Minggu, 14 Juni 2026

Ramadhan Mubarak

Sampaikan Kebenaran Walaupun Pahit

ISLAM adalah agama dakwah. Setiap individu muslim adalah juru dakwah (da’i) sebagai penerang kepada pihak lain

Tayang:
Editor: hasyim
Hasan Basri M.Nur Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry. 

Hasan Basri M.Nur
Dosen Fakultas Dakwah dan
Komunikasi UIN Ar-Raniry.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

ISLAM adalah agama dakwah. Setiap individu muslim adalah juru dakwah (da’i) sebagai penerang kepada pihak lain yang mengabaikan nilai-nilai Islam. Memosisikan setiap muslim sebagai juru dakwah menyebabkan agama Islam cepat tersebar dan berkembang pesat di muka bumi.

Selain bertugas menyampaikan kebenaran kepada non-muslim, orang Islam juga berkewajiban menyampaikan kebenaran dan mencegah kemunkaran kepada sesama, termasuk kepada penguasa. Tanggung jawab ini tentu sesuai dengan kedudukan/posisi seseorang.

Ini sejalan dengan hadis Nabi saw: “Barangsiapa melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga, hendaklah ia membencinya dalam hati, dan yang demikian itu adalah golongan selemah-lemah iman.”

Kebaradaan ulama, intelektual dan tokoh masyarakat hendaklah menjadi penyeimbang dalam kehidupan sosial dan politik. Ulama, intelektual bahkan aktivis diharapkan menjadi lembaga kontrol terhadap pemegang mandat kekuasaan (presiden/gubernur/bupati).

Memang dalam sistem politik, Indonesia menganut konsep trias politica yang memilah kekuasaan publik dalam tiga bidang; eksekutif, legislatif dan yudikatif. Hal ini tidak berarti masyarakat boleh berdiam diri atas kemunkaran yang terjadi dengan alasan sudah ada lembaga legislatif sebagai lembaga kontrol. Tidak, sama sekali tidak.

Ulama, tokoh masyarakat dan ilmuwan tidak boleh melepaskan diri dari tanggung jawab pengontrol terhadap lingkungannya. Tokoh-tokoh itu berkewajiban memberi peringatan (teguran) kepada penguasa atas kebijakan dan perilaku menyimpang. Inilah pesan yang terkandung dalam firman Allah sebagaimana kita kutip di awal tulisan ini.

Jika tidak ada lagi segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah perbuatan munkar, maka celakalah umat dalam negeri itu. Penguasa akan berbuat sekehendak hati termasuk akan melecehkan agama, berfoya-foya di tengah kehidupan masyarakat yang melarat, memaksakan kehendak, hingga merekayasa pengidolaan pemimpin jahil bin zalim.

Keadaan akan semakin parah seandainya golongan umat yang diharapkan menjadi pengontrol atas kezaliman justru memainkan peran sebagai sosok-sosok yang akan melegalkan kebijakan-kebijakan penguasa yang menzalimi publik. Ulama, intelektual dan tokoh masyarakat perlu dekat penguasa (gubernur/bupati) untuk tujuan memberi nasihat.

Naik turun tangga istana sejatinya tidak dimanfaatkan untuk tujuan kepentingan pribadi seperti mencari bantuan untuk lembaga pribadi dengan caragapiet proposal. Kalau itu terjadi maka keberadaan tokoh tersebut tidak akan ada harga di mata penguasa, bahkan akan mudah diatur.

 Kisah Abu Dzar al-Ghifari
Seorang sahabat Nabi, Abu Dzar al-Ghifari (w.32 H), adalah contoh sempurna sebagai sosok pengontrol sosial. Abu Dzar yang awalnya berasal dari keluarga perampok besar kemudian tersadar dan sepanjang masa hidupnya digunakan untuk menyeru kepada keadilan dan kesetaraan sosial.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan (24-35 H), Abu Dzar tinggal di Suriah di bawah kepemimpinan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dia dikenal gigih berdakwah dalam masyarakat. Bahkan, dia berani mendatangi istana untuk menegur Gubernur yang suka pamer kemegahan dan kemewahan.

Walaupun pahit Abu Dzar tetap menyampaikan kebenaran kepada petinggi negeri. Tidak hanya mengeritik Gubernur Suriah, Abu Dzar juga kerap mengeritik pemerintahan Utsman bin Affan yang pada fase kedua dinilai cenderung bersikap nepotis dan menggeser para sahabat dalam pemerintahan.

Abu Dzar juga merasa prihatin melihat kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin dalam masyarakat. Karena itu, ia mendesak Gubernur Suriah agar membumikan wahyu Tuhan, terutama surat al-Taubah, yaitu agar orang kaya mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan orang miskin.

Suatu ketika Abu Dzar mendatangi Gubernur Suriah, Mu’awiyah. Dia hendak menegur Sang Gubernur yang bermegah-megahan dengan membangun istana nan gemerlap, istana Al-Khizra. Ucapan Abu Dzar yang sangat populer kepada penguasa adalah: Membangun istana dengan uang negara sama dengan menyalahgunakan wewenang. Sementara membangun istana dengan uang pribadi sama artinya berperilaku boros.

Nasihat, kritikan dan teguran yang disampaikan Abu Dzar berbuah pahit bagi kisah hidupnya. Gubernur Suriah dan kaum borjuis di negeri itu merasa terganggu dengan aksi dakwah Abu Dzar. Sementara rakyat miskin banyak yang senang atas aksi-aksinya.

Suatu ketika nasib tragis mendera Abu Dzar. Dia dituduh sebagai provokator dan penyebar fitnah, padahal semua yang disampaikannya adalah kebenaran. Karena dakwahnya tidak disenangi para penguasa, akhirnya dia dikirim kepada Khalifah di Madinah untuk selanjutnya diasingkan ke desa terpencil bernama Rubdzah, dan wafat di sana pada tahun 32 Hijriah.

Abu Dzar tidak pernah mengharapkan imbalan apapun ketika bertemu penguasa, tidak pernah membawa kepentingan pribadi yang dituang proposal berisi angka-angka uang, apalagi menggendong dan mengarak Gubernur Mu’awiyah sembari memberi gelar Khalifah Umar bin Khattab akhir zaman kepadanya.

Nah, untuk kondisi Aceh saat ini kita membutuhkan sosok-sosok seperti Abu Dzar al-Ghifari yang berani dan tegas menyampaikan kebenaran kepada siapa pun, termasuk kepada penguasa. Kita merindukan kemunculan figur-figur yang berani menegur pemimpin ketika melakukan kesalahan dan mendesak pemimpin untuk menepati janji-janjinya kepada rakyat.

Dalam konteks Pilkada Aceh 2017, kita mendambakan kemunculan figur yang berani mendesak politisi yang tidak mempunyai kapasitas untuk tidak mencalonkan diri. Sebab, kesalahan memilih pemimpin akan berakibat kemunduran negeri.

Kita merindukan kemunculan sosok yang mengamalkan hadis Nabi: Katakan yang benar walaupun terasa pahit sebagaimana pernah dicontohkan oleh Abu Dzar, Ahmad bin Hanbal, Hasan al-Bashri dan lain-lain. Semoga! (email: hb_noor@yahoo.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
VS
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved