Senin, 27 April 2026

Banjir Bandang Landa Aceh Selatan

Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Aceh Selatan pada Senin (18/7) sore menyebabkan banjir

Editor: bakri
Banjir bandang melanda Gampong Jambo Papeun, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (19/7) sore 

TAPAKTUAN - Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Aceh Selatan pada Senin (18/7) sore menyebabkan banjir bandang di Kecamatan Meukek dan Sawang. Sejumlah rumah penduduk di dua kecamatan dan sarana irigasi serta infrastruktur milik pemerintah dilaporkan ikut rusak. Selain itu, di beberapa titik ruas jalan nasional Banda Aceh-Medan juga tertimbun tanah longsor.

“Longsor di kawasan Gunong Alue Kliet kawasan Alue Paku perbatasan antara Sawang dan Meukek pada Senin (18/7) ini juga menyebabkan kemacetan lalu lintas yang cukup panjang,” kata Wakil Ketua DPD I Golkar Aceh Suprijal Yusuf SH kepada Serambi kemarin.

Menurut Suprijal saat kejadian ia kebetulan berada di lokasi, namun penanganan akibat dari kejadian itu dinilai lamban. Semestinya, kata dia, pemerintah harus menyiagakan alat berat di kawasan rawan longsor, sehingga begitu terjadi musibah longsor dapat ditangani segera. “Karena ini jalan nasional, kita minta Pemerintah Aceh membangun tebing pengaman di pinggir jalan yang rawan longsor, supaya kejadian seperti ini tidak terus terjadi yang bisa mengancam keselamatan pengguna jalan,” ujarnya.

Suprijal juga menambahkan ancaman longsor juga terjadi di kawasan Gunong Tuwi perbatasan antara Gampong Blang Kuala dengan Desa Rot Teungoh, Kecamatan Meukek, atau tepatnya di lokasi pengambilan batu gajah. Selain ancaman longsor, air yang turun dari gunung juga melaju cukup kencang dan mengancam keselamatan pengguna jalan. “Kita khawatirkan batu gajah di lokasi tersebut ambruk dan menimpa pengguna jalan, karena posisinya sangat rawan,” ungkapnya.

Suprijal menyebutkan tiang listrik juga ikut tumbang di ruas jalan nasional tepatnya di Gampong Sawang Satu, Kecamatan Sawang dan di Gampong Tarok Meukek. “Saya lihat tiang listrik sekarang juga sangat rapuh dan rawan patah. Kejadian ini sudah sangat sering terjadi dan perlu segera dicari solusi memakai tiang yang lebih kokoh,” sebutnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Selatan Erwiandi kepada Serambi mengatakan longsor yang terjadi di Gunong Alue Kliet cukup parah. “Kawasan pengunungan Panjupian juga longsor kemarin, namun masih bisa dilewati. Saya sudah koordinasikan dengan Pak Kepala Satker 11 untuk mengerahkan alat berat, sudah kita koordinasikan, dan mereka sudah mengerahkan alat berat dari Blangpidie,” jelas Erwiandi.

Terkait adanya tiang listrik yang tumbang di badan jalan daerah Sikabu Tarok, Meukek dan Sawang I, pihaknya sudah berkoordinasi dengan PLN Rayon Blangpidie karena kawasan tersebut termasuk wilayah Rayon Blangpidie.

Anggota DPRA Dapil 9 dari Partai Nasdem Yunardi Natsir menyatakan prihatin atas bencana banjir bandang dan longsor di Aceh Selatan. Dia menilai kejadian itu akibat terlalu serampangannya Pemkab Aceh Selatan mengeluarkan rekomendasi bagi perusahaan galian C beroperasi di daerah itu.

“Kita meminta agar pengambilan batu gajah itu segera dihentikan. Perusahaan wajib membayar ganti rugi atas kejadian ini. Saya juga akan surati Gubernur Aceh agar meninjau kembali izin perusahaan galian C,” ujar Yunardi yang ikut meninjau lokasi bersama tokoh masyarakat setempat.

Menurut Yunardi banjir bandang yang menerjang beberapa desa dalam Kecamatan Meukek dan Sawang disebabkan pengambilan batu gajah yang serampangan sehingga membuat tebing sungai ambruk disapu banjir. “Akibat aliran sungai mendangkal membuat air cepat meluap dan menerjang pemukiman penduduk,” ungkapnya. Ia juga menambahkan banjir terjadi karena pohon-pohon di lokasi pegunungan tersebut telah ditebang. “Coba lihat di lokasi longsor, kan sudah gundul. Jadi bagaimana tidak longsor, sebab perpohonan di lokasi tersebut sudah ditebang habis,” ungkap politisi Nasdem itu.(tz)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved