BBPOM Segel Apotek di Beureunuen

Petugas Balai Besar Pengawasan Obat Makanan (BBPOM) Banda Aceh, Jumat (21/4), menyegel Apotek ‘Rasa Sayang’ yang berlokasi di pinggir jalan nasional

BBPOM Segel Apotek di Beureunuen
SERAMBI/NUR NIHAYATI
PETUGAS Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) memasang segel penghentian sementara Apotek RS di Beureuenun, Pidie, Jumat (21/4). SERAMBI/NUR NIHAYATI 

SIGLI - Petugas Balai Besar Pengawasan Obat Makanan (BBPOM) Banda Aceh, Jumat (21/4), menyegel Apotek ‘Rasa Sayang’ yang berlokasi di pinggir jalan nasional, Pasar Beureunuen, Pidie. Dengan penyegelan itu, apotek tersebut harus melakukan penghentian sementara kegiatan (PSK) mulai 10-30 April 2017 atau selama 21 hari.

Amatan Serambi, penyegelan apotek itu berlangsung pukul 16.00-17.00 WIB WIB. Tim BBPOM Banda Aceh didampingi Dinas Kesehatan Pidie dan unsur terkait lainnya. Saat didatangi petugas, apotek itu dalam kondisi tutup. Lalu, petugas mengetuk dan memanggil pemiliknya. Setelah pintu dibuka, petugas menanyakan izin pendistribusian obat oleh apotik tersebut.

Penyegelan itu berlangsung lancar dan tanpa ada keributan. Pemilik apotik tersebut berjanji akan segera mempersiapkan pertanggungjawaban yang diminta oleh BBPOM dan memperbaiki kinerjanya.

Kabid Pemeriksaan dan Penyidikan BBPOM Banda Aceh, Drs Hasbi APt MM di sela-sela kegiatan itu, mengatakan, penyegelan itu dilakukan karena berdasarkan penilaian pihaknya apotek tersebut melakukan pelanggaran dalam mendistusikan obat. “Ada pelanggaran berat karena mendistribusikan obat keras tanpa prosedur,” ungkap Hasbi kepada Serambi, kemarin.

Disegelnya apotek itu, menurut Hasbi, karena sebelumnya mereka sudah mengirim surat teguran agar apotek tersebut ditutup sementara. Karena teguran itu tak diindahkan, tambah Hasbi, maka pihaknya menyegel apotek tersebut. Sementara pemilik apotik enggan memberikan keterangan saat ditanyai Serambi, kemarin.

Dijelaskan, pelanggaran berat yang dilakukan oleh apotek itu adalah mendistribusikan obat tertentu dalam jumlah besar 8.600 box (satu box sebanyak 50 tablet) atau 400 ribu tablet lebih. Obat yang didistribusikan ini tergolong obat keras. Pihak apotek tak dapat mempertangungjawab resep permintaan obat dalam jumlah besar tersebut.

Jenis obat dimaksud antara lain Tramol. Karena itu, tambah Hasbi, penanggung jawab apotek dinilai melanggar Undang-undang No 36 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah (PP) No 51 tentang Pekerjaan Kefarmasian. “Untuk itu pemilik apotik wajib mempertanggungjawabkan pendistribusian obat-obatan ini,” pungkasnya.(aya)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved