puisi

Seikat Bunga

Aku di sini Sembari menggenggam Seikat bunga hatiku Berdiri terpaku menatapmu

Editor: hasyim

T. A. Raman

Seikat Bunga

Aku di sini
Sembari menggenggam
Seikat bunga hatiku
Berdiri terpaku menatapmu
Di arah lahirnya matahari
Terdengar senandung sukma
Membuat rerumputan berdansa ria

Seorang bocah kecil
Memberi tahuku
Akan wafatnya sang harapan
Dia menarikku
Menuju barisan pembaringan
Mengajakku menaburi
Pusara harapan
Dengan bunga kasmaran
Dirimu juga ada disana
Duduk manis diatas kereta kuda
Ekor matamu mengekor
Padanya jalan setapak
Yang menuju sebuah negeri
Entah apalah namanya
Dikesilapan mataku
Engkau berlalu dengan bisu

Oh
Andai diriku mampu
Untuk menjerat sang waktu
Mencengkramnya
Dalam palung rindu
Namun dirimu telah melaju lebih dulu
Meninggalkanku diantara kepulan debu
Tanpa pamit
Atau basa basi yang rumit
Tanpa salam perpisahan yang wajar
Membuatku hanya berdiri kaku menatapmu
Di ujung gerbang pagar

Bireuen, 13 Agustus 2014

*T. A. Raman, pelajar MAN Blang pidie

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved