Serambi MIHRAB
Membumikan Dakwah Maulid
ACEH merupakan satu daerah di Indonesia yang memiliki tradisi khas dalam perayaan maulid (molod)
Oleh Adnan, S.Kom.I, Mahasiswa Magister Pendidikan Islam, Konsentrasi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) PPs UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
ACEH merupakan satu daerah di Indonesia yang memiliki tradisi khas dalam perayaan maulid (molod). Jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, Aceh termasuk daerah yang paling antusias dalam pelaksanaan perayaan maulid. Sehingga Aceh dan maulid bak dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Tradisi perayaan maulid di Aceh diharapkan dapat meningkatkan semangat (ghirah) masyarakat Aceh dalam membumikan sunnah-sunnah Nabi Muhammad saw.
Jika melihat beberapa daerah di Pulau Jawa, perayaan maulid biasanya dilaksanakan hanya pada 12 Rabiul Awal saja. Hal tersebut ditandai dengan adanya upacara Grebeg Maulud, seperti di Yogyakarta. Grebeg Maulud merupakan sebuah upacara bersyukur atas kelahiran Nabi Muhammad saw (Kanjeng Nabi) Sehingga bukti kesyukuran tersebut, mereka membagikan tumpeng terbuat dari buah-buahan dan sayur-mayur serta hasil rempah bumi lainnya kepada masyarakat sekitar. Bentuk ekspresi kegembiraan, masyarakat berduyun-duyun datang menyaksikan upacara. Diakhir acara masyarakat berebut hasil tumpengan tersebut untuk mendapatkan berkah.
Namun demikian berbeda dengan tradisi perayaan maulid di Aceh. Di Aceh perayaan maulid dilaksanakan selama empat bulan, yakni Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula dan Jumadil Akhir. Biasanya masyarakat Aceh menyebut dengan; molod phon, molod teungoh dan molod akhe. Selain itu model perayaan juga memiliki kekhasan tersendiri, seperti membaca zikir (meudike), dalail khairat (meudalae), makan bersama (khanduri), dan mengadakan dakwah pada malam hari.
Dakwah maulid di Aceh biasanya dilaksanakan di lapangan terbuka pada malam hari. Semua masyarakat baik anak-anak maupun orang dewasa ikut berpartisipasi untuk menyemarakkan dakwah maulid. Panggung dakwah maulid dihias sedemikian rupa menambah semarak dan meriah malam dakwah. Masyarakat mengundang dai untuk mengupas tentang sejarah kelahiran Nabi Muhammad saw dan nasihat-nasihat mulia untuk kebaikan masyarakat setempat.
Para dai pun ikut tampil membawakan dakwah dengan beragam gaya untuk menarik perhatian masyarakat. Sehingga dakwah maulid tidak jarang dikemas oleh para dai dengan humor dan lagu. Beberapa dai yang menjadi dambaan masyarakat dalam berdakwah, seperti Tgk Mulyadi M Jamil, Tgk Yusri Puteh, Tgk Mustafa Abdullah, Tgk Abdul Wahed dan lain-lain.
Cinta kepada Nabi
Dakwah maulid diharapkan dapat menambah keilmuan masyarakat, khususnya tentang sirah nabawiyah. Dengan itu diharapkan masyarakat semakin mengenal dan mencintai Nabi Muhammad saw. Sehingga dari sanalah diharapkan lahir masyarakat yang menghidupkan sunnah Nabi Muhammad saw dalam kehidupan bermasyarakat. Artinya, wujud cinta kepada Nabi tidak hanya sekedar seremonial acara maulid tanpa membumikan ajaran-ajarannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal tersebut menjadi penting agar masyarakat Aceh tidak hanya pada tahap mengenal Nabi semata, akan tetapi benar-benar mengamalkan sunnahnya. Minimal akan berdampak pada semakin banyak jumlah jamaah shalat fardhu di Masjid, Mushalla dan Meunasah di Aceh. Karena mendirikan shalat berjamaah bagian dari sunnah Nabi Muhammad saw. Dari jamaah shalatlah dapat mengukur seseorang cinta kepada Nabi ataupun tidak, karena shalat adalah tiang agama, yakni agama yang dibawakan para Nabi.
Dengan demikian, konstruksi paradigma masyarakat Aceh tentang perayaan maulid merupakan bagian dari bukti cinta kepada Nabi Muhammad saw, harus benar-benar diwujudkan dalam kehidupan riil bermasyarakat. Jangan sampai hanya mengukur cinta seseorang kepada Nabi Muhammad saw dengan perayaan maulid semata, namun sunnah-sunnahnya tidak menjadi perilaku keseharian masyarakat Aceh.
Oleh karena itu, dakwah maulid diharapkan tidak hanya sekedar hiburan dan acara seremonial semata. Namun maulid harus menjadi momentum untuk mengamalkan sunnah Nabi Muhammad saw dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, dakwah maulid diharapkan memberikan dampak positif kepada masyarakat baik secara kognitif, afektif maupun behavior.
Pertama, dampak dakwah maulid secara kognitif, masyarakat Aceh diharapkan dapat menambah pengetahuan (knowledge) tentang sirah nabawiyah. Pengetahuan tentang sirah nabawiyah menjadi penting mengingat Aceh merupakan daerah bersyariat Islam. Tentu ketika masyarakat memperdalam pengetahuan sirah nabawiyah dapat mengetahui tentang akhlak Nabi Muhammad saw terhadap sesama umat beragama dan antar umat beragama. Dengan itu diharapkan tidak muncul diskriminasi, anarkisme, main hakim sendiri atau pengadilan jalanan (street justice) dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Kedua, adapun secara afektif, masyarakat Aceh memiliki rasa simpati dan empati terhadap perjuangan dakwah pada masa awal Islam (as-Sabiq al-Awwalun). Sehingga muncul komitmen dalam setiap diri masyarakat Aceh untuk mempelajari dan mengembangkan dakwah Islam di masa depan. Selain itu, dengan mengetahui perjuangan dakwah Nabi dan para sahabat pada masa awal, umat Islam akan lebih bangga dengan keislamannya.
Ketiga, sedangkan dampak secara behavior, dengan dakwah maulid diharapkan masyarakat Aceh dapat membumikan seluruh ajaran Nabi. Menurut penulis, membumikan ajaran Nabi dalam kehidupan bermasyarakat harus menjadi misi utama dalam perayaan maulid setiap tahun. Sehingga setiap tahun kehidupan bermasyarakat di Aceh akan semakin baik. Dengan harapan masa kejayaan Islam di Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda dalam berbagai bidang, baik bidang pendidikan, sosial budaya, agama, politik dan lainnya dapat dikembalikan pada era modern saat ini.
Sirah Nabawiyah
Di samping itu, para dai diharapkan dapat mengembangkan materi dakwah maulid sesuai dengan perkembangan zaman (modern). Hal tersebut seperti cerita sirah nabawiyah. Sejarah tersebut harus dapat dikontekstualisasikan oleh para dai dalam menyampaikan materi dakwah maulid. Sehingga pemahaman sirah nabawiyah masyarakat dapat berkembang sesuai zaman. Hal ini menjadi penting khususnya bagi pendengar pemuda-pemudi Aceh.
Oleh karena itu, diharapkan cerita sirah nabawiyah tidak ‘hanya’ berkutat pada sebutan-sebutan klasik seperti Syam. Syam merupakan salah satu daerah tujuan dagang Nabi Muhammad saw pada usia muda. Namun di peta dunia saat ini, Syam sudah merujuk ke beberapa negara di Timur Tengah, seperti Suriah, Lebanon, Yordania dan Palestina. Memperkenalkan Syam dengan negara-negara tersebut diharapkan dapat menambah empati masyarakat Aceh terhadap kaum muslimin sedunia. Tambah lagi, konflik yang mendera beberapa negara di Timur Tengah belum usai, seperti Palestina.