Rabu, 27 Mei 2026

Citizen Reporter

Kisah Duka Masjid Krisek Pattani

MASJID bagi umat Islam tidak hanya sebagai tempat pelaksanaan shalat berjamaah, tetapi juga perekam jejak

Tayang:
Editor: bakri

OLEH SAMSUL BAHRI, Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Ar-Raniry dan Anggota MPU Kota Banda Aceh, melaporkan dari Pattani, Thailand

 MASJID bagi umat Islam tidak hanya sebagai tempat pelaksanaan shalat berjamaah, tetapi juga perekam jejak sejarah yang sangat berarti. Di antara masjid yang sangat menonjol masuk dalam kategori ini adalah Masjid Krisek yang terdapat di Pattani.

Masjid ini sekilas terlihat seperti sebuah bangunan yang belum selesai. Dinding masjid terbuat dari batu bata merah tanpa pelaster. Lantai masjid juga demikian, terbuat dari batu bata merah yang tersusun secara diagonal. Masjid ini tak berkubah. Pada bagian atasnya dibuatkan atap seng sebagai peneduh sekaligus untuk menghindari masuknya air saat hujan.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, Masjid Krisek sudah berusia 200 tahun lebih. Uniknya, masjid ini terkesan seperti sedang dalam proses pembangunan.

Masjid Krisek terdapat di Kampung Krisek dan berada dalam mukim Tanyong Lu Lo, sekitar 6 km dari pusat kota Pattani sekarang. Dalam bahasa warga setempat, krisek artinya pasir kasar. Ini sesuai dengan kenyataan bahwa pasir di pantai kawasan ini berukuran agak kasar. Selanjutnya, Tanyong Lu Lo yang digunakan sebagai nama mukim wilayah ini menurut H Ahmad bin Awang selaku imam Masjid Krisek adalah berasal dari Bahasa Arab; lu’lu’ artinya mutiara. Ia mengatakan, pedagang Arab tempo dulu datang ke kawasan ini dan melihat pasir yang berukuran agak besar dan berkilau saat diterpa cahaya matahari, sehingga mereka sebut lu’lu’ yang berarti mutiara. Ungkapan ini kemudian digunakan menjadi nama mukim yaitu Tanjung Lukluk yang dalam pengucapan bahasa Thailand menjadi Tanyong Lu Lo.

Sejauh ini sulit dipastikan kapan permulaan masjid ini dibangun. Sebagian sumber menyebutkan, Masjid Krisek dibangun pertama kali pada masa Sultan Muzaffar Syah yang memeritah tahun 1530-1564 M. Namun, tidak selesai dibangun, akibat perang saudara.

Setelah lama terhenti, pembangunan masjid dilanjutkan pada masa Ratu Hijau yang memerintah antara tahun 1584-1616 M.

Seorang perantau asal Cina bernama Lim Tau Khiang ditunjuk sebagai penanggung jawab pembangunan masjid tersebut. Sumber sejarah lokal mencatat, Lim Tau Khiang telah lebih dulu masuk Islam dan berkhidmat sebagai seorang prajurit pilihan di Kesultanan Pattani.

Terkait dengan penunjukan Lim Tau Khiang sebagai penanggung jawab dalam pembangunan masjid menyisakan sekelumit legenda. Disebutkan bahwa semasa membangun masjid, Lim Tau Khiang menerima berita bahwa ibunya sakit dan ia diminta untuk segera pulang ke negeri asalnya. Lim Tau Khiang enggan pulang karena tugas yang dibebankan kepadanya belum diselesaikan. Adik Lim Tau Khiang yang bernama Lim Tau Nio menyusul ke Pattani dan membujuk sang abang untuk pulang. Lim Tau Khiang bersikukuh tidak mau pulang ke Cina sebelum masjid itu selesai. Tak lama berselang, terdengar berita bahwa ibu mereka meninggal dunia. Lim Tau Nio sangat kecewa, lalu bunuh diri setelah menyumpahi agar masjid tersebut tidak pernah selesai.

Menurut cerita versi lainnya, Lim Tau Nio tidak bunuh diri. Kakak beradik ini tewas bersama puluhan orang akibat serangan prajurit kerajaan Siam. Versi kedua agaknya didukung oleh data sejarah yang menyebutkan bahwa pada 1638 Kerajaan Siam menyerang Pattani.

Terlepas dari berbagai legenda dengan beragam versinya, Masjid Krisek menyimpan banyak sejarah. Masjid ini menjadi saksi bisu ketika pejuang muslim Pattani menjadikannya sebagai benteng pertahanan saat melawan serangan pasukan Siam dalam empat pertempuran yang terjadi pada tahun 1603, 1632, 1634, dan 1638. Masjid Krisek berkali-kali menjadi sasaran serangan prajurit Kerajaan Siam karena masyarakat setempat menjadikannya sebagai pusat gerakan.

Hingga saat ini pergerakan kaum muslimin Pattani dalam menuntut kemerdekaan belum terhenti. Dalam satu bulan terakhir ini, menurut warga setempat, tidak kurang sudah terjadi sekitar sepuluh kali ledakan bom. Di sejumlah ruas jalan Pattani saat ini terdapat rintangan buatan, terutama yang bersisian dengan perkantoran pemerintah dan militer, mirip suasana Aceh pada masa konflik dulu.

Tumpukan karung pasir sebagai pelindung, kawat berduri, dan prajurit yang menenteng senjata api laras panjang menjadi pemandangan rutin di beberapa tempat dalam Provinsi Pattani. Sejumlah ruas jalan diberlakukan aturan buka-tutup pada malam harinya.

Masjid Krisek sendiri hanya dibuka menjelang waktu-waktu shalat dan segera ditutup setelah pelaksanaan shalat berjamaah selesai. Agaknya, ada kekhawatiran pemerintah jika Masjid Krisek dimanfaatkan untuk kepentingan pergerakan. Masjid ini boleh saja ditutup, bahkan dirusak, dan dibakar seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Akan tetapi, jangan lupa bahwa Masjid Krisek tak akan pernah hilang dari hati. Masjid Krisek akan selalu ada di hati. Termasuk di hati saya, sehingga merasa sangat perlu menuturkan kisah duka sekaligus unik ini kepada pembaca.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved