Qatar Tetap Nyaman untuk Ditempati
Pemutusan hubungan diplomatik oleh tujuh negara Arab terhadap Qatar sejak Senin dan Selasa (6/6) lalu
Laporan Said Malawi, warga Pidie Jaya di Qatar
Pemutusan hubungan diplomatik oleh tujuh negara Arab terhadap Qatar sejak Senin dan Selasa (6/6) lalu, ternyata tak begitu berpengaruh terhadap denyut perekonomian dan kehidupan sosial warganya.
“Tidak ada imbas yang signifikan. Semua berjalan normal. Kami tetap bekerja seperti biasa dan anak-anak juga bersekolah seperti biasa. Mal-mal dan restoran tetap buka, bahan makanan pun tetap tersedia dalam jumlah memadai,” kata Said Malawi, putra Aceh kelahiran Pidie Jaya yang sudah 19 tahun bermukim di Qatar, kepada Serambi via telepon tadi malam.
Said Malawi bekerja di QatarGas. Ia juga dipercaya sebagai bendahara di Masmekar (Masyarakat Serambi Mekkah di Qatar), selain diangkat sebagai penasihat Ikatan Sosial Warga Indonesia (ISWI) Qatar. Said Malawi merupakan anak keempat dari enam bersaudara hasil perkawinan pasangan Said Ali dan Syarifah Nuraini. Abang sulungnya adalah Said Mulyadi MSi yang saat ini menjabat Wakil Bupati Pidie Jaya. Berikut penuturan Said kepada Serambi.
“ALHAMDULILLAH, di sini aman tenteram dan hari-hari berjalan normal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, paling tidak hingga hari ketiga pemutusan diplomatik oleh sejumlah negara terhadap Qatar, kehidupan warga masih berjalan seperti biasa.
Kalaupun ada kejutan, itu hanya sesaat pada hari pertama. Setelah itu kondisi kembali normal.
Perlu digarisbawahi bahwa Qatar adalah tempat yang sangat nyaman untuk ditempati. Saya merasakan, selama hampir 20 tahun tinggal di sini, sangatlah nyaman.
Kemarin kami sekeluarga bahkan buka puasa bersama di Restoran Pearl Qatar. Kebetulan anak sulung saya yang kuliah di Prancis pulang liburan ke Qatar. Sampai buka puasa kami berakhir di restoran tersebut, kondisi di luar rumah tetap aman terkendali. Tidak ada ketegangan maupun kecemasan.
Begitupun, pada Senin (5/6) Dubes RI untuk Qatar, Marsekal Madya TNI (Purn) Muhamad Basri Sidehabi melakukan pertemuan dengan diaspora Indonesia, termasuk warga Aceh, di Qatar. Pertemuan itu berlangsung di kompleks Al Khor Community (AKC), Kota Alkhor, sekitar 60 km dari Doha, ibu kota Qatar.
Dubes datang ke ke tempat pertemuan ini didampingi Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Doha, Endang Kuswaya dan Pelaksana Fungsi Politik, Boy Dharmawan. Mereka juga melakukan pemantauan langsung di berbagai tempat, jalan-jalan, dan kondisi pusat pebelanjaan dan keramaian lainnya.
Dalam kesempatan itu Pak Dubes menyampaikan imbauan supaya komunitas Indonesia di Qatar tetap tenang, namun waspada dan terus mengikuti perkembangan situasi keamanan di sekitarnya melalui berbagai sarana dan saluran.
Diaspora Indonesia di Qatar diingatkan untuk tidak perlu mengambil langkah-langkah yang berlebihan, mengingat situasi di Qatar masih aman dan terkendali.
Hemat saya, kunjungan dubes ke Alkhor tersebut merupakan upaya KBRI untuk menunjukkan kepada WNI di Qatar bahwa kondisi politik dan keamanan di negeri ini memang berjalan normal seperti biasanya.
Sebagian besar tenaga kerja ahli Indonesia memang bermukim di Al Khor Community dan konon ini merupakan komunitas diaspora Indonesia terbesar di dunia. Jumlahnya mencapai 43.000 orang. Sedangkan tenaga yang profesional sekitar 6.000-7.000 orang. Itu data tahun 2015. Mereka tersebar di seluruh Qatar, terutama di Al Khor, Dukhan, Umm Said, Al Shamal, Doha, dan daerah di sekitarnya.
Terdapat pula 350 kepala keluarga (KK) warga Aceh di Qatar. Orang Aceh yang bekerja di Qatar umumnya eks karyawan PT Arun yang datang ke Qatar pada saat start up perusahaan QatarGas dan commisioning RASgas. Sejauh ini, belum satu pun warga Aceh di Qatar yang terimbas langsung pemutusan hubungan diplomatik oleh tujuh negara tersebut (Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Yaman, Libya, dan Maladewa) terhadap Qatar. Jadi, kami masih nyaman-nyaman saja di sini.” (yarmen dinamika)