Rabu, 13 Mei 2026

Salamualaikum dan Kru Seumangat Nominasi Salam Aceh

Salamualaikum dan kru seumangat terpilih menjadi dua nominasi lafal atau ucapan salam (saleum)

Tayang:
Editor: bakri

BANDA ACEH - Salamualaikum dan kru seumangat terpilih menjadi dua nominasi lafal atau ucapan salam (saleum) khas Aceh versi peserta diskusi pembahasan saleum Aceh di aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Selasa (24/11) pagi.

Diskusi itu dipimpin budayawan Aceh, Barlian AW, dihadiri 20 peserta yang terdiri atas budayawan, sejarawan, akademisi, wartawan, pelaku pariwisata, dan staf Disbudpar Aceh.

Amatan Serambi, dalam diskusi itu muncul beberapa usulan. Ada peserta yang mengusulkan pue haba, beuseulamat, assalamu’alaikum, kru seumangat, dan salamualaikum sebagai salam Aceh. Tapi di akhir diskusi, peserta lebih dominan menyetujui salamualaikum dan kru seumangat sebagai salam khas Aceh.

Salah satu peserta, Prof Dr Misri A Muchsin menyatakan, Aceh identik dengan daerah bersyariat Islam. Oleh karenanya, salam orang Aceh pun mestilah yang mencerminkan kondisi sosioreligi masyarakat Aceh yang islami. Atas dasar itu, ia usulkan ‘salamualaikum’ sebagai salam khas Aceh. Diucap atau ditulis ejaannya sama, yakni salamualaikum.

Menurut Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry ini, tak masalah menghilangkan kata as- dalam salamualaikum, karena kedudukan as- dalam kata asslamualaikum, hanyalah sebagai isyarah. Seperti halnya As- dalam kata As-Singkily.

Penghilangan kata as- itu tak mengurangi atau mengubah maknanya, sepanjang ditulis dalam huruf Latin. Beda misalnya kalau ditulis dalam bahasa Arab, kata Prof Misri.

Sejauh yang dia amati, kaum muda Aceh pun dalam komunikasi di dunia maya sudah banyak yang menggunakan kata salamualaikum untuk menyapa netizen lainnya. “Jadi, salamualaikum itu sudah digunakan oleh sebagaian orang di Aceh. Tinggal kita adopsi saja kata ini sebagai salam khas orang Aceh. Orang Arab dan dunia pun sudah tahu artinya. Para netizen apalagi,” kata Misri.

Banyak peserta sepakat dengan jalan pikiran Prof Misri, di samping dukungan terhadap frasa kru seumangat pun lumayan tinggi. Apalagi di Gayo pun ungkapan ini dipakai dalam percakapan sehari-hari, tapi ditulis kur semangat. Artinya, dua kelompok pengguna bahasa yang terbanyak dan nomor dua terbanyak penuturnya (Aceh dan Gayo) sudah familiar dengan kru seumangat.

Di akhir diskusi, Barlian AW menyatakan, untuk sementara ada dua kata yang dinominasikan sebagai salam khas Aceh oleh peserta diskusi. Yakni salamualaikum dan kru seumangat.

Dalam diskusi itu mengemuka juga usulan salam penutup dalam bahasa Aceh. Sebagian peserta mengusulkan beujroh dan beuseulamat sebagai salam penutup dalam komunitas Aceh. Panitia mencatat usulan itu sebagai masukan. Semuanya akan didiskusikan lagi pada 30 November 2015. Termasuk akan dirumuskan bagaimana idealnya bahasa tubuh (body language) saat mengucapkan salam pembuka dan salam penutup khas Aceh itu.

Hasil diskusi ini, menurutnya, akan disampaikan secara resmi kepada Kepala Disbudpar Aceh, Drs Reza Fahlevi MSi dengan harapan akan disosialisasikan dan dibahas dalam diskusi yang lebih luas lingkupnya.(dik)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved