Jumat, 1 Mei 2026

Menggapai Puasa Sehat

8 Gelas Air Putih Menjaga Hidrasi Tubuh

Kita imbau masyarakat tidak mengurangi asupan air putih minimal delapan gelas sehari.

Tayang:
Penulis: Muslim Arsani | Editor: Faisal Zamzami
Getty Images
Ilustrasi 

Laporan: Ansari Hasyim | Banda Aceh

SEJUMLAH jamaah tampak berbaring di lantai Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (27/6/2015) lalu. Beberapa di antaranya saling berbicara dan duduk lesehan sambil membaca Alquran.

Masjid yang dibangun pada tahun 1621 itu menjadi tempat favorit warga beristirahat di tengah Kota Banda Aceh diselimuti suhu panas sejak dua pekan terakhir. Di masjid itu juga jamaah menghabiskan hari selama Ramadhan dengan berbagai aktivitas ibadah.

"Sejak awal puasa saya lebih banyak beristirahat di sini (masjid-red) dan mengurangi aktivitas dari biasanya, " kata Rinaldi (25), salah satu jamaah yang ditemui Serambinews.com.

Rinaldi punya banyak waktu luang karena selama puasa warung kopi tempatnya bekerja hanya buka pada malam hari. Di kala senggang, ia memilih masjid Raya Baiturrahman sebagai tempat istirahat sekaligus mengisinya dengan ibadah.

Dua rekannya, Mukhlis (23) dan Taufiqurrahman (26) juga melakukan hal yang sama.

"Kalau di luar suhu udara terasa gerah. Lebih banyak beristirahat untuk saat ini mungkin lebih baik," kata Mukhlis, mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Sejak memasuki awal Ramadhan suhu udara di Banda Aceh naik drastis. Banyak warga kota memilih berdiam di rumah dan masjid.

"Bahkan di kamar pun terasa gerah jika tidak dibantu dengan kipas angin," tutur Aira Munirah (22), warga Lampriet, Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh.

Meningkatnya suhu udara di Aceh sudah diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

BMKG Stasiun Blang Bintang Aceh Besar dalam situsnya Minggu (5/7/2015) merilis suhu udara maksimal di Kota Banda Aceh mencapai 35 derajat celsius. Kenaikan suhu panas ini dirasakan hampir merata di semua daerah.

Di Kota Sabang suhu panas yang melanda wilayah itu berkisar 32-34 derajat celsius, mulai terasa sejak pagi hingga sore. Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Juli 2015.

Demikian pula untuk wilayah barat-selatan antara 34-35 derajat celsius. Sedangkan di wilayah tenggara, suhu mencapai 32-34 derajat celsius.

“Penyebab suhu panas saat ini lebih karena karakteristik monsunal. Dari data selama 30 tahun terakhir, bulan Juni dan Juli inilah curah hujannya yang paling minim di Aceh,” kata Prakirawan BMKG Banda Aceh, Nasrol Adil, kepada Serambinews.com, Rabu (1/7/2015).

Kehilangan cairan
Suhu panas yang melanda Aceh dalam dua pekan terakhir terjadi di tengah umat muslim menjalankan ibadah puasa.

Dampaknya, banyak warga merasakan gerah dan kehilangan cairan tubuh akibat suhu panas yang melanda. Terlebih lagi, mayoritas umat muslim yang berpuasa tidak makan dan minum selama 14 jam.Kondisi ini semakin memicu tubuh mengalami dehidrasi.

Dehidrasi adalah kondisi dimana tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang didapatkan sehingga tubuh tidak punya cukup cairan untuk menjalankan fungsi normalnya.

Pakar Fisiologi yang juga anggota Indonesian Hydration Working Group (IHWG) dr Ermita Ilyas Ermita seperti dikutip Kompas.com, Jumat (29/5/2015) mengungkapkan, udara yang sangat panas akan membuat kelembaban tubuh menjadi rendah. Cairan dalam tubuh pun menguap dan mengeluarkan panas.

Ermita mengatakan dehidrasi ringan ditandai dengan rasa haus, mulut kering, dan tubuh lemas. Beberapa indikator lain juga menyebabkan hilangnya fokus dan konsentrasi.
Pada tingkat yang cukup parah, dapat menyebabkan penderitanya pingsan dan suhu tubuh tinggi.

Kekurangan cairan juga dapat terjadi pada seorang yang tengah berpuasa. Terlebih jika suhu udara panas, pengeluaran cairan dari dalam tubuh makin besar melalui keringat dan penguapan.

Air bagi tubuh
Berbagai penelitian menyebutkan air merupakan komponen paling esensial dalam tubuh manusia.

Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr Masaru Emoto menguraikan, secara keseluruhan tubuh manusia terdiri atas 75% air. Sementara 74,5% otak juga terdiri atas air. Demikian pula dengan darah, 82% berisi air. Bahkan tulang yang keras pun mengandung 22% air.

Dalam kasus orang yang berpuasa, asupan air putih sangat penting untuk menjaga tubuh senantiasa terhidrasi (cukup cairan) dan menunjang organ berfungsi dengan baik. Sebab selama 14 jam berpuasa tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman apapun. Sehingga jika asupan air putih tidak mencukupi sesuai kebutuhan, maka tubuh akan mengalami dehidrasi.

"Sebetulnya dehidrasi bisa dihindari selama kita mengonsumsi air putih yang cukup. Air putih punya peran yang sangat sentral dalam tubuh sebagai media pengangkut nutrisi, vitamin dan zat esensial lainnya ke dalam tubuh," kata dr Husna MPH, Kepala Bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Dalam kondisi hari biasa, minum air putih dapat dilakukan kapan saja saat tubuh membutuhkan.

Berdasarkan rekomendasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tubuh tetap memerlukan asupan air putih sebanyak delapan gelas atau setara dua liter setiap hari.

Menurut dr Husna, sedangkan untuk orang berpuasa jumlah asupan air putih pada dasarnya tetap sama seperti hari biasa yakni delapan gelas per hari. Hanya saja bagi orang berpuasa, asupan air putih dilakukan secara terpola dan terjadwal.Sebab, orang yang berpuasa tidak makan dan minum sejak sahur hingga waktu berbuka.

Karena itu, kata dr Husna, untuk mencukupi asupan cairan dalam tubuh selama puasa dapat disiasati dengan menerapkan pola minum air putih 2+4+2. Yaitu saat berbuka minum dua gelas. Kemudian saat makan malam hingga menjelang tidur minum empat gelas.

“Dua gelas yang terakhir bisa diminum saat sahur, jadi cairan yang hilang pada siang hari bisa diganti pada malam. Diminum secara terjadwal, bukan diminum sekaligus karena bisa memberatkan fungsi ginjal,” ujarnya.

Strategi minum air putih dengan pola 2+4+2 ini juga diperkenalkan Danone AQUA, selaku pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) pertama di Indonesia. Pola asupan air putih 2+4+2 ini adalah cara sederhana agar selama berpuasa tubuh senantiasa terhidrasi.

"Kita imbau masyarakat tidak mengurangi asupan air putih minimal delapan gelas sehari. Selama berpuasa, masyarakat juga perlu memperhatikan pola makan sehat dan seimbang," ujar dr Husna.

Menurutnya kebutuhan cairan bagi setiap orang tidak sama.

“Jika mereka yang beraktivitas lebih banyak atau bekerja di luar ruangan, kebutuhannya bisa lebih. Jadi tergantung aktivitas apa yang dilakukan. Tapi asupan standarnya ya itu tadi, delapan gelas atau setara dua liter setiap hari,” ujar dosen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Unsyiah itu.

dr Husna menjelaskan air putih adalah cairan yang paling alami untuk menghidrasi tubuh. Air putih tidak mengandung pemanis (kalori), pewarna, ataupun pengawet (presertative).

Beberapa fungsi lainnya, air putih juga dapat memperlancar proses pencernaan, penyerapan, transportasi nutrisi, sirkulasi, mengeluarkan zat sisa metabolisme, produksi air ludah, dan mempertahankan suhu tubuh.

dr Husna memaparkan di tengah kondisi suhu udara panas seperti Banda Aceh, sangat berpotensi mengalami dehidrasi. Sebab itu tubuh membutuhkan cukup cairan agar organ bekerja maksimal.

Namun sayangnya, kata dr Husna, selama ini ada kecenderungan masyarakat kurang memahami kegunaan air putih bagi kesehatan.

"Saya kira belum semua masyarakat kita memahami. Kebanyakan mereka hanya tahu makanan pokok saja seperti nasi yang mengandung karbohidrat. Padahal air putih sangat penting bagi tubuh manusia. Ini semata karena ketidaktahuan mereka," ujarnya.

Asupan seimbang
Menurut dr Husna, selain air putih, selama berpuasa penting juga menjaga makanan. Makanan yang dianjurkan haruslah sehat dan bergizi seimbang dengan komposisi karbohidrat, protein, nutrisi, vitamin dan mineral.

Untuk memperoleh protein, bisa dengan mengonsumsi makanan seperti tempe, tahu, telur, dan daging. Sedangkan untuk memperoleh vitamin, bisa dengan mengonsumsi buah-buahan dan sayuran. Sementara untuk memperoleh lemak jenuh bisa dengan minum susu.

"Selama puasa ada baiknya perbanyak makan buah yang mengandung air karena bermanfaat untuk menggantikan cairan yang berkurang," ujarnya.

Terlalu banyak mengonsumsi makanan berkarbohidrat dan manis selama puasa juga tidak baik untuk kesehatan.Terlebih bagi mereka yang punya riwayat penyakit gula, sebaiknya harus selektif memilih makanan.

Misalkan, ada baiknya makan nasi merah saat sahur dan berbuka. Sebab, kata dr Husna, nasi merah memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih. Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan glukosa darah dari karbohidrat yang tersedia dalam suatu makanan.

"Jadi bukan berarti orang yang punya penyakit diabetes tidak boleh berpuasa. Tapi alangkah baiknya misalkan nasi putih diganti dengan nasi merah saat sahur dan berbuka," ujarnya.

dr Husna juga memaparkan beberapa tips agar tubuh tetap terhidrasi dan fit selama berpuasa. Hal pertama yang dianjurkan adalah mencukupkan asupan cairan dalam tubuh. Bisa memulainya dengan menerapkan pola minum air putih 2+4+2.

Saat berbuka hindari minuman dingin karena akan membuat lambung shock dan lamban bekerja. Disarankan minumlah air putih hangat secukupnya saat berbuka. Jika ingin menambah, maka bisa dengan minuman manis yang tidak terlalu banyak. Karena jika terlalu banyak, zat yang tidak dibutuhkan tubuh bisa mengendap dan menumpuk karena tidak habis terserap. Hindari juga minum di antara waktu makan.

"Minumlah setelah makan. Jangan minum saat sedang makan. Kebiasaan ini tidak baik bagi proses pencernaan," ujarnya. Olahraga juga tetap dianjurkan, tapi tidak dengan aktivitas berlebihan selama puasa karena bisa berakibat dehidrasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh dr Media Yulizar MPH mengatakan, memenuhi standar asupan air putih memang telah lama menjadi anjuran pemerintah.

Departemen Kesehatan RI dalam Buku Pedoman Umum Gizi Seimbang (1995) menyatakan minuman yang cukup danaman untuk penduduk usia remaja dan dewasa, yaitu dua liter atau delapan gelas air per hari.

Sementara itu, penelitian THIRST (The Indonesian Regional Hydration Study) tahun 2009 yang dipimpin Prof Dr Ir Hardinsyah MS dan disponsori Grup Danone mengungkapkan 46,1% penduduk Indonesia usia remaja dan dewasa mengalami dehidrasi ringan.

Rata-rata asupan air subjek penelitian yang tidak mengalami dehidrasi adalah 2,3 liter yang 80% di antaranya diperoleh dari air putih dan sisanya dari sumber air lainnya (makanan dan minuman).

Menurut dr Media, hanya saja selama ini anjuran pemerintah soal asupan air putih minimal dua liter per hari ini belum sepenuhnya dipraktikkan masyarakat.

"Apalagi di bulan puasa kebutuhan cairan bagi tubuh harus menjadi perhatian lebih, karena asupan air selama puasa berbeda dengan hari biasa," katanya.

Menurut dr Media, pemerintah juga terus berusaha melakukan sosialisasi tentang manfaat air putih bagi kesehatan.

“Sampai sekarang masih banyak masyarakat yang tidak tahu. Padahal air putih ini murah dan sangat mudah diperoleh," tambah Kadis Kesehatan Kota Banda Aceh itu.

Tentu saja, semakin sadar masyarakat terhadap pentingnya air putih untuk kesehatan, maka akan semakin mengurangi angka penduduk Indonesia yang bermasalah dengan kesehatan, terutama karena faktor dehidrasi.

Sehingga ibadah puasa pun dapat terlaksana sempurna, sampai tibanya hari kemenangan. (*)

Tags
Ramadhan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved