Melihat Tradisi Bakar Tempurung Kelapa Malam 27 Ramadhan
TEMPURUNG kelapa kering itu disusun menghadap ke atas berderet di sepanjang jalan depan
TEMPURUNG kelapa kering itu disusun menghadap ke atas berderet di sepanjang jalan depan rumuh penduduk Muara Pea, Singkil Utara, Aceh Singkil. Begitu bedug magrib tiba pada Jumat (1/7) itu, warga serentak membakarnya.
Lidah api dari pembakaran batok kelapa yang disusun setinggi kira-kira 1,5 meter meliuk-liuk tertiup angin. Asap pembakaran pun mengepul. Suasana kampung terasa meriah apalagi bocah-bocah kecil lari berseliweran mengetahui adanya pemkaran tempurung kelapa dimulai.
Tradisi bakar tempurung kelapa kering masih dipertahankan sebagian warga Aceh Singkil. Tradisi ini dilakukan setiap malam 27 Ramadhan. Salah satunya dilakukan warga Muara Pea yang berada di pinggir jalan utama Singkil-Subulussalam.
Api yang berasal dari pembakaran tempurung kelapa dibiarkan menyala sepanjang malam. Tradisi tersebut berlangsung turun temurun sejak penduduk setempat tinggal di pinggir sungai. “Bakar tempurung kelapa ini sudah dilakukan sejak dahulu. Selain bakar tempurung kelapa ada juga yang bikin obor,” kata Nazar penduduk Muara Pea.
Membakar tempurung kelapa setiap malam 27 Ramadhan dilakukan sebagai salah satu bentuk menyambut datangnya malam lailatul qadar serta bentuk kegembiaran karena lebaran sudah dekat. “Bagi anak-anak kalau orang tua sudah membakar tempurung kelapa berarti hari raya sudah dekat. Tentu saja mereka gembira karena dapat baju baru,” ujar Nazar.
Kebiasan membakar tempurung kelapa saban tidak hanya milik warga Muara Pea. Sebagian penduduk lainnya di Aceh Singkil, juga melakukan tradisi itu. Beberapa di antaranya ada yang menyalakan obor dan lilin. Bahkan seusai magrib suara ledakan mercon dan kilau cahaya kembang api juga turut mewarnai kemirahan malam-malam terakhir puasa 1437 H.(dede rosadi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/warga-muara-pea-singkil-utara-aceh-singkil-membakar_20160705_090410.jpg)