Bankir Dunia Itu Putra Buloh Blang Ara
Menteri Pertahanan RI menawarkan Adnan untuk kembali ke tanah air, menjadi penasihat bidang ekonomi pada kementerian yang dipimpin.
Penulis: Subur Dani | Editor: Safriadi Syahbuddin
Laporan Subur Dani | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Siapa sangka, seorang bankir kelas dunia yang sukses menjadi dewan direksi pada dua bank yang berbasis di Belanda dan Inggris, ternyata putra Buloh Blang Ara, Aceh Utara.
Menjalani karier sebagai bankir dunia yang cukup diperhitungkan, hingga akhirnya mendapat panggilan untuk menjadi penasihat bidang ekonomi pada Departemen Pertahanan RI sekira tahun 1990.
Dia adalah Adnan Ganto, putra kelahiran 4 Februari 1947 di Buloh Blang Ara, sebuah desa di pedalaman Aceh Utara.
Minggu (23/7/2017), bertempat di Hermes Hotel, Adnan Ganto meluncurkan bukunya berjudul "Keputusan Sulit Adnan Ganto". Buku itu juga ditulis oleh salah seorang putra terbaik Aceh, yakni Nezar Patria, tokoh pers nasional yang kini menjadi anggota Dewan Pers.
Sosok Adnan Ganto cukup dikenal dan patut dikagumi, setidaknya itu terlihat dari tamu dan undangan yang hadir pada acara peluncuran buku tersebut.
Amatan Serambinews.com, sejumlah tokoh nasional hadir, seperti Prof Dr Mahfud MD (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), Laksamana Widodo As (mantan Menkopolhukam), Agus Suhartono (mantan Panglima TNI), dan sejumlah tokoh penting lainnya.
Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah, beserta unsur Forkopimda juga hadir dalam acara itu. Bisa dibilang, ini peluncuran buku yang paling ramai dihadiri sejumlah tokoh dan dihadiri ratusan tamu undangan lainnya, baik luar maupun dari dalam Aceh.
Nezar Patria, pada peluncuran tadi, menyampaikan pengantarnya, mengapa ia kepincut untuk menuliskan perjalanan hidup seorang Adnan Ganto. Menurutnya, sosok Adnan Ganto memang bukan sosok biasa. Dia adalah putra Aceh yang berhasil menjadi pribadi yang sukses dan patut menjadi contoh bagi yang lain.
"Banyak sisi kehidupan Adnan Ganto yang tidak pernah diketahui oleh publik. Nama Bang Adnan sudah dikenal cukup lama, tapi tidak bisa disebut," sebutnya.
Nezar mengatakan, nama Adnan muncul akhir orde baru, ia disebut-sebut sebagai menteri bayangan saat itu. "Wartawan mencari nama Pak Adnan luar biasa, beliau punya trauma dengan wartawan, dan saya beruntung, trauma itu berakhir dengan saya," kata Nezar.
Dalam buku itu, Nezar menjabarkan perjalanan hidup seorang Adnan Ganto yang ia sebut sempat mengalami dilema etis. Dilema etis menurut Nezar, sebagaimana disebut seorang filsuf Isaiah Berlin, adalah di mana seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama benar atau sama-sama baik.
"Ini yang dialami oleh Bang Adnan, ketika ia sudah menjadi bankir kelas dunia dan bekerja pada bank di Belanda, lalu mendapat tawaran jabatan strategis di Morgan Bank yang berbasis di Inggris," kata Nezar.
Hingga akhirnya, Adnan benar-benar memantapkan pilihannya untuk pindah pada Morgan Bank. "Padahal pada bank sebelumnya, menurut wawancara saya, 20 persen penghasilan kapital bank itu kotribusi dari Bang Adnan," tutur Nezar.
Singkat cerita, Adnan kemudian kembali dihadapkan dengan keputusan sulit pada tahun 1990. Kala itu, Jenderal TNI (Purn) LB Moerdani, yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI menawarkan Adnan untuk kembali ke tanah air, menjadi penasihat bidang ekonomi pada kementerian yang dipimpin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/adnan-ganto_20170723_215541.jpg)