Rabu, 8 April 2026

Ramadhan Mubarak

Otentik Ibadah Rasulullah Terjabarkan dalam Mazhab

MARI kita bersyukur kepada Allah yang telah memilih kita manusia sebagai ciptaan terbaik-Nya dan menjadikan

Editor: bakri

Oleh Tgk. H. Faisal Ali, Wakil Ketua MPU Aceh dan Ketua PWNU Aceh

MARI kita bersyukur kepada Allah yang telah memilih kita manusia sebagai ciptaan terbaik-Nya dan menjadikan kita sebagai umat Muhammad saw, Nabi yang paling mulia dan paling dicintai oleh Allah Swt, dan yang menjadikan kita sebagai umat Islam, pengikut agama yang kuat, indah, dan sempurna. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh agama mana pun. Satu keistimewaannya adalah bahwasanya Islam merupakan satu-satunya agama yang bersifat universal; artinya diturunkan untuk seluruh umat manusia dan jin, di mana pun dan kapan pun mereka berada. Universalitas Islam termaktub dalam Firman Allah: “Katakanlah, hai manusia, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kamu semua.” (Al-A’raf: 158).

Wahyu dan sejarah telah membuktikan bahwa Islam dan Alquran diturunkan untuk seluruh bangsa di dunia, tidak hanya untuk bangsa Arab semata. Manusia merupakan ciptaan sempurna dan berbeda dengan ciptaan Allah yang lain, kalau seadainya tidak dihiasi dengan ibadah maka manusia itu sama saja dengan hewan-hewan yang lain. Alquran sendiri juga menyatakan bahwa manusia memang merupakan makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah Swt, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 4)

Hanya ibadahlah yang telah mengangkat manusia dari derajat hewaniyah kepada derajat insaniyah. Sebagai bahagian dari ciptaan terbaik-Nya, Allah menghiasi manusia dengan berbagai macam ibadah.Manusia tidak sempurna dan tidak jauh berbeda dengan ciptaan Allah yang lain kalau seadainya tidak ada ibadah.

Ibadah secara etimologi berasal dari kata bahasa Arab yaitu abida-ya’budu-‘abdan-‘ibaadatan yang berarti taat, tunduk, patuh dan merendahkan diri. Semua pengertian itu mempunyai makna yang berdekatan. Seseorang yang tunduk, patuh dan merendahkan diri dihadapan yang disembah disebut abid (yang beribadah).

Menurut ahli fiqih ibadah adalah: “Segala bentuk ketaatan yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharapkan pahala-Nya di akhirat.” Dari pengertian yang dikemukakan oleh ahli fiqih di atas “Ibadah adalah semua yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah dan mengharapkan pahala-Nya.”

Setiap muslim tidak hanya dituntut untuk beriman, tetapi juga dituntut untuk beribadah. Karena Islam adalah agama ibadah, bukan hanya keyakinan. Ia tidak hanya terpaku pada keimanan semata, melainkan juga pada amal ibadah nyata. Islam adalah agama yang dinamis dan menyeluruh. Dalam Islam, keimanan harus diwujudkan dalam bentuk ibadah nyata, yaitu amal kebaikan yang dilakukan karena Allah.

Ibadah dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mewujudkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga untuk mewujudkan hubungan antar sesama manusia. Islam mendorong manusia untuk beribadah kepada Allah Swt dalam semua aspek kehidupan dan aktivitas. Baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat. Allah berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Mengikuti Nabi saw
Dalam beribadah kita harus mengikuti tata cara ibadah Nabi Muhammad saw secara kaffah dalam arti sebuah ibadah baru sesuai dengan ibadah Nabi seutuhnya apabila ada perpaduan antara syarat dan rukun serta sunatnya seutuhnya. Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kita semua untuk senantiasa mengikuti tuntunan Nabi Muhammad dalam segala hal, dengan firman-Nya: “Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7).

Dan Rasulullah saw juga telah memperingatkan agar meninggalkan segala perkara ibadah yang tidak ada contoh atau tuntunannya dari beliau, sebagaimana sabda beliau: “Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amal itu tertolak.” (HR. Muslim).

Ibadah shalat misalnya, Rasul telah meninggalkan begitu banyak hadis yang satu dengan lainnya kadang saling berbeda tentang syarat-syaratnya dan hadis tentang model shalatnya juga begitu banyak dan berbeda-beda. Pada saat Rasulullah megambil wudhuk dengan membasuh sebagian kepala, maka shalat yang beliau kerjakan dengan membaca bismillah pada surah al-Fatihah.

Perpaduan antara wudhuk dan shalat model ini adalah hasil dari kajian (ijtihad) mendalam yang dilakukan oleh Imam Syafie pada hadis-hadis tentang syarat wudhuk dan shalat (mazhab Syafie) dan pada waktu Rasulullah berwudhuk membasuh seluruh kepala, maka dalam shalatnya beliau tidak membaca bismillah pada surah al-Fatihah dan model ini merupaka hasil kajian (ijtihad) oleh Imam Ahmad bin Hambal (mazhab Hambali).

Banyak hadis yang menceritakan tentang beragam model wudhuk yang dicontohi oleh Rasul dan juga lebih banyak lagi hadis yang menjelaskan berbagai model ibadah shalat yang dikerjakan oleh Rasulullah saw. Karena banyak model wudhuk dan shalat Rasulullah, maka perlu ditelusuri bagaimana yang sebenarnya perpaduan antara syarat yang tersebut dalam hadis dengan model A dengan shalat yang tersebut dalam hadis dengan model A juga, sehinggga bersatu antara syarat shalat dan ibadah shalat itu sendiri.

Beribadah dengan perpaduan antara syarat dan rukun yang telah dijabarkan oleh Imam mazhablah yang sebenarnya otentik dengan ibadah yang dikerjakan oleh Rasulullah saw sebagaimana sabda beliau: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini adalah perintah beliau kepada umatnya agar meneladani tata cara shalat sesuai dengan apa yang beliau tuntunkan dan secara implisit dari hadist di atas beliau juga menuntun umatnya untuk berwudhuk dengan meneladaninya sekaligus pada perpaduan antara wudhuk dan shalatnya.

Ibadah yang hanya mengikuti hadis Nabi secara parsial, yaitu tidak memadukan antara syarat dan rukun ibadah secara utuh dan menyeluruh maka sangat jauh dari otentik ibadah Rasulullah saw. Semoga kita semuanya benar-benar menjadi hamba Allah yang mengikuti tata cara ibadah Rasulullah secara kaffah. (email: mahyal_ulum@yahoo.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved