Puisi

Pertemuan

semalam Tuhan membisikkan sebaris puisi pada seseorang yang tercampak di sudut peradaban

Editor: bakri

Karya din saja

semalam Tuhan membisikkan sebaris puisi
pada seseorang yang tercampak di sudut peradaban,
bangunlah insan yang sepi
sucikan diri, hadapkan hati, bercakaplah
sampaikan resah dengan kesabaran
meskai gemuruh menggelegar jiwa,
Dia menanti

malam yang berbisik
bergetar ketakberdayaan diri
mengalir berbaris-baris puisi, dari hati
membasahi sajadah selebar diri, tiada terperi
di langit embun menetes, subuh yang syahdu
di jiwa sejuk membekas
kebekuan yang mencair

semalam seseorang bercakap-cakap dengan Tuhan

Banda Aceh, April 1996

Kuda Bertekuk

setelah bersujud
mengembaralah
mencari Dia
dengan nama-Nya
bersama-Nya

dalam rinai matahari
harap mengombak rindu
duh, sembilu-Nya
menyayat luka
kuda yang tertatih

cinta kemarilah
agar irama kembali bernada
di ufuk sana
sepi menemani debu

dalam sujud
seekor kuda berpacu
meninggalkan waktu

Banda Aceh, 26 September 2013

Makan Sate

Aku lagi makan sate
pada sebuah restoran angkara murka.
Dagingnya dari tubuh manusia yang hidup di desa-desa,
di pinggiran hutan.
Tusuk satenya dari batang-batang kayu,
yang tumbuh di rimba-rimba belantara.
Minumannya juice darah dan air mata anak-anak desa,
yang kurus kering dan tidak sekolah.
Aku lagi makan sate bersama para penguasa dan cukong-cukong manca negara.
Kegemaranku makan sate dari tubuh orang-orang desa.
Mari makan sate bersamaku,
sambil mendengarkan irama rimba yang sunyi sendiri.

Banda Aceh, 8 November 2013

Tuhan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved