KUPI BEUNGOH
Menanti Tol Laut di Pantai Barat Aceh
Sebelum dan setelah mekar dari kabupaten induknya Aceh Barat, transportasi laut ke wilayah kepulauan itu hampir tak pernah putus.
Penulis: Sari Muliyasno | Editor: Fatimah
HUBUNGAN laut di kawasan pantai barat Aceh menuju wilayah kepulauan Simeulue, akan mengingatkan kembali pada masa belasan tahun silam sebelum daratan pesisir Aceh itu dihantam gelombang smong atau tsunami 2004.
Sebab, antara Simeulue dengan Meulaboh, Aceh Barat dulunya satu pemerintahan. Namun seiring berjalannya waktu, Simeulue yang dipisahkan dengan lautan lepas itu menjadi sebuah daerah otonomi baru sekitar tahun 1999, dengan nama Ibu Kota Kabupaten, Sinabang.
Sebelum dan setelah mekar dari kabupaten induknya Aceh Barat, transportasi laut ke wilayah kepulauan itu hampir tak pernah putus. Meski sesekali sempat tak ada pelayaran saat itu lantaran kapal doking atau pun masalah cuaca ekstrim.
Nah, saat-saat kapal laut tak berlayar itulah keadaan di Simeulue berubah seketika terutama masalah kebutuhan pokok. Harga-harga bumbu dapur ikut melambung tak terbendung. Ironinya, meski harga melambung tak wajar masyarakat di sana seolah tak peduli asalkan kebutuhan masih tersedia di pasar.
Bagi warga yang bukan penduduk asli di daerah itu, tentu saja belum terbiasa dengan harga-harga kebutuhan yang sudah tentu berbeda harganya dengan di daratan.
Perbedaan harga itu juga bisa saja akibat beberapa faktor seperti lamanya waktu perjalanan, ditambah waktu antrean kenderaan barang naik ke kapal laut menuju wilayah kepulauan yang kini sudah berpenduduk 90.000 jiwa lebih.
Sejak peristiwa smong melanda pesisi Aceh dan ikut mempora-porandakan pelabuhan penyeberangan laut di Meulaboh, akhirnya hubungan laut antara Simeulue-Meulaboh putus total hingga saat ini.
Sejak peristiwa yang merenggut nyawa sampai 200 ribu jiwa lebih itu. Saat itu pula, jalur laut ke Simeulue pun hanya dapat dilalui dari Aceh Selatan dan Aceh Singkil.
Meski demikian, para pemangku kebijakan di kawasan pantai barat Aceh itu seakan tak mau memutuskan hubungan sejarah panjang antara anak dan ibu (baca: Simeulue dan Aceh Barat).
Walaupun secara bertahap dan tidak dalam hitungan satu tahun anggaran, jalur transportasi laut Simeulue-Meulaboh harus dibangun.
Pelabuhan Bubon di Kuala Bubon, Aceh Barat. Begitu warga Simeulue menyebutnya, jalur tranaportasi laut yang menjadi salah satu urat nadi ke wilayah barat itu dibangun kembali pasca porak-poranda 2004 silam, walaupun tidak di lokasi yang sama sebelum tsunami.
Hal ini juga warga Simeulue patut mengapresiasi terkait keputusan yang tepat kepada pihak-pihak yang telah memperjuangkan lahirnya kembali jalur laut Simeulue-Aceh Barat.
Seiring proses pembangunan pelabuhan penyeberangan laut yang sudah rampung dan kabarnya saat ini akan diresmikan pengoperasiannya, untuk menghubungkan jalur laut yang putus belasan tahun itu.
Tentu saja dampak positif antara ke dua daerah itu akan sama-sama menguntungkan jika dikelola dengan baik dan benar. Sebut saja, masyarakat ekonomi lemah akan sangat terbantu. Begitu juga arus barang akan hilir mudik dan waktu tempuh ke pusat pemerintah provinsi semakin singkat.
Di sisi lain pun, dengan adanya dukungan program diera pemerintahan Jokowi-JK saat ini yang memperbanyak tol laut untuk menghubungkan setiap wilayah kepulauan agar mempercepat laju perekonomian di setiap daerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/asno_20160227_094807.jpg)