Puisi

Airmata

airmata ini seperti lebah pulang ke rumah madu di ujung cabang tertinggi dalam senyap sepi

Editor: hasyim

D Kemalawati

Airmata

airmata ini seperti lebah
pulang ke rumah madu
di ujung cabang tertinggi
dalam senyap sepi
dengan sayap embun
mewarnai daun
airmata ini
biar menggenang di sari bunga
biar matahari dan bulan merawatnya
biar bila kering muasalnya
basah balam cahaya-Nya

Banda Aceh, Februari 2015

Nyanyi Itu

ada yang bernyanyi dalam kegelapan
sangat lembut dan senyap
hanya daun-daun
hanya pucuk-pucuk rumput
yang merasakan getarnya
ada yang menyanyi dalam kegelapan
sangat lembut dan senyap
hanya angin
hanya awan
yang merasakan gemanya
ada yang menyanyi dalam kegelapan
sangat lembut dan senyap
hanya daun-daun
hanya pucuk-pucuk rumput
hanya angin
hanya awan
merasakan getar dan gemanya
nyanyi itu
begitu halus
begitu sayup
menyusup nadiku
menuju kalbu

Banda Aceh, 2 Februari 2015

Waktu

Waktu seperti derai cemara
bergelimang di pasir pantai
angin menyatukan dalam dekapan
dalam sunyi dan kering

ombak hanya memainkannya di tepian
meski batas cakrawala menebar jala
bersama angin
saat ajal menjelma

waktu seperti awan
berarak diam-diam
setelah hitam kelam
ia hanya hujan
hujan yang hutan

waktu seperti pelangi
indah berwarna warni
sesaat melingkari
tak abadi

Banda Aceh, 8 Maret 2015

Mata Api Matamu

aku tak peduli lagi kata-katamu
kau sendu tatkala gerimis dan bulan
jatuh di dermaga, di atas riak kerudungku
di derai angin layu
kelak kala gelap malam
kau bakar asaku
di antara daun kering

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved