Puisi

Kenangan Masa Kecil

Buaian itu masih mengendap meskipun waktu akan tetap melemparnya

Editor: bakri

Karya Taufik Sentana

1

Buaian itu masih mengendap

meskipun waktu akan tetap melemparnya

ke ruang senja.

2

Layang-layang yang kemarin menyisir angin

sepertinya akan terus meninggi

dengan benang-benang mimpi;

Hanya isyarat waktu yang membawanya kembali

3

Aku dan  beberapa teman berlari berkejaran

di antara pohonan kelapa yang berbaris.

Sinar mentari yang menguning

menghampiriku sepulang dari maktab Muhajir

tempatku mengaji.

4

Sungai Deli yang tak lagi dalam

dan airnya yang berwarna tanah liat

menjadi penawar di usai sekolah

5

Asinnya muara laut pernah singgah

di kehidupan kecilku

:mencari udang dan kepiting,

memilah pelepah nipah untuk disemat menjadi atap

Dan saat pasang besar tiba

kami berenang sepuasnya sambil bertelanjang dada.

6

Di rumah kecil itu

kenangannya melekat,

saat kakek bercerita selepas Magrib

tentang Nabi dua puluh lima.

Di rumah kecil itu, kenangannya terpahat:

membawa harapan kami yang besar

dan kasih ayah-mak yang lebar

Di Mesjid

dari isyarat gema azan

dari takbir ke salam

dari tegak ke sujud

dari shaf-shaf yang rapat;

dari jantungnya

sang waktu bernafas

Puisi Malam

Hari kemarin yang robek

di almanak

akan segera membusuk.

Sebelum kau sembunyikan malam

di doamu yang rimbun,

sebelum lambungmu yang nakal

kau jinakkan dengan tegak-ruku’

 Puisi Pagi

Segala puji telah menjadi sayap putih.

Diantara bising waktu

harapan menjalar

ke tepi senja yang damai

Puisi Siang Hari

Aceh

Tanah yang basah

Dan sejarah yang mengendap

Lalu rindu berbuih menjadi bakal hujan

* Taufik Sentana; peminat seni, sains,  dan kreativitas. Guru PAI di MTs Harapan Bangsa Meulaboh. Bergiat di Forum Menulis Kreatif dan Ikatan Da’i Indonesia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved