Nostalgia Apa Karya dengan Pieter Feith
SEREMONI pembukaan International Conference 10 Tahun Perdamaian Aceh tadi malam dihadiri puluhan tamu
SEREMONI pembukaan International Conference 10 Tahun Perdamaian Aceh tadi malam dihadiri puluhan tamu undangan. Di antara undangan VIP terlihat antara lain Pieter Feith, tokoh yang dipercaya oleh Uni Eropa dan perwakilan Asia Tenggara untuk memimpin Aceh Monitoring Mission (AMM) jelang perdamaian. Juga hadir Francisco Fontan Pardo perwakilan European Union (Mission to Asean).
Selain dua tokoh utama dari luar negeri, tak ketinggalan pula tokoh eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Zakaria Saman atau yang akrab disapan Apa Karya juga hadir dalam kegiatan tadi malam. Mengenakan kemeja putih, Apa Karya duduk semeja dengan anggota DPR RI asal Aceh Nasir Djamil dan anggota DPD RI Sudirman atau Haji Uma.
Sebelum pembukaan, Apa Karya didatangi sejumlah tokoh, menyalami dan berbincang-bincang. Saat Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Wali Nanggroe Aceh Tgk Malik Mahmud Alhaythar, Pieter Feith, dan sejumlah tokoh lainnya memasuki Anjong Mon Mata, Apa Karya pun berdiri. Spontan ia bersalaman dengan Pieter Feith. Keduanya berbicara serius sambil tersenyum lebar, bak dua sahabat yang bernostalgia setelah lama tidak berjumpa.
Setelah 10 menit perbincangan, Serambi pun mendekati Apa Karya, menanyakan apa yang dibicarakan dengan Pieter Feith. Apa Karya mengaku, ia bicara singkat dengan Pieter Feith, hanya sekadar mengenang sejarah yang tak bisa dilupakan, yakni saat dirinya dijumpai Pieter Feith di sebuah hutan di Aceh.
“Waktu itu, keputusan Helsinki, GAM, dan Jakarta, tidak boleh teken dulu kalau belum berjumpa dengan pasukan yang masih berada di gunung atau di dalam hutan. Jadi, Pieter Feith waktu itu pergi dengan helikopter mencari saya atas arahan Wali Nanggroe. Jadi jumpalah kami di gunung dan sempat bicara selama tiga jam. Pulang Pieter Feith dari situlah baru diteken,” kata Apa Karya seraya menambahkan sudah sekitar empat tahun mereka tidak berjumpa.
Perintah untuk menjumpai dirinya saat itu dilakukan Pieter Fieth sebagai arahan sebelum penandatanganan MoU Helsinki. Pertemuan itu, kata Apa Karya dimaksudkan untuk meminta persetujuan dari pasukan GAM yang masih berjuang di gunung. “Karena jika tidak dilakuakn begitu akan sangat bahaya, di sana diteken, pasukan tidak terima. Saya ingat sekali Piter Feith datang denga Helikopter bersama rombongan dan mencari-cari tanda yang sudah kami beri untuk mendarat, saya bicara dengannya pakai bahasa Sweden saat itu,” kata Apa Karya mengenang.
Perjumpaan itu, sebut Apa Karya, sebagai keputusan terakhir sebelum kesepakatan damai ditandatangani di Helsinki, Finlandia. Setelah Pieter Feith bicara selama tiga jam dengan dirinya, Piter Feith bersama rombongan langsung kembali ke Helsinki untuk melanjutkan perundingan.(dan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/konferensi-internasional-peringatan_20151114_090354.jpg)