Puisi
Lubu .
di Mangarao ada yang sukar ditafsirkan orang-orang datang entah kapan
Karyu Rizkia Hasmin
di Mangarao ada yang sukar ditafsirkan
orang-orang datang entah kapan
dan raib serupa kapas yang dikipas angin haluan
di hulu
ada yang jatuh menyentuh bumi
serupa kelopak bunga yang luruh di masa lalu
mekar serumpun teratai di getar air. di getar waktu
ialah orang-orang Lubu
datang ke luas Rawa dari ruas negeri Champa
beranak pinak, mengembang jadi kembang.
mengeras jadi cadas. jadi riwayat di air deras
air di hulu, ke hilir ia hanyutkan
laut ke laut, gunug ke gunung, lembah ke lembah
ke sarang jua ia pulang
kami orang-orang lubu
datang ke luas Rawa dari ruas negeri Champa
berladang di panas garang, berumah di pangkal lurah
menghilang di suatu musim. jadilah kami tuah sejarah
di Mangarao ada yang sukar ditafsirkan
orang-orang turun entah kapan
lalu gaib serupa arwah yang disentak dari badan
dahulu
ada yang rengkah di pangkal tebu
serupa manis yang dipiuh orang Lubu
remuk tandas sampai ke buku
mengalir, melaju mencapai hulu
maka menetaplah ia di Batangsumpu
(Padang, Mei 2014)
Menanam Bunga
Di taman, aku menggali
Di dalamnya aku tanami pertemuan,
pertemanan, kasih sanyang, cinta, pertengkaran,
amarah, tangis, benci dan dendam
lalu aku menutupnya, menyirami, dan memupuk
hari-hari berlalu,
lambat laun bakal bunga mulai muncul menyusup dari ceruk tanah
tiap hari aku menyirami, menjaganya agar tetap tumbuh
lalu di ruas-ruas batang muncul daun-daun dan kelopak-kelopak kecil
di bagian pucuk sesuatu mulai tampak membesar dan mekar
aku merawatnya setiap saat, agar ia tidak gugur suatu waktu
bentuknya yang enak dipandang, membuatku segera mengabadikan
dalam sebuah potret
Kami bergandengan
Di lembar potret itu kenangan berguguran.
terbang di liuk angin.
(Padang, Juni 2014)