Serambi MIHRAB
Kurban dan Keikhlasan
GULIR waktu telah mengantarkan kita kembali bertemu dengan Hari Raya Idul Adha tahun ini. Satu hari bermakna yang dirindui
Oleh Asmaul Husna, S.I.Kom, Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe dan Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU)
GULIR waktu telah mengantarkan kita kembali bertemu dengan Hari Raya Idul Adha tahun ini. Satu hari bermakna yang dirindui oleh umat Muslim. Syukur tentu pantas dipanjatkan karena Tuhan masih mengizinkan kita untuk hidup sampai hari ini. Masih diberi kesempatan untuk saling bermaafan, menyambung silaturrahmi yang terputus, dan juga belajar tentang keikhlasan. Dan yang lebih beruntung lagi, tentu mereka yang dipanggil menjadi tamu Allah Swt, menunaikan ibadah haji ke Baitullah, di Mekkah al-Mukarramah, Arab Saudi.
Idul Adha, selama ini kita juga kerap menyebutnya dengan Hari Raya Kurban. Hal ini disebabkan karena pada hari itu masyarakat menyembelih hewan kurban, seperti unta, sapi (lembu), kambing, domba dan dagingnya dibagikan kepada fakir miskin. Perintah untuk berkurban juga sudah jelas sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran: “Sesungguhnya Kami memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Rabbimu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 1-2).
Memaknai kurban
Bicara tentang kurban, sebenarnya kita sedang diajarkan tentang keikhlasan. Dalam sejarah juga telah dikisahkan bagaimana Nabi Ibrahim as mengikhlaskan anaknya, Ismail as untuk disembelih atas perintah Tuhan, yang kemudian menjadi asal muasal dari hukum berkurban. Begitu juga dengan Nabi Ismail as yang mengikhlaskan dirinya untuk disembelih oleh tangan ayahnya sendiri.
Keadaan tersebut tentunya bukanlah sebuah hal yang mudah. Keputusan Nabi Ibrahim as untuk membunuh anak tercintanya tidak hanya menuntut keberanian, tapi juga keikhlasan. Seandainya kala itu Tuhan tidak menggantikan leher Nabi Ismail dengan seekor kibas, mungkin setiap Idul Adha kita akan menyembelih anak sendiri sebagai kurban atas apa yang Tuhan perintahkan. Jika memang demikian, saya yakin tidak akan ada yang rela berkurban. Lagi pula siapa yang mau menjadi kanibal bagi daging kurban manusia.
Pelajaran tentang keikhlasan tidak hanya kita dapatkan dari kisah dua nabi tersebut. Dari kisah yang dibawa pulang oleh jamaah haji pun menceritakan bagaimana hewan-hewan di sana sama sekali tidak meronta ketika akan disembelih. Di arena penyembelihan di Arab Saudi, baik unta atau pun kambing langsung membungkuk tanpa memberikan perlawanan berarti yang harus membuat penyembelihnya kewalahan. Mungkin dia tahu kalau mereka akan dikurbankan demi kebaikan. Dan hewan-hewan itu juga mengajarkan manusia akan arti keikhlasan.
Jika karena perintah Tuhan Nabi Ibrahim as rela menyembelih anak tercintanya Ismail, keikhlasan itu juga yang coba beliau wariskan untuk umat Islam. Dalam berkurban, kita diminta untuk memberikan hewan terbaik yang kita punya. Mulai dari cukup umur, tidak cacat, postur yang gagah, hingga rupa yang menawan. Karena titik keikhlasan itu dinilai ketika seseorang bersedia untuk mengorbankan hal paling baik yang ia punya.
Jika memang seseorang belum cukup mampu untuk berkurban, keikhlasan juga bisa diberikan dalam bentuk lain. Saya jadi teringat pernyataan seorang penulis novel best seller bernama Tere Liye. Dalam akun media sosialnya ia mengatakan bahwa jika ingin membaca karyanya tidaklah harus membeli. Tetapi seseorang bisa meminjam buku tersebut, baik dari kawan maupun di perpustakaan. Karena jika ingin mengoleksi karyanya secara lengkap, harganya bisa sejuta lebih. Ia menyarankan, baiknya ditambah sedikit lagi agar bisa membeli hewan kurban.
Sebuah pernyataan yang jarang sekali meluncur dari mulut seorang penulis. Karena lumrahnya penulis pasti ingin bukunya itu laku. Bahkan ada buku yang di dalamnya memuat larangan meminjam dan memberi pinjam. Jika tidak, orang tersebut akan didoain tidak baik. Misalnya, si peminjam itu akan didoain supaya tidak bisa “buang angin” dalam jangka waktu yang lama. Maka dari pernyataan Tere Liye itu pun kita menangkap pesan bahwa keikhlasan itu bisa diterapkan dalam berbagai konteks kehidupan. Secara materi mungkin ia akan rugi, tapi ia ikhlas karena percaya bahwa akan ada hal baik lain dari sebuah keikhlasan itu sendiri.
Kurban di Aceh
Selain tentang keikhlasan berkurban, ada juga berbagai tradisi umat muslim untuk menyambut Hari Raya Kurban itu sendiri. Di Aceh misalnya, ada sebuah tradisi yang terus dilestarikan yang kemudian dikenal dengan uroe meugang. Bagi orang Aceh, meugang adalah hari dimana masyarakat biasanya menikmati daging.
Ketika hari itu tiba, maka pasar daging pun muncul bak jamur tumbuh di musim hujan. Mulai di pasar tradisional sampai di perempatan jalan, daging-daging segar itu digantungkan. Begitu juga dengan hewan kurban, kita akan melihat pemandangan kambing-kambing diikat di dekat lampu merah dan taman kota (walau itu melanggar). Rasanya tidak sah dan kurang lengkap jika tidak menyediakan santapan yang menggugah selera tersebut di hari raya.
Bisa menikmati daging, membuat meugang dan Hari Raya Kurban menjadi istimewa. Karena pada hari itu, orang miskin sekalipun yang tidak mampu membeli daging akan bisa menikmatinya. Berkurban juga sama artinya membantu sesama manusia dan satu jalan mencapai ridhaNya.
Dalam satu hadis Rasulullah saw bersabda: “Tiada perbuatan yang paling disukai Allah pada Hari Raya Idul Adha selain berkurban. Sesungguhnya orang berkurban akan datang pada hari kiamat membawa tanduk, bulu, dan kuku binatang kurban itu. Dan sesungguhnya darah kurban yang mengalir akan lebih cepat sampai kepada Allah daripada (darah itu) jatuh ke bumi. Maka sucikanlah dirimu dengan berkurban.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Tidak hanya kurban dan meugang, Hari Raya Idul Adha menjadi sangat istimewa karena pada bulan inilah umat muslim menunaikan rukun Islamnya yang kelima. Bagi orang Aceh, ibadah haji adalah menjadi tujuan dan alasan mengapa mereka harus ke pergi luar negeri. Karena hanya ada dua perjalanan luar negeri yang biasanya ditempuh oleh masyarakat Aceh; pertama ke Saudi Arabia karena tuntutan agama dan kedua, pergi ke negeri jiran Malaysia karena tuntutan ekonomi.
Ibadah haji dan berkurban memang merupakan panggilan. Karena banyak juga yang sudah mampu secara materi, tapi langkahnya belum terpanggil ke tanah suci. Sedangkan di sisi lain kita juga melihat potret orang yang hanya penjual sayur atau pemungut tiram, dipanggil untuk menjadi tamu Allah. Tetapi terlepas dari itu, saya meyakini setiap umat muslim merindui panggilan itu dan menanjakkan kakinya di bumi para Nabi itu.