Puisi
Dan Langit Pun Mendung
Ada sesuatu di rongga hidung, ia mendesak ke luar,
Karya Berto Tukan
Ada sesuatu di rongga hidung,
ia mendesak ke luar,
perlahan lahan bagaikan serdadu
enggan ke medan laga.
Terbakar kulitku, bagai daun angsana berhamparan,
terbuang sia-sia di jalanan berbeton,
tanpa kabar dan suka cita cerita.
Hari ini hari terakhir di bulan ke empat
dan tissue pun sudah empat bungkus habis terpakai.
Sedangkan di Kalimantan dan Sumatra
banyak orang menebang pohon-pohon.*
Hari ini, hari terakhir di bulan ke empat.
Katanya besok kita bervakansi
dan aku melihat tangantangan raksasa begitu gampang
mengganti penanggalan,
mengubah penanggalan,
mereka memaksa kita untuk libur besok dan kerja hari ini.
Ada sesuatu dalam rongga hidung,
ia mendesak ke luar,
perlahanlahan, sedikit memaksa,
dan tissue-tissue berhamparan di
tempat sampah beton.
2013
* Potongan sajak karya Saut Situmorang
Repetisi Mati Kutu
Puisi mati dalam genggaman
seperti tubuhmu yang telanjang
dalam ingatan.
Seumpama kenangan,
seumpama encok dan kepala
memutih pun tak sudah.
Pulpen kehabisan tinta.
Penyair kehabisan kata?
Monitor hitam legam.
Ingin kuulangi..
“Puisi mati dalam genggaman.”
Semacam repetisi.
Ingatan adalah pengulangan nol koma nol
nol nol satu persen;
jedah jedah tanpa komposisi.