Puisi

Refleksi

Ujung malam yang ter lalu panas

Editor: bakri

Karya Rosni Idham

Ujung malam yang ter
lalu panas
Hawa menusuk bagai ujung kelewang
Kata-kata seribu jarum menebar
Terkadang bagai bara api membakar
Melelehkan fatwa berwarna merah
Bisa mati menjadi darah
Bisa sepi menjadi arang

Malam-malam yang panjang
Bersenandung kepura-puraan
Menebar senyum bertelanjang
Menguak selimut aneka rupa
Ada darah berwarna tua
Ada luka menganga
Tak siapa mengusap
Tak siapa memantra

Semakin di ujung malam
Ucap semakin pelit menebar embun
Padahal telah kutuang seluruh isi celengan
Menjamin langkahnya dan kehormatan
Kami tak bisa hidup cuma janji
Butuh lirikan mata dan nurani

Maka sempurnalah bahasa
Demi kerakyatan rela berkorban
Kami yang telah rela berkorban
Kami yang telah rela
Kami yang telah menjadi korban

Meulaboh, Maret 2010

Fujuraha Wataqwaha

Kepasrahan paripurna
Membedah dua jalan jiwa
Pisau-pisau adalah mizan kehidupan
Engkau bentang jalan kebebasan
Fujuraha wataqwaha adalah pilihan
Atas anugerah akal dan fikiran

Angkara murka atas fujuraha
Dermaga nista dan dosa
Jalan kesesatan menampik fitratunnas
Terpuji dan mulialah wa taqwaha
Menghimpun pahala di altar maha kuasa
Mahakasih membentang balas tiada batas

Dengan rindu kita dobrak bukit-bukit nafsu
Dengan cinta kita seberangi lautan emosi
Rindu dan cinta pembedah jalan menuju ukhrawi

Meulaboh, Ramadhan 1430

* Rosni Idham, kelahiran 6 Maret 1953, di Sawang Mane, Nagan Raya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved