pemuda ini baru saja usai mengimami shalat zuhur di Musala Pangkalan Udara Sultan Iskandar Muda (Lanud SIM) Blangbintang
SIANG itu, Rabu (30/4) siang, pemuda ini baru saja usai mengimami shalat zuhur di Musala Pangkalan Udara Sultan Iskandar Muda (Lanud SIM) Blangbintang, Aceh Besar, setelah sekitar sejam lalu lalu ia mengelilingi Aceh dalam waktu 90 menit. Namun ia tak kelihatan lelah, mungkin saja karena dirinya memutari satu daerah ini bukan menggunakan mobil, tetapi menggunakan pesawat tempur F-16 milik TNI-AU. Dia adalah Lettu PNB Eri Nasrul Mahlidar (28).
Pria asal Gampong Krueng Anoi, Kecamatan Kutabaro, Aceh Besar ini seorang dari enam pilot pesawat tempur F-16 Fighting Falcon yang hampir seminggu lalu mengelilingi Aceh dalam rangka latihan Operasi Pertahanan Udara (Hanud) Tangkis Sergap-14. Kegiatan ini adalah program Operasi Komandan Pertahanan Udara Nasional (Kohanrudnas) untuk menjaga kemananan wilayah ini di udara, seperti baru-baru ini juga mereka lakukan di Jakarta dan Sumatera Utara.
“Setelah lulus Sekolah Penerbang TNI-AU di Jogjakarta pada 2009 atau 1,5 tahun pendidikan, alhamdulillah saya ditugaskan menjadi penerbang tempur di Skadron Udara 3, Pangkalan Udara Iswahjudi Madiun, Jawa Timur pada 2010. Sejak saat itu hingga kini, semua daerah lainnya di Indonesia sudah pernah kami terbang hingga ke Biak, Papua. Tetapi untuk di daerah sendiri Aceh, ini yang pertama,” kata Eri Nasrul bangga.
Pilot pesawat tempur produksi Amerika ini menambahkan mereka juga sudah pernah latihan bersama (Latma) Singapura pada 2010 di Bali dan 2012 di Lombok. Kemudian dengan Australia atau lebih dikenal Latma Ausindo pada 2011 di Bali dan 2013 di Darwin, Australia.
Bercita-cita pilot
Kata dia, semua prestasi itu berawal dari cita-citanya sejak kecil yang ingin menjadi pilot, apalagi rumahnya di kawasan Bandara SIM Blangbintang, sehingga setelah menamatkan SMAN 3 Banda Aceh pada 2004, anak ketiga dari empat bersaudara pasangan M Nasir Yahya SH dan Dra Aidar Yusuf ini masuk Taruna Akademi Angkatan Udara Jokjakarta pada 2004.
“Nah, karena ketika tamat selama menempuh pendidikan 3,5 tahun dengan IPK 3,3, maka melanjutkan ke Sekolah Penerbang TNI-AU Jokjakarta pada 2008-2009. Selama hampir 1,5 tahun pendidikan di sekolah ini, kami dilatih terbang dengan pesawat latih selama 180 jam secara tahap demi tahap, mulai fase manuver dasar, atraksi tiga dimensi di udara, hingga tehnik menerbangkan F-16 ini dalam cuaca buruk,” kenangnya.
Pria yang sudah menikah dengan seorang dokter, Era Nurissama ini mengatakan dari 32 taruna yang melanjutkan pendidikan ke sekolah penerbang ini, dua di antaranya gugur ketika masih belajar manuver dasar sehingga tak bisa melanjutkan ke fase selanjutnya, melainkan ditugaskan di bagian darat, misalnya di bagian radar. “Ketika masih latihan, kecepatan pesawat masih 150 knot atau 280 kilometer per jam yang didampingi seorang instruktur,” ucapnya.
Kemudian, karena meraih rangking dua dari 30 yang lulus sekolah penerbang ini, 10 penerbang terbaik ditugaskan di Skadron Udara 3, Pangkalan Udara Iswahjudi. Skadron ini mengawaki alat utama sistem senjata (Alutsista) pesawat tempur F-16 Fighting Falcon produksi Amerika Serikat. Pesawat ini mampu menyerang sasaran udara dan darat secara tepat. Kecepatan terbang maksimal 2.400 km per jam atau dua kali kecepatan suara. Biaya dibutuhkan, termasuk untuk BBM-nya sekali terbang mencapai Rp 200-250 juta.
“Saya bangga dan bersyukur menjadi penerbang pesawat tempur ini. Tetapi saya akan lebih bangga lagi, jika ada ada saudara-saudara kita lainnya di Aceh yang juga ikut bergabung guna mendedikasi pikiran dan kerja kerasnya untuk kemajuan bangsa dan negara ini,” pesan alumnus SDN 1 Buengcala, Kutabaro, Aceh Besar dan SLTPN 9 Banda Aceh ini.(mursal ismail)