Puisi

NAMAKU ROHINGYA (1)

Namaku Rohingya Tak pernah minta dilahirkan di negeri mana

Karya Mohd. Harun al Rasyid

Namaku Rohingya
Tak pernah minta dilahirkan di negeri mana
Tapi Tuhan melabuhkanku di Burma
Di tanah yang indah memesona

Ratusan tahun udara bersih
Air jernih mengalir di mana-mana
Tumbuhanku berbuah dengan lebatnya
Ikan-ikanku berbiak leluasa
Tuhan menyayangiku, kurasa
Karena aku manusia, tiada beda

Namaku Rohingya
Negara mencapku pendatang hina
Bukan manusia yang pantas bernegara
Karena itu, atas perintah penguasa
Tempat tinggalku boleh dihancurkan
Anak dan istriku boleh diperkosa
Dicincang dan digorok lehernya
Dengan gergaji tumpul karatan
Lalu dilemparkan ke api berkobar
Aku hanya menatap dalam gigil terpendam
Dalam tawa mereka yang menggelora

Namaku Rohingya
Terusir dari tanah Tuhanku
Yang dipinjamkan kepada umat manusia
Aku coba lari sekencang-kencangnya
Dari hasutan, intimidasi, dan siksaan
Namun, tentara berselubung milisi mencekikku
Aku tak bisa berkata apa-apa
Ratusan tahun lamanya
Ketika aku sembuh dan bicara apa adanya
Di tengah badai api dan hujan peluru
Dunia diam saja
Malah banyak yang tertawa
Seperti rezim yang menganggapku iblis
Yang harus dibabat habis

Namaku Rohingya
Di laut dikejar dan ditenggelamkan
Berbulan tanpa makanan dan minuman
Dibakar mentari, disirami hujan
Daki berlapis kulit di badan
Jika ada bantuan datang
Aduh, dilemparkan ke laut dalam
Dengan sisa tenaga aku berenang dan menyelam
Untuk memperoleh sepotong roti dan air bersih
Banyak saudaraku mati dibawa arus
Habis tenaga saat menggenggam makanan
O, Tuhan!

Namaku Rohingya
Diusir dan dihalau ke sana kemari
Di negeri tetangga dan negeri sendiri
Hanya sedikit yang membuka hati
Merekalah sahabat malaikat rahmat
Yang punya empati

Namaku Rohingya
Bermohon padamu, saudaraku
Terimalah aku sebagai manusia
Bebas menyembah Tuhan yang kuimani
Bebas menjadi tentara bangsa
Berhak membela negara tempat aku berada

Jangan katakan lagi:
“Matilah Rohingya
Bangsa durjana”
Itu sungguh mengiris jiwa
Yang sedang galau menderita

Namaku Rohingya
Merindukan saudaraku senegara
Mencintaiku tanpa prasangka!

Banda Aceh, 3 Juni 2013

* Mohd. Harun al Rasyid, sastrawan dan dosen FKIP Unsyiah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved