FMIPA Temukan Cara Baru Pisahkan Emas dari Batu
Penggunaan merkuri (air raksa) dalam industri pengolahan emas terbukti mencemari lingkungan. Menyikapi hal itu, para peneliti
BANDA ACEH - Penggunaan merkuri (air raksa) dalam industri pengolahan emas terbukti mencemari lingkungan. Menyikapi hal itu, para peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Aceh Universitas Syiah Kuala (FMIPA Unsyiah) Banda Aceh menemukan terobosan dan formula baru yang lebih ekonomis sekaligus ramah lingkungan.
“Kita tawarkan penggunaan asam klorida dicampur kaporit untuk memisahkan emas dari material lainnya. Campuran zat kimia ini berdaya hingga 90% memisahkan emas dari kandungan 100% potensial dalam sekali penggilingan. Ini karena kapasitas gelondongan yang kita tawarkan juga lebih besar,” ujar salah seorang dari tim peneliti FMIPA Unsyiah, Elly Sufriadi, kepada Serambi di Banda Aceh, Kamis (28/8).
Ditanya apa keunggulan metoda ini dibanding menggunakan merkuri dan sianida, Elly menjawab tangkas, “Cara ini lebih ramah lingkungan. Kalau soal cara kerjanya tentu lebih efisien, tapi kalau soal harga itu relatif,” ujar dosen jurusan kimia ini.
Dalam formula baru ini, ia jelaskan bahwa rasio penggunaan asam klorida dengan kaporit adalah 3:1. Di pasaran, asam klorida dihargai Rp Rp 400.000/jeriken (35 kg) dan kaporit dijual Rp 7.500 per satuan. Jika dibandingkan dengan penggunaan merkuri sebesar dua-tiga ons dengan pemisahan jumlah material yang sama, maka uang yang harus dikeluarkan berkisar Rp 600.000-an, tergantung harga merkuri di pasar gelap.
Sementara daya kerja merkuri yang dicampur ke dalam material yang belum dipisah antara yang potensial atau tidak, menurut Elly, hanya sekitar 40 persen. Untuk itu, penambang harus menggiling berulang-ulang guna memisahkan emas dari material lainnya (batu atau gumpalan tanah).
Elly menjelaskan, aktivitas penambangan emas di Aceh Jaya, Pidie, dan Aceh Selatan sudah sangat mengkhawatirkan. Matinya ribuan ikan menunjukkan kadar merkurinya sudah di atas ambang batas. Sejak penambangan di Aceh menggeliat tahun 2008, dua tahun kemudian pihaknya melakukan penelitian untuk kemudian merekomendasikan model pengolahan emas ramah lingkungan tersebut.
“Hasil penelitian kami menunjukkan sungai Krueng Sabee yang dijadikan air baku untuk PDAM setempat sudah tercemar merkuri dengan kadar 5 ppm. Kami juga melakukan percobaan pada tikus bunting yang mengonsumsi air tersebut dan mendapati janin yang dikandung hingga hari ke-18 mengalami pengikisan tulang,” papar Elly.
Beranjak dari situlah pihaknya melakukan dua kali uji coba model pengolahan emas ramah lingkungan masing-masing pada Oktober 2013 dan Agustus 2014. Uji coba sekaligus sosialisasi dilakukan di laboratorium Bapedal Aceh dengan mengundang penambang, ekonom, dan pemkab terkait.
“Tapi entah kenapa Bapedal melarang temuan itu untuk di-publish, padahal itu sangat berguna bagi masyarakat. Gubernur tidak tahu-menahu soal ini. Begitulah, setelah ada kejadian dan jatuh korban baru ribut, dulu malah tidak direspons,” keluhnya.
Saat bertemu Kepala Bapedal Aceh, Ir Anwar Ibrahim, di Meuligoe Aceh, Senin (25/8) lalu, di depan Gubernur Zaini Abdullah, Serambi sempat menanyakan mengapa temuan dari peneliti FMIPA Unsyiah itu tidak dipopulerkan di kalangan penambang emas kalau memang lebih kecil risiko medis dan ekologisnya. Anwar hanya menjawab singkat,” Bahan pemisah emas yang mereka gunakan masih dari bahan kimia juga dan harganya lebih mahal.” (rul/dik)
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |