Meriahnya Malam Anugerah Wali Nanggroe
Sebuah perhelatan akbar dihelat oleh Lembaga Wali Nanggroe, di Gedung AAC
BANDA ACEH - Sebuah perhelatan akbar dihelat oleh Lembaga Wali Nanggroe, di Gedung AAC Dayan Dawood Banda Aceh, Rabu (16/12) malam tadi. Malam Anugerah Wali Nanggroe 2015, begitulah nama kegiatan yang digagas untuk memberikan penghargaan kepada para pelestari nilai-nilai adat dan budaya di Aceh, seperti lembaga pemerintahan mukim, kelompok masyarakat, juga perorangan.
( VIDEO : Malam Anugerah Wali Nanggroe 2015 )
Acara tersebut berlangsung meriah dan dihadiri oleh ribuan masyarakat. Berbagai penampilan kesenian dan budaya Aceh -- dari pesisir dan pegunungan-- disuguhkan dalam acara tadi malam. Tari pemulia jamee Ranup Lampuan, membuka Malam Anugerah Wali Nanggroe. Dilanjutkan dengan tari Guel dari dataran tinggi Gayo, serta penampilan khas para seniman tutur yang merangkum pembukaan dengan syair dan hikayat mereka.
Selain itu tampil pula penghikayat Aceh, Muda Balia dan penyanyi Liza Aulia dengan lagu hitsnya ‘Hikayat Putroe Bungsu’. Murid-murid SD di Banda Aceh juga ikut unjuk kebolehannya dengan menyanyikan lagu Aceh Lon Sayang. Acara semakin meriah ketika puluhan penari menampilkan kolaborasi tari Rapa-i Geleng, Saman, dan Likok Pulo.
Dalam acara tersebut, Wali Nanggroe Tgk Malik Mahmud memberikan penghargaan kepada para pelestari nilai adat dan budaya Aceh untuk beberapa pemerintahan mukim, kelompok masyarakat, dan juga individu.
Ada tiga kategori anugerah yang diberikan, yakni Tangloeng Nanggroe (lembaga ada kemukiman), Tudoeng Nanggroe (kelompok masyarakat adat dan budaya), serta Dalong Nanggroe atau pelaku adat dan budaya perseorangan.
Dalam sambutannya, Wali Nanggroe Tgk Malik Mahmud mengatakan, budaya adalah identitas suatu bangsa, yang lahir karena sikap dan attitude manusia. Budaya juga kepercayaan dan kebiasaan yang lahir serta diamalkan secara natural dalam kehidupan sehari-hari, dan dilakukan secara kolektif, berlansung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Seiring perjalanan, budaya kita mengalami akulturasi, baik secara natural atau dengan campur tangan penguasa, dalam hal ini pemerintah. Hal ini tidak terlepas dari kemajuan sains dan teknologi serta arus informasi terbuka seperti sekarang ini,” kata Malik Mahmud.
Ia juga menyebutkan, budaya Aceh adalah kebudayaan yang merupakan tatanan kohesi sosial kehidupan, berlandaskan tempat bermukimnya masyarakat Aceh. “Akulturasi budaya Aceh bersumber dari pemahaman agama umumnya, dan kepercayaan orang Aceh khususnya, yang berdiri sebagai ideologi utuh sampai saat ini. Kekayaan ini harus kita jaga,” sebutnya.
Tentang pemberian anugerah tersebut, Malik Mahmud mengatakan itu tidak serta merta atau kebetulan diberikan. Katanya, tim dari Lembaga Wali Nanggroe, telah melakukan survey dan observasi secara objektif jauh-jauh hari. “Semua yang dikategorikan dan yang akan diberikan penghargaan dinilai secara sistemis oleh dewan juri yang professional, dan memiliki independensi serta kredibelitas yang tak diragukan,” kata Malik Mahmud.
Ia menambahkan Anugerah Wali Nanggroe adalah bentuk nyata dari Lemabaga Wali Nanggroe dalam menghargai dalam memberikan apresiasi terhadap pelaku-pelaku pelestarian adat dan seni tradisi Aceh. “Bagi yang sudah masuk nominasi tapi belum berhasil mendapat peringkat atas, jangan bersedih hati. Menjaga budaya adalah kewajiban kita bersama, teruslah berbuat demi cinta kita kepada Aceh yang tak tehingga,” pungkas Wali Nanggroe.(dan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/wali-nanggroe-aceh-malik-mahmud-alhaytar_20151217_091247.jpg)