Citizen Reporter
Jalan Tol Bawah Laut 3 Tingkat di Istanbul
AWAL bulan lalu saat baru mendarat di Istanbul, saya menyaksikan salah satu megaproyek Pemerintah Turki
OLEH AZWIR NAZAR, Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) seluruh Turki, melaporkan dari Istanbul
AWAL bulan lalu saat baru mendarat di Istanbul, saya menyaksikan salah satu megaproyek Pemerintah Turki di bawah Adalet Kalkinma Partisi (AKP) yang kembali diuji coba. Saat itu, Perdana Menteri Yildirim bersama Presiden Turki Recep Thayeb Erdogan mengendarai sendiri mobil yang melintas di jalan tol bawah laut tersebut, sekaligus mencatatkan dirinya sebagai pelintas pertama tol bersejarah dengan mobil dinas kenegaraan. Jalan tol mirip terowongan raksasa tersebut diberi nama Eurasia Tunnel.
Sejak diterpa kudeta gagal 15 Juli lalu dan pemerintah kembali memperpanjang tiga bulan status darurat, Turki dihadapkan pada berbagai persoalan pelik internal maupun pengaruh geopolitik kawasan yang terus memanas. Kurs mata uang Turkish Lira (TL) juga mengalami tren penurunan, ditambah penangkapan besar-besaran kelompok yang diduga pelaku kudeta, telah mengakibatkan banyak turis mancanegara mengurungkan niatnya ke Turki.
Tapi, sejauh ini meski diterpa berbagai ancaman dan serangan bom, terutama di perbatasan, baik yang dilakukan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) maupun pemberontak Kurdi (PKK), Pemerintah Turki kembali ingin menunjukkan optimismenya sebagai negara kuat.
Uji coba salah satu megaproyek yang akan diresmikan pada akhir tahun ini memberi isyarat kepada para musuh bahwa Turki belumlah berakhir. Pemerintah bersama rakyat berusaha bangkit dan secara on the track menuju cita-cita dan target “Yeni Turkiye” (Turki Baru) pada tahun 2023 sebagai salah satu negara ekonomi tangguh di dunia.
Pada akhir 2013, saat baru pertama di Turki, saya juga sempat menyaksikan kehebatan Turki yang meresmikan kereta api bawah laut Marmaray yang menghubungkan Asia dan Eropa di Istanbul. Kereta api listrik bawah laut Marmaray didengungkan sebagai mimpi para Sultan Ustmani ratusan tahun lalu yang diwujudkan pada masa pemerintahan Erdogan. Sementara Eurasia Tunnel yang akan diluncurkan 20 Desember dianggap lebih mercusuar dan menakjubkan karena berbentuk tol jalan raya di bawah laut, terdiri atas tiga lantai (tingkat).
Laporan terkait menunjukkan sejumlah persiapan seperti ruas jalan dan terowongan telah berhasil diaspal dan diselesaikan, plus disertai dengan papan (plang) petunjuk jalan atau arah.
Tol jalan raya tersebut diharapkan akan menjadi jembatan penghubung kedua setelah Marmaray. Sekaligus akan mempercepat waktu tempuh bagi pengendara dari kawasan Asia ke Eropa maupun sebaliknya.
Berada pada kedalaman 106,4 meter di bawah permukaan laut, dengan total panjang terowongan mencapai 5,4 km, dan 3,34 km berada di dalam laut, diperkirakan nantinya waktu tempuh mobil antara Kazliçesme di bagian Eropa dengan Göztepe di sisi Asia cukup ditempuh dalam 15 menit saja. Padahal, pada hari biasa waktu tempuhnya rata-rata 100 menit, terutama pada jam-jam sibuk.
Para pejabat pemerintah mengklaim Eurasia Tunnel akan memberi kontribusi positif bagi perekonomian Turki yang sedikit banyak terguncang pascakudeta yang menimpa negara dua benua itu Juli lalu. Dengan adanya tol jalan raya baru ini diharapkan akan dapat menghemat penggunaan bahan bakar juga penurunan emisi karbon.
Seperti halnya jalan penyeberangan atau tol di darat, para pengendara juga akan membayar uang tol dengan sistem pembayaran otomatis untuk dapat menyeberang menggunakan Eurasia Tunnel yang melintas di bawah Selat Bosphorus yang masyhur bagi pelancong dunia itu.
Megaproyek yang menghabiskan dana hingga 1,5 miliar dolar tersebut diprediksi para pakar dapat bertahan hingga 127 tahun dan dikerjakan dengan model proyek Build-Operate-Transfer.
Secara konsep dan masterplan, Eurasia Tunnel telah mengalami uji kelayakan yang cukup lama sejak muncul inisiatif untuk membuat jalur penyeberangan alternatif di jalur sibuk Selat Bosphorus. Dengan melibatkan pihak kampus, seperti Istanbul University, Pemerintah Turki melalui Kementerian Transportasi, Maritim, dan Komunikasi telah mempertimbangkan soal lingkungan bawah laut, serta faktor risiko untuk menjawab sebagian kritikan.
Nah, bagi pelancong yang akan mengunjungi Turki tahun depan, Anda dapat menikmati sensasi naik mobil melewati tol bawah laut tiga lantai atau kereta listrik bawah laut yang menghubungkan Benua Asia dengan Eropa. Ini satu-satunya di dunia dan hanya ada di Istanbul.
Meski mengalami berbagai gejolak politik keamanan dalam negeri yang kuat beberapa tahun belakangan, tapi Pemerintah Turki di bawah kepemimpinan Erdogan selama 13 tahun ini telah berhasil meletakkan pilar-pilar pembangunan serta ekonomi berkaliber dunia yang membuat “ngeri” para musuhnya baik di Eropa maupun Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/azwir-nazar_20161206_092401.jpg)