Puisi
Batu .
Sebuah rumah batu jendela batu, tak berpintu
Karya Bresman Marpaung
Sebuah rumah batu
jendela batu, tak berpintu
telah tumbuh dari rumah kayu
tak ada engsel membuka jendela
engsel jadi batu
tak ada engsel menutup pintu
engsel jadi batu
aku pun berdiri di depan rumah batu
melihat perempuanku jadi batu dekat tungku
di kursi batu
dengan liang sanggama meneteskan
calon anakku, jadi batu
(Rumahpun melahirkan gaung
dan tertusuk di tiap dinding)
dua telingaku terasa jadi batu
Suara nyanyian itu menempel di dinding
pun jadi batu
jadi ornamen tak punya jiwa
hanya tubuh
lantas kemana orang-orang itu?
Astaga!
Pasangan itu mengangkang jadi batu
Sajak Kelaparan
puisi bertambah keras menguji ketabahannya
bagaimana mengintai aksara gesit berkelit
purnama sudah lama menunggu, semangat makin karat dan terperangkap
melarikan mimpi sebadan tapi tak menghalau lapar kata-katanya
ramuan pengharum yang diraciknya menyedap ritus
kuning setangkup getir menunggu tuaian
telah ditabal dia penyair gagah memanggul bait-bait menumpuk di bahu
sewibawa otot dan kepala dewa-dewa agung
berkali malam suntuk, berkali lepas semua makna kata. berharap tertangkap lagi
persembahan buat perempuan-perempuan yang hanya berahi oleh syairnya
sayang, ia tetap pengintai yang tak pernah beranjak
menuai tangkapan
Medan, Maret 2015
* Bresman Marpaung, dilahirkan di Pematang Siantar pada 15 April 1968.