Rabu, 6 Mei 2026

Kisah “Desa Impian”, Begini Potret Pendidikan Di Aceh

Insya Allah satu anak Tampur Paloh akan bisa kembali bersekolah, satu generasi Aceh akan bisa terbebas dari putus sekolah

Tayang:
Penulis: Amirullah | Editor: Amirullah
FACEBOOK/EDI FADHIL
Untuk menuju desa ini kita harus naik boat selama 7 jam dari Kuala Simpang, Kab. Aceh Tamiang. Di Desa ini hanya ada sekolah SD Negeri dan SMP Swasta. Pasca tamat SMP kebanyakan anak perempuan harus menikah dan anak laki-laki akan bekerja mencari kayu ke hutan. 

SERAMBINEWS.COM – Beberapa hari ini publik di Aceh disuguhi berita polemik proyek videotron sebagai media kampanye pendidikan.

Para pakar menyebut program itu tidak prioritas, tetapi Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Hasanuddin Darjo menyebut program itu sebagai terobosan yang memiliki keunggulan menjadi tontonan menarik bagi masyarakat dan sekaligus bisa menjadi hiburan.

Biarlah polemik videotron itu berjalan, jadi atau tidak direalisasi proyek tersebut, kiranya anda bisa menyempatkan membaca dan melihat foto-foto bagaimana sesungguhnya potret pendidikan di Aceh saat ini. (BACA: Batalkan Videotron atau Copot Darjo)

Jika berita videotron dianggap baik, mari kita bandingkan apa yang disajikan Edi Fadhil seorang aktivis sosial kemasyarakatn di laman facebooknya.

Edi Fadhil memang sering menyuguhkan fakta lain dari persoalan yang ada di tengah masyarakat. Misal saat pemerintah masih tarik ulur memberikan bantuan rumah bagi dhuafa, Edi bersama jaringan sosial medianya malah sudah berbuat mendirikan rumah-rumah warga yang hidup tidak layak.

Berikut ini, satu catatan perjalan Edi Fadhil bersama rekannya ke sebuah Desa di pedalaman Simpang Jernih, Aceh Timur. Ia kembali menantang netizen untuk berbuat nyata bagi kemajuan pendidikan di Aceh. “Mau Terima Tantangan Saya? Dicari 38 Orang Petarung” begitu ia menulis ajakan bagi siapa yang mau berbuat bagi Desa Impian.

Berikut catatan yang ditulis Eddi Fadhil di laman facebooknya; silakan bandingkan dengan proyek videotron yang sedang menyita perhatian dalam beberapa hari ini.

“Atas informasi dari seorang sahabat, Desember tahun lalu saya bersama Kak Nuu Husien, Bang Aulia Auliyyaa Rohendi dan bang Tar Mantong mengunjungi SMP Merdeka di Gampong Tampur Paloh Kec. Simpang Jernih Kab. Aceh Timur.

Februari 2016 saya kembali mengunjungi desa ini. Saya menyebut desa ini sebagai "desa impian", banyak hal yang tidak kita dapat di sekitar kita bisa kita dapat di desa ini. Tidak ada sinyal HP disini, tidak ada jalan aspal dan tidak ada listrik.

Untuk menuju desa ini kita harus naik boat selama 7 jam dari Kuala Simpang, Kab. Aceh Tamiang. Di Desa ini hanya ada sekolah SD Negeri dan SMP Swasta. Pasca tamat SMP kebanyakan anak perempuan harus menikah dan anak laki-laki akan bekerja mencari kayu ke hutan.

Hanya ada satu dua orang yang memilih bersekolah dengan nge-kost ke Langsa atau Kuala Simpang. Ada SMK Pertanian di pusat kecamatan yang hanya bisa di diakses dengan boat (perjalanan Boat 1,5 jam dan tidak ada boat reguler, jika ada boat, murid tidak sanggup membayar). Kondisi yang sama dialami 3 desa lain di sekitar Tampor Paloh (Desa Meulidi, Tampur Bor dan HTI Ranto Naru). Tamat SMP anak-anak akan putus sekolah.

Tidak ada kantin di Sekolah SMP, tidak ada upacara bendera, tidak ada pustaka dan hanya ada 2 guru yang mengajar. Mereka bisa saja sekolah di hari sabtu dan minggu serta libur di hari senin atau selasa (sesuai adanya guru). Murid tidak semua berseragam dan kadang kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 belajar di satu ruang yang sama karena ketiadaan guru.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved