Senin, 4 Mei 2026

Citizen Reporter

Hat Yai, Thailand Berasa Malaysia

KUNJUNGAN saya kali ini ke Thailand adalah untuk membina hubungan kerja sama Universitas Ubudiyah I

Tayang:
Editor: bakri

OLEH JURNALIS J HIUS MBA, Dosen Universitas Ubudiyah Indonesia, melaporkan dari Thailand

KUNJUNGAN saya kali ini ke Thailand adalah untuk membina hubungan kerja sama Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) Aceh dan dua kampus ternama di Thailand Selatan, yakni Prince of Songkla University dan Walailak University.

Dua kampus tersebut menyediakan program studi kesehatan yang sudah menghasilkan tenaga kesehatan yang tidak hanya bekerja di Thailand, tapi juga di seluruh negara ASEAN dan beberapa negara rekanan Thailand.

Sejak dipimpin Raja Rama V, Thailand memang lebih memfokuskan diri kepada layanan pariwisata dan kesehatan sebagai salah satu bidang yang menjadi prioritas pembangunan Negeri Siam ini. Untuk produknya, Thailand fokus pada produk pertanian dan perkebunan, karena hasil sumber daya alamnya tidak sebagus indonesia. Industri yang mereka izinkan dari luar pun banyak didominasi oleh industri otomotif dan instrumen kelistrikan. Fokus pada bidang pembangunan membuat Thailand maju pesat di antara negara-negara ASEAN.

Bagian selatan Thailand langsung berbatasan dengan Malaysia, tepatnya di Negara Bagian Perlis, Kedah, dan Kelantan. Ada tiga pintu border yang menghubungkan Imigrasi Thailand dan Malaysia. Saya melalui border yang paling ramai, yakni Border Padang Besar. Di Padang Besar banyak penduduk mahir berbicara dua bahasa, Thailand dan Malaysia. Sisi bagian Thailand di Padang Basai juga banyak yang bisa berbicara dua bahasa, bahkan sebagian besar muslim.

Kota paling besar di Thailand Selatan adalah Hat Yai, ada yang menuliskannya dengan Hadyai. Kota ini dapat ditempuh kurang lebih satu jam perjalanan darat dari perbatasan. Tidak terdapat tol seperti halnya di Malaysia, namun jalanannya cukup besar. Perjalanan melalui darat sangat direkomendasikan di Thailand karena banyak terdapat bangunan besar dengan berbagai bentuk dan warna yang unik. Berbeda dengan di Thailand bagian utara yang sebagian besar rakyatnya beragama Budha, di bagian selatan sebagian besar rakyatnya adalah muslim. Mungkin karena dulu Thailand bagian selatan termasuk bagian dari Kerajaan Aceh Darussalam yang luas wilayahnya hingga ke bagian selatan Filipina (sekarang Kepulauan Mindanao).

Di Hat Yai banyak terdapat mal, tempat hiburan, pasar kuliner, tempat wisata yang dikunjungi turis dari mancanegara, seperti halnya Phuket dan Pattaya. Warga Thailand sangat ramah kepada setiap turis yang datang, meskin dengan bahasa Inggris yang pas-pasan. Tapi untuk wisatawan dari Malaysia dan Indonesia, tak begitu susah, karena mereka juga bisa berbahasa Melayu.

Ya, di Hat Yai kita bisa dengan mudah berbelanja dan berkomunikasi dengan bahasa kita sehari-hari, baik di pasar, maupun di hotel. Sebagian masyarakat di Hat Yai dapat berbahasa Melayu, dengan dialek Malaysia, tidak begitu susah bagi orang Indonesia tentunya. Makanan yang dijajakan di restoran dan rumah makan serta di emperan jalan pun tak jauh beda dengan di Malaysia. Sebagiannya halal. Saya pun menyempatkan makan mi goreng ayam yang disajikan dengan bumbu khas Thailand yang pedas dan kaya rempah.

Bahkan di beberapa mal, kita bisa membayar belanjaan kita menggunakan mata uang ringgit, tapi tidak dengan mata uang rupiah. Di berbagai pusat keramaian di Hat Yai, kita masih dengan mudah menemukan wanita-wanita berkerudung yang menandakan banyaknya warga muslim di kota ini, meskipun sebagian besar penduduknya beragama Budha. Lebih dari 90% penduduk Thailand menganut Budha, disusul oleh pemeluk Islam dan Kristen. Namun, kebijakan Pemerintah Thailand yang mewajibkan setiap pusat keramaian membuat satu ruangan untuk muslim melakukan ibadah serta beberapa counter makanan halal, patut kita hargai, meskipun semua kebijakan tersebut pastinya berkat perjuangan dari warga muslim di Thailand.

Di area kampus pun, beberapa mahasiswa muslim di Thailand--paling banyak dari Malaysia dan Indonesia--tidak susah untuk menunaikan shalat dan makan di kantin, karena terdapat ruangan di kampus untuk mushala dan kantin yang menyediakan makanan halal.

Pemerintah Malaysia dan Thailand pun sepertinya memperbolehkan kendaraan dari masing-masing negara melintasi daerah perbatasan masing-masing negara. Ini terlihat dari banyaknya kendaraan bermotor, terutama roda dua Thailand yang hilir mudik di Malaysia, demikian juga sebaliknya. Padahal, cara ini banyak dimanfaatkan penyelundup untuk memasukkan barang maupun manusia dari dan ke Thailand, demikian pula sebaliknya. Oleh karenanya, sejak beberapa tahun lalu di masing-masing perbatasan dibuat pos polisi perbatasan untuk memeriksa setiap bawaan dari kendaraan yang bernomor polisi negara sebelah.

Hat Yai enak dikelilingi menggunakan becak khas Thailand, Tuk-Tuk. Kendaraan ini bisa dinaiki 4-6 orang, tergantung ukuran badan. Tapi harus ekstrahati-hati karena beberapa kejadian tak mengenakkan menimpa wisatawan. Namun, bila kita sudah tahu cara aman dan senantiasa membawa peta, insya Allah tak akan tersesat. Untuk mengelilingi pusat Kota Hat Yai, Anda hanya perlu bayar 30 bath (sekitar Rp 12.000). Jadi, jangan sampai ditipu pengemudi Tuk-Tuk.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved