Kamis, 11 Juni 2026

Serambi MIHRAB

‘Haji Abu Jahal’

JAUH sebelum kedatangan Rasulullah saw, ritual ibadah haji telah berlangsung di Baitullah, Mekkah al-Mukarramah

Tayang:
Editor: bakri

JAUH sebelum kedatangan Rasulullah saw, ritual ibadah haji telah berlangsung di Baitullah, Mekkah al-Mukarramah. Ritual ibadah haji sebagai kesinambungan dari syariat Nabiyullah Ibrahim tak lagi dijalankan secara benar kala itu. Mereka berhaji dengan penuh jahiliyah sambil menyembah patung Latta, Uzza dan Manna. Tak salah ketika mereka mendapatkan titel haji, maka muncullah nama-nama “Haji Abu Jahal” dan kawan-kawan.

Kebiasaan masyarakat jahiliyah saat itu adalah berperang antarsuku, membunuh wanita, mengubur anak perempuan hidup-hidup dan mencuri. Rasulullah saw kemudian hadir di tengah masyarakat jahiliyah ini. Dalam kurun waktu yang relatif singkat beliau mengubah tatanan masyarakat sebagai tatanan yang Rabbani, mempersatukan suku-suku berdasarkan persaudaraan Islam. Sejarah mencatat bagaimana berhala-berhala yang terdapat di sekeliling Kakbah dimusnahkan tanpa sisa.

 Berhaji tanpa titel
Haji merupakan ibadah untuk menyempurnakan rukun Islam dengan syarat berkemampuan. Dalam fiqih kata “mampu” yang dimaksud adalah mampu harta, mampu fisik dan jiwa. Tak bisa dinafikan bahwa ibadah haji adalah ibadah fisik dengan berjuta orang di dalamnya.

Niat beribadah haji semata-mata hanyalah untuk memperoleh ridha dan kasih sayang Allah. Jika niat beribadah haji hanya untuk meraih titel maka Abu Jahal juga telah meraih titel haji. Islam sangat mewanti-wanti jika saja muncul “Haji Abu Jahal” baru yang berhaji setiap tahun lalu pulang ke kampung, kembali melakukan perbuatan-perbuatan paling jahal.

Haji Abu Jahal cukup menjadi iktibar kepada kita bahwa berhaji tak cukup dengan titel saja, namun bagaimana kita berhaji dengan sepenuh hati dan jiwa, bagaimana kita bisa benar-benar menjawab panggilan Allah seraya berdoa semoga haji yang kita jalankan menjadi haji yang mabrur di sisi Allah Swt.  

Ulama-ulama Aceh dulu sepulangnya dari haji tak pernah menyandang titel dan mempersoalkannya. Apa yang terjadi di sekeliling kita adalah setelah pulang haji, kita berkelahi dengan bawahan hanya karena kesalahan penulisan nama tanpa membubuhkan gelar haji.

Bagaimana materialistisnya sudah kehidupan kita, mengejar titel haji adalah bentuk ambisi mengejar dunia. Kita telah melakukan kesalahan besar yang mematikan hati.

Berapa banyak yang sudah bertitel haji tapi masih saja korupsi dan melakukan tindakan asusila. Kita belum memahami ibadah haji sebagai bentuk kesempurnaan rukun Islam. Di Timur Tengah budaya membubuhkan titel nyaris tidak ada, walaupun tak bisa kita nafikan masih banyak Haji Abu Jahal Arab yang menjadi pencuri berkeliaran di sekeling Kakbah. Tapi secara umum tidak ada kegilaan mereka kepada gelar haji, walaupun sudah berhaji berpuluh kali.

Kita tak mengharapkan mental-mental “Haji Abu Jahal” ini tumbuh di Aceh. Kita menginginkan generasi muda Aceh dekat dan hidup dengan nama Allah, seperti apa yang disampaikan Amru Khalid, seorang penceramah Mesir lewat istilah bismika nahya. Dengan nama Allah kita beribadah jauh dari seribu satu gelar.

Kita menerima amanah akan pesan-pesan Rasulullah ketika berkhutbah pada haji wada’. Di antara pesan Rasulullah tersebut adalah perintah untuk selalu menjaga persaudaraan antarsesama muslim, menghormati dan berlaku adil pada wanita serta meninggalkan segala tradisi jahiliyah seperti pembunuhan, benci dan dendam.

Pesan Rasulullah ini seyogyanya kita renungkan kembali dalam-dalam, apakah kita sudah menjalaninya sebelum atau sesudah melaksanakan ibadah haji. Apakah kita sudah melindungi istri dan anak-anak perempuan kita dari perilaku jahiliyah?

Bagaimana rasa persaudaraan antara sesama ureung Aceh hari ini yang katanya sebagai bangsa teuleubeh, sudahkah kita merajut erat rasa persaudaraan itu atau malah menghancurkannya? Kita mempunyai tugas untuk menjalankan pesan-pesan Rasulullah dalam haji wada’, bukan malah mengejar titel “Haji” dan “Hajjah”.

 Esensi ibadah haji
Syekh Ismail bin Abdul Muthalib al-Asyi dalam kitab Jam’ul Jawamik Al-Musannifat menyebut bahwa sebelum berhaji harus ada penguasaan tentang seluk beluk haji secara sempurna. Sehingga kita mengetahui pula hikmah dan esensi ibadah haji agar kaum muslim tak lagi melahirkan haji-haji yang jahal dengan buet jahiliyahnya.

Satu pesan dari ibadah haji adalah memupuk kecintaan yang besar kepada Rasulullah saw. Melaksanakan setiap perintahnya dan menjauhi larangannya. Di Madinah, kita berziarah ke makam beliau sang kekasih Allah, seraya berucap: Assalamua’alaika ya Rasulullah, Assalamu’alaika ya nabiyallah asalamu’alaika ya nabiyar rahmah.

Ketika kita dalam perjalanan dari Mina menuju Arafah sebuah doa yang sangat indah kita panjatkan: “Ya Allah ya Tuhan kami, kepadamu kami bersimpuh, jadikanlan dosa-dosa kami terampuni, jadikan haji kami sebagi haji mabrur, kasihanilah kami ya Allah ya Tuhan kami.”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved