Diziarahi Wisatawan, Tiap Tahun Diperingati Gugurnya
PADA malam menjelang tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya telah
* Cerita Teuku Umar di Mata Penjaga Makam
“Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid (besok pagi kita akan minum kopi di kota Meulaboh atau aku akan syahid.”
PADA malam menjelang tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya telah berada di pinggiran kota Meulaboh. Pejuang Aceh sempat terkejut ketika mengetahui pasukan Van Heutsz telah mencegatnya. Posisi pasukannya sudah tidak menguntungkan dan tidak mungkin lagi untuk mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur.
Dalam pertempuran itu Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya.
Seorang tangan kanannya yang sangat setia bernama Pang Laot begitu melihat Teuku Umar rebah terkena tembakan peluru Belanda segera melarikan jenazah Teuku Umar agar tidak jatuh ke tangan musuh. Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Meugoe di Hulu Sungai Meulaboh.
Beberapa saat sebelum penyerangan Garnizun Belanda tersebut di Kota Meulaboh, Teuku Umar sempat berujar, “Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid (besok pagi kita akan minum kopi di kota Meulaboh atau aku akan syahid),” kalimat itu kini terpahat utuh di sebuah prasasti di kompleks makam Teuku Umar di Desa Meugoe, Meulaboh.
Setiap pengunjung yang berziarah dapat membaca kalimat itu di kompleks makam.
Kegigihan Teuku Umar dalam berjuang memberi kesan tersendiri bagi Tengku Salihin Nawi (43) yang lebih akrab disapa Tgk Abon. Sejak empat tahun terakhir Tgk Abon mendapat tugas menjadi penjaga makam Teuku Umar, yang merupakan suami Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien. “Menjaga makam Pahlawan Nasional asal Aceh, Teuku Umar merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya,” kata Tgk Abon saat ditemui Serambi di Meulaboh, Jumat (9/10) silam. Teuku Umar Johan Pahlawan gugur di Daerah Suak Ujong Kalak dan dimakamkan di Desa Meugo Rayeuk, yang merupakan kawasan hutan lindung. Untuk mengelola dan menjaga kompleks makam, kini Pemkab Aceh Barat menempatkan 9 petugas, termasuk Tgk Abon. Untuk 7 petugas Pemkab memberi honor Rp 1 juta/bulan dan 2 petugas lainnya mendapat honor Rp 800 ribu/bulan. “Hari-hari pekerja membersihkan kawasan makam, merawat serta mendampingi orang bila ada yang datang berziarah,” kata Abon yang juga pimpinan Pesantren Bustanul Arifin.
Selama ini lokasi makam banyak dikunjungi warga dan wisatawan. Konon, menurut cerita di dalam lokasi makam Teuku Umar ini terdapat pohon besar yang mengeluarkan air tiada hentinya. Air itu bisa diminum oleh siapapun. Daerahnya sangat aman, nyaman dan sejuk dengan udara yang segar dan masih sangat alami.
Setiap 11 Februari Pemkab Aceh Barat juga menggelar tapak tilas, doa bersama, dan upacara serta ziarah ke makam.
“Makam Teuku Umar merupakan situs sejarah. Kita berharap Pemerintah Aceh harus memperhatikan keberadaannya,” ujar Tgk Abon. Pada tahun 2015, Pemerintah Aceh mengalokasikan dana pengecatan kompleks makam Rp 8 juta. “Saat ini yang mendesak di lokasi makam adalah perlunya dibangun sarana air bersih untuk para peziarah,” ujar Tgk Abon. (rizwan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ratusan-warga-mengunjungi-kuburan-makam-teuku-umar_20151016_091502.jpg)