Puisi

Lawe Bulan

tak ada waktu menggantungkan hidup pada impian. Aku saksikan sungai-sungai masih mengalirkan

Editor: bakri

Karya Sulaiman Juned

tak ada waktu menggantungkan hidup pada
impian. Aku saksikan sungai-sungai masih mengalirkan
dendam Si Pihir
Beru Dihe pun tersungkur
karena cinta
terbelah
di jiwa.

tak ada waktu menggantungkan hidup pada
impian. Aku lawan segala getir-keluar dari
kubangan
duka
lara.

tak ada waktu menggantungkan hidup pada
impian. Aku naiki kenderaan siang melalui matahari-malam
lewat bulan menuju kasih sayang. Ukir
masa depan di jejak masa silam-terbang
menuju Tuhan dengan
sayap
kerinduan.

Kutacane, 2016

Bala

kemana
pergi-tak bisa sembunyi apalagi
lari. Hidup ditakdirkan bersama
bala. Sampaikan saja cinta melalui doa
rateb di atas awan-bertahlil menyentuh langit
keilahian agar sempurna kisah menuju surga.

kemana
pergi-tak bisa sembunyi apalagi menolak
bala. Ikhlaskan saja tubuh-rubuh-terkubur tanah
dan beton dipermainkan gelombang tanpa kafan menemui Tuhan.

(Kita hanya debu ditelunjuk Ilahi).

Banda Aceh, 2016

Menziarahi Makammu Mak

nafas
yang berhembus di jiwa-memanjangkan
akal kehidupan adalah dari keberadaanmu.

seberapa
panjang malam terlalui berkat usapan lembut
jemari yang kau letak di atas ubun keadaanku.

alangkah
jauh dan sangat melelahkan ternyata
menjadi pengasuh buat si biji mata.

(aku minta maaf mak, jika akal-pikirku melukai jiwa)

Usi Dayah, 2016

* Sulaiman Juned, adalah penyair dan sutradara teater. Dosen Jurusan Teater ISI Padangpanjang. Kandidat Doktor Penciptaan Seni Teater ISI Surakarta, Jawa Tengah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved