Bus New Aceh Tengah Kian Mewah
Perusahaan bus tertua di Dataran Tinggi Gayo, di bawah manajemen baru, PT New Aceh Tengah telah meluncuran enam
JAKARTA - Perusahaan bus tertua di Dataran Tinggi Gayo, di bawah manajemen baru, PT New Aceh Tengah telah meluncuran enam armada baru untuk melayani trayek Takengon-Medan pulang pergi awal Mei 2015 silam.
Angkutan umum ini yang sempat vakum selama 20 tahun, kini kian mewah, baik body mobil maupun interiornya yang dilengkapi berbagai fasilitas untuk memberi kenyamanan kepada penumpang. Direktur PT New Aceh Tengah, Alfiansyah, mengatakan, armadanya akan mengisi jalur yang terbilang gemuk, Takengon-Medan dan Medan - Takengon.
“Kehadiran kami melengkapi pelayanan transportasi masyarakat Gayo menuju Medan dan sebaliknya,” kata Alfiansyah , ketika singgah di Jakarta dari perjalanan Madiun Jawa Timur menuju Takengon , Selasa (12/5). Karoseri bus tersebut dikerjakan di Madiun.
Di menjelaskan sebelum 1999, bus Aceh Tengah adalah primadona bagi masyarakat Gayo. Meski ketika itu, busnya tidak terlalu “mewah” masyarakat lebih memilih menggunakan jas Aceh Tengah. “Karena ada tertitip rasa bangga dan memiliki,” kata H Khairuddin yang akrab dipanggil Mahlul, bekas Kepala Stasiun Bus Aceh Tengah di Medan, saat berbicara dengan Serambi, Jumat (5/6).
Seiring waktu, Aceh Tengah kemudian “mati.” Jumlah bus terbatas. Pada masa konflik Acrh, bus Aceh Tengab ikut dibakar. Sejak peristiwa pembakaran tersebut, Aceh Tengah benar-benar mati. Kata Mahlul, pernah ada usaha dibangkitkan kembali dengan mengundang investor baru, tapi tampaknya tak bisa jalan juga karena berbagai persoalan yang sangat kompleks.
“Kalau kemudian sekarang muncul PT New Aceh Tengah, merupakan kebanggan masyarakat Gayo. Ada rasa memiliki. Saya yakin, manajemen baru bari ini mendapat dukungan penuh. Di dalamnya ada pesan-pesan budaya yang kuat,” lanjut Mahlul yang sekarang mengembangkan bisnis ekspedisi darat yang berkantor pusat di Medan.
Manajemen baru PT. New Aceh Tengah menggunakan bus merk Marcedez Benz seri OH 2626 keluaran 2015, karoseri dikerjakan oleh perusahaan karoseri Gunung Mas, Madiun, Jawa Timur. Tahap pertama telah rampung dua unit bus. Menyusul dua unit lagi pada bulan berikutnya dan dua unit terakhir pada bulan berikutnya lagi.
Alfiansyah, Direktur Operasional PT New Aceh Tengah menyebutkan akan ada beberapa fasilitas yang disiapkan, yaitu kelas “Super Eksekutif, Patas Eksekutif” dan “Eksekutif.” Kelas Eksekutif dilengkapi fasilitas interior yang lebih mewah, jok lebar dan super, toilet, televisi, wifi, dan colokan listrik untuk telepon.
Jumlah tempat duduk 32 kursi, ditambah lima tempat duduk di area boleh merokok atau “smoking area.” Khusus Super Eksekutif menggunakan tempat duduk 2-1. Meski diembel-embeli “New Aceh Tengah,” menurut Alfian, histori bus tetap mengakar pada usaha yang dirintis oleh para pendahulu sebelumnya. “Kami ingin melanjutkan kisah itu, kiranya memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Alfiansyah.
Sementara itu, manuskrip riwayat PT Aceh pernah ditulis oleh salah seorang mantan direktur perusahaan itu, almarhum HM. Kasim Amin. Dalam manuskrip tersebut tercatat, bahwa perusahaan bus PT Aceh Tengah lama didirikan pada 6 November 1946, persis empat belas bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Didirikan dalam sebuah rapat anggota pendiri atau perintis di Mersah (meunasah) Pendidikan Islam (PI) Takengon. Gagasan pendirian perusahaan ini dicetuskan antara lain oleh Haji Mahmud, Toke Mhd. Sabil, Tgk Abdul Djalil, Aman Umang dan lain-lain. Penasehat ahli Chalidin Abubakar, dan Kali Abubakar. Di awal berdiri, Presiden Komisaris dijabat Haji Mahmud, dan pimpinan perusahaan Toke Mhd. Sabil, salah seorang saudagar kain di Takengon.
Tapi setahun kemudian, pimpinan perusahaan dipegang oleh Haji Mahmud sampai akhir hayatnya 1967. Tokoh-tokoh pendiri perusahaan Aceh Tengah tersebut merupakan bekas anggota kongsi Gayo, merupakan satu-satunya perintis perkongsian masyarakat Gayo yang pertama.
Setelah kepemimpinan Haji Mahmud, PT Aceh Tengah kemudian berturut-turut dipimpin oleh Tgk Abdul Djalil, HM, Kasim Amin, H Ali Hasan Rady, M Irsyaduddin dan M.Kudus Arba, lain-lain.
Di awal berdirinya, bidang usaha yang digarap oleh perusahaan tersebut adalah perdagangan. Pemegang saham perdana berjumlah 329 orang, terdiri dari para petani dan masyarakat umum. Perusahaan ini didirikan untuk mengisi pembanguna, mengingat Indonesia baru saja merdeka.
Nama Aceh Tengah sendiri dikibarkan menjadi nama perusahaan sebagai wujud meningkatkan harkat dan martabat Gayo. Logo perusahaan berbentuk “gunung tige” atau “gunung tiga” mewakili Kewedanaan Takengon, Kewedanaan Belangkejeren, dan Kewedanaan Alas, yang ketika itu berada dalam satu wilayah administrasi Kabupaten Aceh Tengah.
Pembelian mobil pertama Aceh Tengah berupa truk Chevrolet ukuran tiga ton ditukar dengan beras sebanyak 25 ton. Dibeli dari Batalyon XII ABRI dari Kuala Simpang. Untuk penukaran ini diutus pegawai satu-satunya ketika itu, M. Kasim Amin dan sopir M.Adam ke Kuala Simpang. Truk kedua dibarter dengan tembakau dan kopi, juga ukuran 3 ton merk Dodge. Truk ini digunakan untuk angkutan hasil bumi dari Takengon ke Bireuen. Sejak itu, perusahan terus berkembang dengan membeli mobil angkutan umum melayani trayek Takengon-Bireuen, Takengon-Medan, Takengon- Banda Aceh pp dan trayek antarkecamatan di Aceh Tengah.
Perusahaan sempat mengalami pasang surut dan terakhir tidak lagi beroperasi sejak konflik Aceh. Sebuah bus milik perusahaan ikut jadi korban dengan cara dibakar. Dan kini, generasi pengusaha muda Gayo, Alfiansyah dan saudara-saudaranya, mencoba bangkit dengan mendirikan PT New Aceh Tengah. “Kami ingin bangkit dari tidur panjang. Doakan kami, dan sambutlah kami,” kata Alfiansyah yang pernah menjadi sopir angkutan umum dan pengusaha konstruksi dan leverensir. Perusahaan lahir dengan jiwa dan semangat baru. Sebab bagaimanapun, PT Aceh Tengah pernah begitu sangat lekat di hati masyarakat Gayo.(fik)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/new-aceh-tengah_20150607_071828.jpg)