Puisi
Bagi Biduan
Memang pelik bagi biduan berlantun Di tanah yang tuna santun
Karya Marina Novianti
Memang pelik bagi biduan berlantun
Di tanah yang tuna santun
Tak kunjung bersua melodi dan nada
Untuk tembangkan jeritan di dada
Saat terujung kata di lidah
Gentar bimbang merajai asa
“Akan digarikah tubuhku,
karena amarah sang merak biru?
Atau dibuangkah karya jiwa ini,
dianggap sampah tak punya arti?”
Berhembuslah, bayu nirwana
waraskan sejenak angan biduan
saat jeda terpabadai durjana durhaka
basahilah, air mata dewa
agar segar tubuh yang rubuh
segera berbangkit dan benahi rumah ruh
karena di tanah bejat ini
sang ular menelan ekor sendiri
dan saat tikus menerkam garuda
berkumandang raung kumpulan terluka
“Kaumku merana!”
biduan berkidung duka
Marilah, biduan
rangkai lagi ironi jadi untaian
sebagai bentuk perjuangan
melawan monster bermata setan
sebab seperti garam dan lada
kecilpun, bercita rasa
lemahpun, bukan tak berdaya
tembangmu, biduan, adalah doa
kami aminkan segenap jiwa
sambil menanti tindak Sang Pencipta
Agustus 2012
* Marina Novianti, lahir di Medan, 21 November 1971. Dua buku puisinya yang telah terbit: Aku Mati di Pantai dan Pendar Plasma (2014).