Puisi

Kasur Setengah Abad

Tumbuh pohon kasur di bumi rencong. Kapas-kapas tua dan biji berwarna hitam

Karya Deddy Firtana Iman

Tumbuh pohon kasur di bumi rencong.
Kapas-kapas tua dan biji berwarna hitam
merangkul sekeluarga di bawah langit.
Desahan napas tak muncul, melangkah
keringat pun kau anggap teguran nafkah.
Dingin, kusam, bau tubuh dalam tanah
adalah doa-doa lembut yang merajut nestapa
tanpa air. Meludah mengering ingatan
janji hidup dalam perapian tungku hitam.
Enggan menciptakan beranak kehidupan.
Sehingga tapak tangan nyaris mati
pada garis ladang gandum berisi lumpur.
Seperti rautan waktu mengikis ketakutan,
melawan bayangan takdir membatas kesuraman.
Pagi tanpa akal. Tunduk setengah abad.
Jujur, kau berkata; “Kita belum makmur!”

2014

Pikiran Sempit

Ratapan takdir kekonyolan setiap kepala
mendekat ikut makmur di ucapannya,
berangsur dari kabar burung di udara
menyiasati mulus naiknya harga minyak.
Bibir tipismu berkoar menaikkan kemakmuran
ingin memastikannya maka kuikuti seruan masa
memastikan lingkaran makmur berada di mana
dan bukan menangisi rasa sesal tentang kehidupan.
Bukan pula menghakimi penimbunan kemiskinan
tetapi tentang kebobrokanmu pemikiran
yang tersendat di tenggorokanmu.

2014

* Deddy Firtana Iman, bergiat di Komunitas Kanot Bu Banda Aceh

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved