Kamis, 14 Mei 2026

Ikan Kayu, Makanan Warisan Perang yang Kini Jadi Oleh-Oleh Khas Aceh

Konon ikan kayu lahir karena kondisi Aceh yang kerab dilanda perang. Perang berkepanjangan membuat warganya siaga dan menyesuaikan diri bertahan hidup

Tayang:
Penulis: Nurul Hayati | Editor: Yusmadi
SERAMBINEWS.COM
Pengolahan ikan kayu di Lampulo, Banda Aceh. 

Namun Fauziah berinovasi dengan ikan kayu yang dulunya dijual batangan kini dikemas sedemikian rupa dan cocok untuk ditenteng sebagai oleh-oleh.

Ikan kayu produksi Fauziah sudah dilengkapi dengan bumbu berikut cara memasak. Serta melahirkan varian baru yaitu ikan kayu crispy siap goreng.

Sedangkan ikan kayu kalengan masih dalam tahap uji coba lab. Ikan kayu kemasan itu dilepas seberat 100 gram dilepas seharga Rp 20 ribu.

“Kendalanya karena Aceh tidak punya mesin pengalengan, itulah yang kami harapkan dari pemerintah karena harga mesinnya mahal sampai Rp 778 juta untuk ukuran UKM. Jadi sementara ini kami membawanya ke Gunung Kidul, Yogyakarta,” terang Fauziah.

Ikan kayu cap kapal tsunami mulai 2012 lalu juga dijadikan oleh-oleh dari Pemerintah Aceh jamaah yang bertolak ke tanah suci.

Untuk mendapatkannya datang saja ke Gallery Balee Inong. Berlokasi tepat di depan situs tsunami yaitu tempat wisata boat di atas rumah.

Situs tersebut merupakan saksi dahsyatnya tsunami yang telah meluluh lantakkan Aceh pengujung 2004 silam. Sebaliknya bencana tersebut telah mendatangkan rezeki tersendiri bagi Fauziah yanng kini mempunyai 10 orang karyawan tetap.

Ikan kayu Fauziah awalnya merupakan warisan perang yang kemudian bermetamorfosis menjadi oleh-oleh kuliner khas.

Wujud kebangkitan masyarakat Aceh berbentuk makanan dari perang berkepanjangan hingga bencana maha dahsyat. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved