Breaking News
Kamis, 9 April 2026

Legenda Rapa-i Memecah Malam

SUARA rapa-i yang ditabuh puluhan pemain menghentak Taman Budaya, Banda Aceh

Editor: bakri
Drumer terbaik Indonesia, Gilang Ramadhan tampil pada Aceh Internasional Rapai Festival 2016, di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Senin (29/8) malam. Acara yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh itu menampilkan berbagai penampilan rapai dan turut dimeriahkan oleh musisi lokal, nasional, hingga mancanegara. SERAMBI/BUDI FATRIA 

SUARA rapa-i yang ditabuh puluhan pemain menghentak Taman Budaya, Banda Aceh, Minggu (28/8) malam. Warna-warni khas yang membalut tubuh para pemain yang sebagian besar terbilang tak muda lagi itu menegaskan dari mana kesenian itu berasal. Semburat warna-warna menyala ditingkap temaram cahaya dari jejeran obor dan lampu sorot menambah gemerlap acara. The Light of Aceh.

Agama yang menjadi ruh dalam berkesenian demikian kentara di Bumi Serambi Mekkah. Keberadaannya lestari hingga kini. Kehadiran sang legenda ‘Raja Buwah’ yang dikenal sebagai ‘bapak’-nya rapa-i diundang khusus mengisi ‘Aceh Intenational Rapa-i Festival 2016’ perkusi Aceh untuk dunia. Keberadaannya mencuri perhatian pengunjung lewat permainan rapa-i gantung yang ditabuh secara berkelompok.

Budayawan Aceh, Barlian AW yang berinteraksi dengan pemain menjelaskan riwayat kesenian dan grup legendaris asal Pase tersebut.

“Rapa-i berasal dari Pase dan kemudian menyebar ke seluruh Aceh. Grup rapa-i Raja Buwah merupakan bapaknya rapa-i,” terang Barlian di hadapan sekitar 300-an pengujung yang hadir. Uniknya, setiap rapa-i disematkan nama khusus dan Raja Buwah mempunyai riwayatnya tersendiri sehingga dipilih menjadi nama grup.

Menggabungkan unsur kulit sapi, rotan, dan kayu pilihan yang menghasilkan suara yang khas. Lazim dimainkan semalam suntuk sebagai hiburan rakyat. Konon cerita mistis membungkus alat musik tradisional itu sehingga untuk memainkannya harus diawali dengan peusijuek.

Cerita sebuah rapa-i bukan sekadar alat musik, tapi juga menjadi bagian dari ritual yang hidup dan dibesarkan oleh masyarakat yang berdiam di dalamnya. Dalam riwayat dituturkan bahwa rapa-i berasal dari nama seorang ulama asal Timur Tengah yang membawa Islam ke Aceh, Syech Rifa’i. Alat musik tersebut menjadi media penyebaran agama di daerah yang dikenal sebagai pintu masuknya Islam ke Nusantara.

Dalam perkembangannya, selain Raja Buwah dari Pase juga terdapat rapa-i kreasi seperti Grup Lagee dan Grup Geurimpheng asal Pidie yang mengisi sesi kedua. Bedanya, grup ini dimainkan oleh belasan pemain muda yang dengan piawai menabuh dan melenggak-lenggokkan kepala mengikuti syair sang syech. Malam beranjak tua, gerimis mulai menyapa. Sementara pertunjukan masih terus berlangsung. Seperti hadih maja: peunajoh timphan, piasan rapa-i.(nurul hayati)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved