Senin, 8 Juni 2026

Pro Duta Dilego ke Sragen

Satu lagi klub sepak bola profesional asal Sumatera Utara angkat kaki ke luar daerah

Tayang:
Editor: bakri

MEDAN - Satu lagi klub sepak bola profesional asal Sumatera Utara angkat kaki ke luar daerah. Setelah PS Bintang Jaya yang bertransformasi menjadi 575 Kepri Jaya, giliran Pro Duta yang berubah nama menjadi Sragen United.

Perubahan nama ini merupakan buntut peralihan kepemilikan klub dari Sihar Sitorus kepada pihak yang berkedudukan di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Informasi yang berkembang, pemilik baru tim yang dulu konsisten menggunakan punggawa muda itu merupakan Bupati Sragen.

Tak banyak informasi yang diperoleh terkait kronologis dan penyebab dilegonya Pro Duta ke Sragen. Sihar Sitorus yang dihubungi beberapa kali melalui telepon seluler tidak menjawab. Hal serupa ditunjukkan Wahyu Wahab, yang musim lalu menjabat CEO Pro Duta.

Padahal keterangan dua sosok ini sangat ditunggu fans sepak bola, khususnya pendukung tim yang dulu dijuluki Laskar Kuda Pegasus ini. “Isunya transaksi jual beli sudah sebulan lalu. Tapi keterangan resminya kita belum pernah dapat,” kata Joko Syahputra, jurnalis olahraga yang fokus di cabang sepak bola.

Apapun alasannya, kebijakan melepas Pro Duta layaknya PS Bintang Jaya ke Batam, Kepri merupakan kabar duka cita bagi pertumbuhan sepak bola Sumut. Terlebih Pro Duta, tim yang tidak pernah kekurangan dana ini seharusnya tidak ada alasan untuk meninggalkan Sumut.

“Persoalan klub sepakbola Indonesia itu biasanya dana. Kalau sektor ini saya meragukan menjadi kambing hitam dijualnya Pro Duta ke Sragen,” kata Slamet Riyadi, yang pernah menukangi Pro Duta di musim 2011/2012.

Sebagai bukti, Slamet yang kini membesut tim muda Persis Solo bersama Eduard Tjong mengingatkan kalau Pro Duta merupakan satu-satunya klub Indonesia yang tur ke Eropa, seperti Jerman, Italia dan Belanda. Di tiga negara itu, klub yang sempat bernama Pro Titan ini menjajal klub papan atas Eropa.

Ia pun menduga ada persoalan manajemen yang cukup serius di tubuh pro Duta, sehingga Sihar Sitorus, selaku pemilik memilih ‘menyerahkan’ tim ini ke pihak lain. Tapi merujuk sejarah panjang Pro Duta, Slamet yang juga mantan kapten PSMS Medan ini mengaku tidak heran bila Pro Duta hengkan dari Sumut dan berganti nama.

“Sejarahnya kan memang begitu. Seingat saya saja pernah homebase di Solo, Jakarta, Medan. Bahkan masa saya hombasenya di Lubukpakam,” ujar pelatih pemegang lisensi B AFC ini.

Edu Juanda, mantan kapten PSMS yang juga sempat membesut PS Kwarta menilai kepergian Pro Duta meninggalkan dampak buruk bagi pertumbuhan sepak bola Sumut. Saat ini peluang para pesepak-bola muda untuk unjuk gigi akan semakin berkurang.

“Tujuan pemain saat ini tinggal satu, PSMS. Dulu ada pilihan ke Pro Duta dan Bintang Jaya. Sampai sekarang yang di Deliserdang (PSDS) juga gak jelas kabarnya,” ucap Edu.

Secara global ia mengatakan, keterbatasan jumlah klub akan mengganggu perkembangan pemain. Sebab bukan hanya mengurangi peluang bermain, tapi mengancam membunuh bibit muda. “Karena merasa tidak ada kesempatan bermain, bibit muda yang potensial putus asa, dan memilih berhenti bermain,” bebernya.

Sementara Anysari Lubis yang sempat menjadi asisten Slamet dan kemudian menjadi suksesornya memilih tidak bersuara. Ia mengaku sama sekali tidak mengetahui kalau tim yang pernah dibesutnya itu sudah dibubarkan. “Saya tidak tahu, gak ada dengar,” ujar Ansyari yang mengaku belum memiliki klub.

Pro Duta yang didirikan tahun 1986 awalnya hanya klub amatir anggota internal Persib Bandung. Nama pertama yang digunakan ialah Bandung Putera. Namun di tahun yang sama, klub ini berubah nama menjadi Pro.

Setelah menjuarai Divisi I kompetisi internal Persib di tahun 1987, klub mulai menggunakan nama Pro Duta dan memutuskan menjadi tim profesional yang mengikuti kompetisi buatan PSSI. (mad)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved