Citizen Reporter
Sanliurfa, “Mekkah” bagi Turki
KOTA Urfa atau Sanliurfa di Turki merupakan nama yang dipakai setelah masyarakatnya memerdekakan diri
OLEH WARDATUL ULA ANWAR IDRIS, Mahasiswi asal Aceh Jurusan Teologi Islam di Gaziantep University, melaporkan dari timur Turki
KOTA Urfa atau Sanliurfa di Turki merupakan nama yang dipakai setelah masyarakatnya memerdekakan diri dari jajahan Prancis. Karena kekeberanian dan niat tulus para pejuangnya, Pemerintah Turki yang kala itu sudah berpusat di Ankara, memberi penghargaan dengan menambahkan kata “sanli” yang bermakna mulia pada awal kata Urfa.
Kota ini merupakan salah satu kota yang wajib dikunjungi jika bertamasya ke Turki bagian timur karena sejarahnya yang luar biasa. Kota ini tak ubah seperti Kota Mekkah yang masyhur karena Kakbah, sumur Zamzam, Safa Marwah, dan banyak tempat spiritual lainnya yang berhubungan dengan para utusan Allah.
Sanliurfa pun menjadi Mekkah bagi Turki, karena Nabi Ibrahim, Nabi Ayub, dan Nabi Luth pernah mendiami kota ini. Urfa dan Mekkah sebenarnya memiliki keterkaitan, sebab dari sinilah Nabi Ibrahim yang mendapat julukan “Halilullah” beranjak menuju Makkatul Mukarramah mendirikan Kakbah bersama putranya, Ismail.
Bagi yang sudah pernah berkunjung ke sini, pasti sudah tak asing lagi dengan Sifa Su, air yang diyakini mujarab karena dipakai Nabi Ayub untuk meluruhkan seluruh penyakitnya dengan seizin Allah. Sumur ini berdampingan dengan tempat Nabi Ayub menyendiri ketika beliau dijauhi oleh kaum, bahkan istrinya. Sudah menjadi tradisi untuk membawa pulang air mujarab tersebut sebagai oleh-oleh sepulang dari Urfa, layaknya orang-orang yang membawa Zamzam dari Mekkah.
Di sini juga terdapat Balikli Göl, danau yang air dan ikannya berasal dari kayu dan bara api yang digunakan Raja Namruz untuk membakar Ibrahim as. Terdapat pula gua tempat Nabi Ibrahim dilahirkan.
Pada kunjungan ketiga kemarin, saya sempat merasakan suasana subuh di masjid yang bersambung dengan gua tempat Nabi Ibrahim dilahirkan. Saya juga mendengarkan bacaan ayat suci yang dilantunkan begitu merdu. Maklumlah, orang-orang Urfa sangat fasih berbahasa Arab karena sebagian besar mereka adalah bangsa Kurdi dengan bahasa asli Kurdi yang merupakan campuran bahasa Arab dan Persia.
Suasana Sanliurfa secara keseluruhan memang menggambarkan timur tengah dengan bangunan-bangunan persegi dan suhu yang begitu panas, walau tak memiliki padang pasir tandus seperti Arab. Terdapat juga banyak lahan pertanian, karena pekerjaan sehari-hari masyarakat Urfa kuno adalah bertani dan menggembala. Namun, Urfa hari ini adalah kota yang padat pengunjung dan maju dalam berbagai sektor. Lihat saja pasarnya yang kian berkembang dan menyediakan berbagai kebutuhan dari banyak jenis olahan dapur, sandang, dan bermacam jenis atribut, juga aksesori sebagai buah tangan.
Namun, bagi masyarakat Urfa, menerima modernitas tak berarti harus menghapus adat istiadat warisan nenek moyangnya. Mereka orang-orang yang sangat menghargai leluhur. Di berbagai penjuru kota banyak terlihat perempuan yang berselendang khas warna ungu dengan pernak-pernik seperti gelang dan tindik hidung yang masih bertahan. Juga kebiasaan mereka memakai celak.
Tak jarang pula laki-laki mengikat kepala mereka dengan selendang tersebut. Hal ini ternyata antisipasi terhadap suhu kota yang sangat panas ketika berkerja, sehingga diniatkan untuk melindungi kepala.
Untuk melihat persis bagaimana Urfa kuno, para penunjung bisa melanjutkan perjalanan ke daerah Harran. Tak jauh, sekitar 45 km dari pusat kota, di sini terdapat rumah-rumah batu yang masih ditempati sampai sekarang, dan masayarakat dengan gaya hidup tradisional yang belum terjamah modernisasi. Di sana juga masih bisa ditemukan unta yang masih terus berkembang biak.
Alkisah, Harran ini pernah disinggahi Nabi Ibrahim dan istrinya, Sarah, untuk bertani. Di sini juga ditemukan tulisan-tulisan kuno yang diduga peninggalan masa Mesopotamia. Kata Harran sendiri sebenarnya diambil dari kosa kata bahasa Arab yang berarti panas, ini mengacu pada kisah Nabi Ibrahim yang dibakar dengan api.
Menariknya, Harran masih menyimpan puing bangunan sejarah ratusan tahun silam yang masih berdiri kokoh hingga kini. Walaupun sebagian besarnya sudah roboh, namun sisa Harran University menggambarkan bahwa daerah ini adalah pusat keilmuan yang dulunya berkembang.
Menurut guide kami, Harran University adalah universitas pertama di Turki yang pada masa itu disebut madrasah karena bagian depannya digunakan untuk belajar-mengajar dan bagian belakangnya berupa masjid. Beberapa ilmuwan besar lahir di sini, namun tak terlalu terkenal seperti seorang sufi Syech Hayat B Kays dan Thabit Ibnu Qurra, pencetus ilmu kesetimbangan yang menurut sejarah lahir di Harran.
Harran menambah ruh baru bagi Sanliurfa modern. Seperti memberi gambaran jelas bagaimana para utusan Allah pernah mendiami kota ini. Sungguh kota penuh keberkahan, sehingga para pengunjung yang kian bertambah setiap harinya bisa terus melihat, bersyukur, dan mengambil hikmah dari setiap kisah anbiya yang terkandung di dalam Alquran.
[email penulis: syalla92@yahoo.co.id]
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |