Akan Dirikan Pabrik di Langkat
Lafarge Bantah Kelangkaan Semen
Lafarge Cement Indonesia (LCI) membantah pemberitaan sejumlah media tentang kelangkaan semen
Director LCI, Haryanto Chandra menyatakan hal itu saat ditemui di Medan, Kamis (28/7). Ia memastikan saat ini pabrik LCI di Lhoknga masih bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan nasional. “Kami mampu memroduksi semen 1,7 ton pertahun, itu cukup untuk kebutuhan nasional,” kata Budi.
Disinggung kemungkinan terjadi keterlambatan pengiriman, Budi langsung meluruskannya dengan menyebutkan pihaknya sudah mencarter empat kapal untuk setahun penuh.
Bahkan pihaknya kerap menambah kapal carteran, bila permintaan mengalami peningkatan. “Memang biasanya permintaan di bulan puasa dan lebaran meningkat, tapi tidak ada pengaruhnya dengan kelangkaan. Semua distribusi tetap berjalan normal,” jelasnya.
LCI sendiri disebutnya tak hanya memiliki pabrik di Lhoknga, tapi beberapa terminal sudah didirikan di Lhokseumawe, Belawan, Dumai, dan Batam. Keberadaan terminal itu dipastikannya semakin menambah “daya gempur” perusahaannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pabrik langkat
Dalam kesempatan itu, Senior Excecutif LCI, Pharaoh Hirani mengungkapkan pihaknya tengah mengkaji kemungkinan mendirikan pabrik baru di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Saat ini pihaknya terus melengkapi prosedur pendirian pabrik yang diminta Pemkab Langkat. “Ada kendala sedikit, karena lahan kami berdiri di dekat Taman Nasional Gunung Leuser. Jadi harus ada yang diberesin,” kata Hirani.
Pemilihan Langkat sebagai daerah baru menurutnya tak terlepas dari kondisi alamnya yang kaya batu kapur. Dengan alasan itu, LCI berani menggelontorkan dana sekitar Rp 3,5 triliun untuk pabrik baru itu. Diperkirakannya, proses pembangunan akan memakan waktu 3,5 tahun.
Ide itu sebenarnya sudah mulai dijalankan pada 1998 dengan membeli tanah yang akan dijadikan lokasi pabrik. Tapi rencana itu harus tertunda dengan keterpurukan ekonomi Asia Pasifik pada saat itu. Rencana itu kembali tertunda saat Aceh dihantam tsunami dahsyat akhir 2004 lalu.
“Kami harus membangun pabrik kami yang hancur di Lhoknga. Ketika itu kami juga fokus memberikan bantuan kepada keluarga 200 karyawan kami yang meninggal, dan bantuan untuk masyarakat,” bebernya.(rw)