Kamis, 4 Juni 2026

Ramadhan Mubarak

Ulama Pewaris Nabi

KATA ulama, jama’ dari ‘alim, berarti “orang yang memiliki ilmu”. Para ulama dalam khazanah ilmu dan peradaban Islam

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Drs. Tgk. H. Ghazali Mohd. Syam Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh

“Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Dardara)

KATA ulama, jama’ dari ‘alim, berarti “orang yang memiliki ilmu”. Para ulama dalam khazanah ilmu dan peradaban Islam, menempati posisi terhormat, sejak dulu sampai sekarang ini. Keberadaan mereka tidak bisa dipisahkan dengan umat, karena ulama senantiasa memberi fatwa dan taushiah, tempat umat bertanya. Mereka adalah orang-orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabb, agama dan Rasul-Nya, sesuai bunyi hadis di atas. Mereka adalah sederetan orang yang akan menuntun umat kepada cinta dan ridha Allah, menuju jalan yang dirahmati yaitu jalan yang lurus.

Oleh karena itu, ketika seseorang melepaskan diri dari mereka berarti dia telah melepaskan dan memutuskan tali yang kokoh dengan Rabb-Nya, agama dan Rasul-Nya. Ini semua merupakan malapetaka yang dahsyat yang akan menimpa individu ataupun sekelompok orang Islam. Berarti siapapun atau kelompok manapun yang mengesampingkan ulama pasti akan tersesat jalannya dan akan binasa.

Di samping sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, Allah Swt menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Oleh karena itu, kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagikaum muslimin. Rasulullah saw, mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amribnul ‘Ash:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan mewafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alimpun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari maksud hadis di atas, jelas bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan, meneruskan misi Rasul dan para nabi. Misi para Rasul adalah amanah, shiddiq, tabligh dan fathanah. Dalam hubungan ini, Allah Swt berfirman: “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (QS. Fathir: 32)

Sehubungan ayat tersebut, Ibnu Katsir menyatakan: Allah Swt berfirman: “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Quran) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 577)

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At-Tirmidzi)

Semakin langka
Hari-hari ini, semakin membuat diri kita khawatir, para ulama Rabbani semakin langka. Kebodohan demikian merajalela, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.

Dulu, di saat ilmu agama menguasai peradaban manusia dan ulama terbaik tampil memandu perjalanan hidup mereka, para pelaku kesesatan dan kebatilan seolah-olah tersembunyi di balik batu yang berada di puncak gunung dalam suasana malam yang gelap gulita. Namun ketika para penjahat agama tersebut melihat peluang, mereka pun dengan sigap memanfaatkan peluang tersebut, turun dari tempat “pertapaan” mereka dan menampilkan diri seakan-akan mereka adalah para “penasihat yang terpercaya.”

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk mengobrak-abrik kekuatan dan keyakinan kaum muslimin. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam keterlenaan, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak, gugur dalam amukan kesesatan tersebut. Para guru dengan merasa aman menggandeng tangan murid-muridnya menuju kegagalan hidup. Sementara orang tua dengan bangga melihat anaknya berjalan di tepi jurang menuju kehancuran dan kebinasaan.

Di masa-masa sekarang ini, gambaran kebenaran menjadi kejahatan yang harus dilabrak dan dihanguskan, sunnah Rasulullah saw, menjadi bid’ah yang harus di kubur. Tauhid menjadi lambang kesyirikan yang harus ditumbangkan dengan segala cara. Situasi dan kondisi kini telah berubah. Para pengikut kebenaran menjadi asing di tengah-tengah kaum muslimin. Kebatilan menjadi al-haq dan al-haq menjadi batil, berikut terasingnya orang yang bertauhid dan mengikuti sunnah. Di sinilah letak “kehebatan” para penyesat dalam mengubah kebenaran hakekat agama, sehingga kaum muslimin menjalankan agama ini bagaikan robot yang berjalan membawa anggota badannya.

Namun Allah Swt Maha Penyayang terhadap para hambaNya, tidak akan membiarkan para pelaku dan penyebar kesesatan itu merusak agama dan menyesatkan mereka secara menyeluruh. Allah Swt telah berjanji dalam Kitab-Nya dan dalam Sunnah RasulNya untuk menjaga agama-Nya. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan ad-Dzikri (Alquran) dan Kami pula yang menjagannya.” (QS. Al-Hijr: 9). Firman Allah dalam surah lainnya: “Mereka berkeinginan memadamkan cahaya (agama) Allah dan Allah tetap akan menyempurnakannya walaupun orang-orang kafir itu benci.” (QS. Ash-Shaff: 8).

Para ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Mereka adalah pewaris para nabi untuk mengemban misi dakwah Islam kepada segenap manusia. Baik dan buruknya suatu generasi, suatu kaum, suatu bangsa, suatu negeri, atau suatu lapisan masyarakat tergantung sejauh mana para ulama menjalankan perannya sebagai penegak amarakruf dan nahi munkar serta pelanjut dakwah para Nabi di jagat raya ini. Hanya saja yang takut kepada Allah adalah para ulama. Wallahu a’lamu bish-shawab. (email: mpu@acehprov.go.id)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved