Nisan di Situs Lamuri Abadikan Mutiara Hikmah
"Rata-rata batu nisan mengabadikan mutiara hikmah berisi pesan kepada orang yang masih hidup,"
Laporan Zainal Arifin M Nur | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Batu-batu nisan kuno yang ditemukan di kompleks bekas Kerajaan Lamuri, di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, mengabadikan banyak pesan atau mutiara hikmah.
"Rata-rata batu nisan mengabadikan mutiara hikmah berisi pesan kepada orang yang masih hidup," kata peneliti dari Cisah (Centre for Information for Samudra Pasai Heritage), Tgk Taqiyuddin Muhammad kepada Serambinews.com, di Banda Aceh, Jumat (10/10/2014).
Taqiyuddin adalah Epigraf Islam atau ahli baca tulisan kuno berbahasa Arab dan Melayu Jawi. Ia bersama empat ahli lainnya, dari Aceh, Sumut, dan Malaysia, sejak Sabtu (27/9/2014) lalu, melakukan penelitian dan pemetaan di Situs Lamuri, yang diyakini sebagai cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam. (Lihat, http://aceh.tribunnews.com/2014/09/28/lima-ahli-petakan-situs-lamuri)
Taqiyuddin menyebutkan, di antara mutiara hikmah di batu nisan itu adalah tertulis pada nisan yang ditemukan pihaknya pada, Rabu (8/10/2014). "Pada bagian luar nisan bertanggal 20 Jumadil Awwal 866 H itu tertulis 'kullu man 'alaiha fan, wayabqa wajhu Rabbaka zuljalali wal ikram. Yang artinya semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan tetap kekal," kata Taqiyuddin.
"Sementara pada nisan makam Malik Adauddin (wafat 822 H). Dipahat peribahasa 'Man thalabad dunia fahuwa asirun, waman thalabal akhirah fahuwa amir' yang artinya 'Barangsiapa mencari dunia adalah tawanan, dan barang siapa mencari akhirat adalah pemimpin'," kata Taqiyuddin.
Ada juga nisan yang terpahat tulisan "Addunya jifatun wa talibuha kilabun' yang bermakna 'dunia adalah bangkai dan yang mencarinya adalah anjing."
Minim perhatian
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Unsyiah,
Dr Husaini Ibrahim MA, menyayangkan minimnya perhatian pemerintah terhadap upaya pelestarian dan penyelematan situs Lamuri.
Husaini mengatakan, selama mereka melakukan penelitian di situs cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam ini, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Parisiwata Provinsi Aceh, hanya sempat meminjamkan mobil Avanza untuk operasional, selama tiga hari, mulai tanggal 30 September - 3 Oktober.
"Setelah itu mobil ditarik kembali karena Idul Adha, janjinya akan dikembalikan setelah hari Raya. Tapi ternyata tidak diberikan lagi. Padahal kegiatan penelitian dan pemetaan situs Lamuri ini akan berakhir, Minggu lusa," kata Dr Husaini kepada Serambinews.com, di Banda Aceh, Jumat (10/10/2014).
Menurutnya, bantuan yang dirasa sangat membantu adalah pemasangan tenda untuk penginapan dan posko utama tim, oleh pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh.
Setelah penelitian dan dipetakan, pihaknya akan merekomendasikan secara resmi kepada Pemerintah Aceh untuk menyelamatkan situs Lamuri, dan mendirikan sebuah galeri arkeologi di kawasan tersebut. "Kalau dikelola dengan baik, situs ini dapat menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah di Aceh. Apalagi pemandangan alam di sini sangat indah, dengan latar belakang pertemuan antara Samudra Hindia dan Selat Malaka," ujarnya.