Revitalisasi Pantun Aceh
Pantun lahir dari fenomena dan menjadi produk sosial sehingga yang terlihat dalam pantun adalah identitas
Oleh Muhammad Iqbal
Pantun lahir dari fenomena dan menjadi produk sosial sehingga yang terlihat dalam pantun adalah identitas masyarakat. Identitas itu berkaitan dengan struktur, fungsi, dan aktivitas sosial budaya sebagai latar belakang ehidupan masyarakat pada saat pantun itu diciptakan (Fananie, 2002). Pantun lahir karena adanya ide pikiran dan perasaan seseorang.
Pantun mewariskan dua hal, yaitu nilai dan hiburan. Salah satunya nilai yang bersifat mendidik (edukatif). Ruang lingkup dari nilai edukatif meliputi nilai etika, sosial, budaya, religi, dan estetika. Nilai-nilai itu hadir secara tersirat yang disampaikan melalui kata ungkapan ataupun kiasan pada pantun.
Di samping itu, pantun menjadi hiburan bagi pembaca karena setelah menikmati sebait dua bait pantun, pembaca akan merasa kesenangan dan kegembiraan, baik itu dari segi pola persajakannya ataupun pada segi permainan kalimat pada sampiran dan isinya (Kosasih, 2003). Salah satu bentuk puisi lama dan salah satu bentuk puisi tertua Indonesia adalah pantun. Masyarakat dulu di Indonesia khususnya di Aceh sering menggunakan pantun dalam kehidupan sehari-hari.
Pantun digunakan saat berkomunikasi, lebih-lebih dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Dengan pantun, komunikasi dan aktivitas sosial menjadi komunikatif karena di dalamnya terpadu antara isi/ pesan yang dikomunikasikan dengan unsur keindahan (Supardo, 1988).
Sebagai salah satu puisi lama, pantun memiliki ciri yang berbeda dengan jenis puisi lainnya. Adapun ciri pantun empat baris menurut Ahmad (1984) adalah (a) terdiri atas empat baris kalimat dalam sebait; (b) memiliki sajak ab/ ab; (c) memiliki sampiran, dan; (d) memiliki isi. Namun, khusus pantun Aceh memiliki keunikan spesifik pada pola zig-zag, yaitu rima baris pertama ebunyi dengan pertengahan rima baris kedua dan rima baris ketiga mempunyai kesamaan bunyi dengan pertengahan bunyi baris keempat.
Sebagai salah satu khazanah budaya masyarakat Aceh, pantun memiliki nilai-nilai dan bermacam-macam fungsi sosial. Fungsi sosial pantun sama dengan fungsi sosial yang terdapat dalam bentuk sastra lain, yaitu sebagai (a) pengantar nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat; (b) pedoman untuk menentukan sikap dan tingkah laku; (c) alat mawas diri; dan (d) saranapendidikan. Pantun kaya akan pesan religius, kritik, sosial, dan edukatif.
Suatu nilai yang apabila ihayati berpengaruh terhadap cara berpikir, bersikap, bertindak. Salah satu contoh pantun yang memiliki nilai dan pesan edukatif adalah ranub uneng on di Merduati // pineung wangi di Pasi Lamnga // ureueng gampng nyoe jroh hat budi // sabé meubri-bri ngn ureueng teuka (Zainuddin, M, 1965) (sirih kuning di Merduati // pinang harum di Pasi Lamnga // orang kampung ini berbudi-budi // saling merimemberi pada pendatang).
Sikap yang baik tersirat pada frasa jroh that budi yang dapat diejawantahkanpada sikap atau perilaku. Bersikap dapat bermacammacam: berbicara sopan, melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain, berperilaku bijak kepada sesama makhluk, dan sebagainya. Dengan begitu, segala sesuatu yang dilakukan oleh kaum, kelompok, atau individu akan memberikan cerminan bagi orang lain. Anjuran untuk bersedekah atau saling memberi juga terlihat pada penggalan kalimat sabé meubribri ngn ureueng teuka. Apabila pantun tidakdirawat dengan baik akan tidak bernilai lagi sebagai warisan budaya nenek moyang.
Pantun itu baru berharga bilamana masih dapat dibaca dan dipahami dan masih dianggap sebagai hasil sastra lama. Sehubungandengan hal itu, pantun, khususnya pantun Aceh, harus direvitalisasimelalui (a) pemaknaan terhadap pantun supaya dapat dipahami refleksirefleksi pikiran masyarakat terdahulu yang termuat di alamnya; (b) penggalian nilai-nilai melalui studi ilmiah; dan (c) mengemas pantun dalam bentuk karya yang mudah diterima oleh masyarakat, seperti dijadikan sebagai lirik lagu. Tentunya beberapa upaya ini adalah sebagian dari banyaknya upaya-upaya lain untuk merevitalisasi pantun supaya tetap hidup di abad ke-21 ini