Hentakan Rapa-i dari Taman Ratu
Sejak Jumat (26/8) malam, Banda Aceh seperti disulap menjadi kota kesenian tradisi yang terus
BANDA ACEH - Sejak Jumat (26/8) malam, Banda Aceh seperti disulap menjadi kota kesenian tradisi yang terus menggalakkan kesenian rapa-i, salah satu alat musik tradisional Aceh yang sudah mendunia. Riuh gemuruh dan hentakan kuat rapa-i terdengar dari Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, tempat digelarnya acara spektakuler bertajuk Aceh Internasional Rapa-i Festival 2016.
Acara yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh itu dihelat dari 26-30 Agustus, beragam jenis permainan rapa-i ditampilkan, seperti rapa-i pasee, rapa-i geurimpheng, rapa-i pulot, dan berbagai jenis lainnya. Acara ini turut dimeriahkan oleh musisi lokal, nasional, hingga mancanegara. Selain dipusatkan di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh, rangkaian acara juga digelar di dua tempat lainnya, yakni di Taman Budaya dan Museum Tsunami.
Kemeriahan acara Aceh Internasional Rapai Festival 2016, terlihat saat pembukaan yang disaksikan ribuan penonton di Taman Ratu Safiatuddin. Para penonton terpukau dengan hentakan rapai yang ditabuh oleh 150 penabuh rapa-i dari berbagai sanggar dan komunitas di Aceh. Beragam jenis rapa-i ditabuh dan dimainkan serempak dalam garapan kolosal bertajuk Sa (satu).
Hadirnya puluhan penari rapa-i geleng yang menari mengikuti ritme tabuhan rapa-i serta dikolaborasikan dengan musik modern, membuat pembukaan Aceh Festival Rapai Internasional tampak sangat meriah. Dua penyanyi kenamaan Aceh, Indra Helmi dan Joel Pasee ikut menghentakkan panggung, mereka menyanyikan syair syailillah dan pasang jabet di bawah kelap kelip lampu panggung yang sangat spektakuler.
Sabtu (27/8) sore, rangkaian acara Aceh Internasional Rapai Festival 2016 dilanjutkan dengan penampilan world art performing dari Fiedl Player (Malaysia), Miladomus (China), dan Palito Nyalo (Sumatera Barat) di Museum Tsunami. Malamnya, giliran Rafly Kande tampil memukau di panggung utama, Taman Ratu Safiatuddin. Selain Rafly Kande, juga tampil grup rapa-i tradisi Bur’am, gendang melayu Aceh Tamiang, dan grup Rapa-i Tuha Lamreung.
Amatan Serambi, hingga tadi malam acara masih berlangsung meriah, musisi internasional Daood Debu juga ikut bagian, ia menampilkan permainan perkusinya di panggung utama, termasuk beberapa grup musik etnik Aceh di antaranya Cupa Band. Di panggung Taman Budaya, grup rapa-i Pasee ‘Raja Buawah’ juga tampil cukup memukau memeriahkan rangkaian acara tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Reza Fahlevi kepada Serambi Minggu (28/8) mengatakan, perhelatan Aceh Internasional Rapa-i Festival 2016 digelar sebagai upaya Pemerintah Aceh untuk terus melestarikan nilai-nilai tradisi, khususnya musik etnik Aceh. “Rapa-i alat musik daerah kita, selama ini gaungnya juga mulai mendunia, jadi tidak salah kita terus melesatarikannya. Kita terus memberi tahu kepada masyarakat luas, bahwa Aceh punya nilai-nilai tradisi yang sangat kuat,” kata Reza Fahlevi.
Selain itu, sambung Reza, kegiatan yang bertaraf internasional itu guna meningkatkan minat dan kapasitas para pelaku seni yang ada di Aceh. Kegiatan itu juga sengaja menghadirkan seniman perkusi dari Indonesia, Thailand, China, Malaysia, Iran, untuk memperkenalkan alat musik tradisi Aceh.
“Ini sebagai upaya kita memperkenalkan destinasi wisata halal di Indonesia untuk dunia. Kegiatan ini bukan penampilan panggung saja, tapi juga ada klinik dan seminar tentang musik agar para seniman bisa salin tukar pengalaman,” pungkas Reza Fahlevi.
Malam nanti, panggung utama Aceh Internasional Rapa-i Festival 2016 di Taman Ratu Safiatuddin, akan dimeriahkan drumer papan atas Indonesia, Gilang Ramadhan, dan world art performing oleh Miladomus dari China. Sementara musisi dan grup kesenian/musik lokal seperti Sanggar Cut Mutia Aceh Utara, Aceh World Music Evan Biedjeh, Tangke, dan lainnya dipastikan juga akan tampil menghibur.(dan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/para-seniman-menabuh-alat-musik-tradisional_20160829_092633.jpg)