Selasa, 9 Juni 2026

PDIA Pindah ke Kompleks Museum Aceh

Sejak 2013, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) menempati alamat baru yaitu Kompleks Museum Aceh

Tayang:
Editor: bakri

BANDA ACEH - Sejak 2013, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) menempati alamat baru yaitu Kompleks Museum Aceh di Jalan Sultan Alaidin Mahmud Syah. Sedangkan lokasi yang lama yaitu di Jalan Prof A Madjid Ibrahim dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM).

“Pemerintah mungkin punya alasan tersendiri terkait dengan kebijakan itu. Memang lokasi yang dulu lebih mudah diakses, namun yang sekarang karena berada satu kompleksdengan Museum Aceh jadi pengunjung yang datang melihat budaya Aceh dalam bentuk fisik juga bisa sekalian datang ke PDIA untuk mengetahui sejarahnya,” kata Direktur PDIA, Dra Zunaimar menjawab Serambi di Banda Aceh, Jumat (27/3).

Saat ini PDIA melayani pengunjung yang datang ke perpustakaan setiap hari kerja dari Senin-Sabtu mulai pukul 08.00-16.30 WIB. Selain itu PDIA juga membuka perpustakaan digital dengan alamat pustaka.pdiaaceh.org dan website www.pdia-aceh.org. Koleksi PDIA yang berdiri sejak 1977 mulanya berjumlah 2.000-an baik berupa buku, digital, dan manuskrip.

Kini koleksinya bertambah masing-masing manuskrip sebanyak 993 naskah, e-book sebanyak 657 judul, buku 1.610 judul (3.117 eksemplar), buku langka 781 judul (cetak dan digital), foto sebanyak 1.275, peta sebanyak 352, dan dokumen sebanyak 8.080 (termasuk kepemilikan tanah bekas tsunami). “Untuk perpustakaan digital pengunjung bisa baca full text dan bisa juga men-download,” terang Zunaimar.

Ia menambahkan koleksi PDIA habis disapu tsunami pada akhir 2004. Pengadaan kembali dilakukan pihaknya baik dengan cara hibah, membeli, dan menduplikat. Secara garis besar koleksi PDIA mempunyai tema yaitu sejarah, budaya, kesenian, dan agama. Penulisnya terdiri dari penulis dalam dan luar negeri, termasuk bukubuku dalam Bahasa Belanda.

Saat ini pihaknya mencanangkan program e-manuskrip serta menginventarisir manuskrip khususnya dari barat-selatan Aceh. “Pendidikan berkarakter bukan barang baru bagi orang Aceh sehingga keberadaan PDIA itu penting agar generasi muda mengenal dan bangga menjadi Aceh. Pemerintah harusnya serius sehingga kita tak kehilangan jati diri,” demikian Zunaimar.(rul)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved