Sabtu, 9 Mei 2026

Situs Bersejarah, Bukti Kejayaan Aceh Tempo Dulu

Para ahli dan akademisi memaparkan hasil kajian mereka, baik yang berkaitan dengan ilmu sosial

Tayang:
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Fatimah
IST
Prof Karim Crow 

Laporan Yarmen Dinamika I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Peranan dan interaksi Aceh dalam komunitas dan perdagangan internasional sejak ratusan tahun lalu terungkap dari penemuan situs-situs bersejarah yang ada di Aceh, berdasarkan riset para peneliti.

Ada sejumlah peneliti sejarah yang mengkaji dan meneliti hasil temuan mereka berupa benda-benda peninggalan masa lalu di Aceh.

Salah satu hasil kajian itu dipaparkan Dr Ed McKinnon dan Dr Yewseng pada Konferensi Internasional I tentang Kajian Keislaman (ARICIS I) yang berlangsung di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (27/10/2016) siang. Konferensi itu berlangsung dua hari, sejak Rabu, dibuka Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr M Machasin MA.

Panitia mengusung tema untuk konferensi ini Rethinking Islamic Civilization: Reawakening Muslim Social Ethics, Intellectual and Spiritual Tradition.

Walaupun belum sampai pada tahap kesimpulan akhir, tapi riset yang mengambil sampelnya di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh--meliputi 43 desa di pinggiran pantai--itu juga bertujuan untuk mengkaji dampak dari sejarah tsunami di beberapa wilayah ini selama beberapa milenium terakhir.

Menurut Dr Ed Mckinnon, ada tiga kategori utama nisan yang ditemukan di beberapa desa di lokasi penelitian. Yang pertama adalah nisan Plang Pleng yang diidentifikasi berasal dari akhir abad 13 hingga tahun 1480-an.

Yang kedua adalah batu Aceh yang berasal pada tahun 1480-an hingga abad 19. Ada lagi batu sakrah atau batu sungai.
"Saat ini kami sudah mencatat sebanyak 5.077 batu nisan, termasuk 35 nisan Plang Pleng," papar peneliti dari Earth Observatory Singapore (EOS), Nanyang Technological University, Singapura itu.

Kolega Mckinnon dari EOS, Dr Yewseng memaparkan jenis-jenis keramik masa lalu yang ditemukan di Aceh. Contohnya, keramik Cina yang ditemukan di beberapa daerah di Aceh ternyata berasal dari berbagai provinsi di Cina yang diperkirakan berasal dari abad 12.

"Hal ini mengungkapkan bahwa sejak abad tersebut Aceh sudah melakukan transaksi dan perdagangan internasional," simpulnya.

Tidak hanya dari Cina, benda peninggalan bersejarah seperti itu juga dipastikan berasal dari negara-negara lain, seperti Jepang, Burma (sekarang Myanmar), Jerman, hingga Inggris, pada abad 19.

Seorang pembicara lainnya, Izziah PhD, Dosen Arsitektur dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh memaparkan hasil penelitiannya tentang keunikan lingkungan kota dan desa Aceh yang memiliki kekayakaan tradisi budayanya. Kajian yang dilakukan pakar arsitektur wanita ini lebih menitikberatkan pada perkembangan masjid di Aceh sejak era prakolonial hinga pascakolonial.

"Hasil kajian kami menyimpulkan bawa isu-isu tentang lintas budaya, perpaduan aspek sosial, dan aspek politik memiliki berbagai dampak dalam bentuk masjid-masjid di Aceh," ungkapnya.

Selain kajian tentang interaksi sejarah Aceh dengan peradaban dunia, salah seorang pembicara kunci, Dr Imtiyaz Yusuf, akademisi dan Direktur Center for Buddhist-Muslim Understanding, Universitas Mahidol Thailand, memaparkan tentang peradaban dan agama-agama masyarakat Asia saat ini.

Kajian Dr Imtiyaz lebih memfokuskan pada interaksi dan dialog antara umat muslim dan Budha.

Konferensi internasional ARICIS I yang berlangsung sejak tanggal 26 hingga 27 Oktober itu merupakan perhelatan ilmiah akbar pertama yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu dan kajian Islam.

Para ahli dan akademisi memaparkan hasil kajian mereka, baik yang berkaitan dengan ilmu sosial seperti pendidikan, filsafat, sejarah, ekonomi, maupun kajian ilmu alam.

"Kami berharap pertemuan ilmiah seperti ini tidak berhenti di sini. Insya Allah kita akan adakan konferensi ilmiah bertaraf internasional seperti yang sudah kita laksanakan saat ini," ujar Prof Eka Sri Mulyani, Guru Besar UIN Ar-Raniry yang menjadi ketua panitia konferensi itu. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved