Breaking News:

Pesan Nilai Budaya dalam Teks Film

Film adalah bentuk gerakan visualisasi yang dipadukan dengan audio dan mengangkat rangkaian peristiwa

Editor: bakri

Oleh: Junaidi, Pengajar di Universitas Serambi Mekkah

Film adalah bentuk gerakan visualisasi yang dipadukan dengan audio dan mengangkat rangkaian peristiwa kehidupan manusia yang dilakonkan kembali dalam lingkup terkecil untuk disajikan kepada penikmatnya.

Salah satu jenis film adalah film komedi. Film komedi merupakan gambaran peristiwa yang lebih mengutamakan peristiwa humor. Salah satu film komedi yang terkenal dalam masyarakat Aceh adalah film komedi Eumpang Breuh (EB). Sebagai hasil karya, film komedi EB merupakan film yang mengandung nilainilai kehidupan di dalamnya, salah satunya adalah nilai budaya masyarakat Aceh.

Menurut Setiadi, dkk. (2006:211) nilai budaya termasuk norma dan sikap yang dalam bentuk abstrak, tercermin dalam cara berfikir dan dalam bentuk kongkrit, terlihat dalam bentuk pola perilaku anggota-anggota suatu masyarakat. Menurutnya, wujud niali budaya tersebut meliputi nilai budaya hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam, dengan manusia, masyarakat, dan dengan dirinya sendiri.

Sebagai contoh wujud nilai budaya hubungan manusia dengan Tuhan adalah budaya taat. Dalam teks film komedi EB digambarkan bahwa tokoh Haji Uma pernah mengucapkan nazarnya ketika ia terjatuh ke dalam sebuah sumur tua. Ketika sedang sekarat ia bernazar, siapapun yang menolongnya akan dijadikan sebagai anggota keluarganya. Ia berjanji, apabila orang yang menolongnya perempuan akan menjadikannya sebagai kakak atau adik Yusniar, anak bungsunya.

Namun, apabila yang menolongnya adalah laki-laki, ia berjanji akanmenjadikannya sebagai menantu, suami Yusniar. Karena yang menolongnya adalah Joni (Kapluk), sebagai bentuk ketaatannya Haji Uma harus mengawinkan anaknya dengan Joni. Ketaatan Haji Uma tersebut seperti tergambar dalam teks dialog yang diucapkan tokoh Rohit berikut ini.

“Watèe nyan Yusniar nyan geuneuk peukawén ngön lôn, kareuna igetnyan na kaôy maka geupeukawénlah ngön si Jon.” (EB, Vol. 13 Dur. 00:34:16). Salah satu contoh wujud nilai budaya hubungan manusia dengan alam adalah budaya menjaga lingkungan. Nilai budaya tersebut dapat ditemukan pada kutipan yang diucapkan oleh tokoh Him Morning berikut ini. “Peuna neuteupeu Bang Joni, lampôh nyoe meunyoe hana Haji Uma, lôn yang keulola.” (EB, Vol. 13 Dur. 00:11:20).

Dialog di atas diucapkan oleh Him Morning kepada Bang Joni ketika mereka sama-sama berada di kebun milik Haji Uma. Saat itu, Joni yang diperintahkan Haji Uma untuk menjenguk kebun kelapanya memergoki Him Morning sedang mengupas kelapa di kebun milik Haji Uma. Dalam dialog itu dijelaskan bahwa Him Morning tidak bermaksud mencuri kelapa milik Haji Uma. Ia mengatakan kepada Joni bahwa dialah yang mengelola kebun itu selama ini selama jika sewaktu-waktu tidak ada Haji Uma.

Oleh sebab itu, makna dari dialog tersebut sangat jelas menggambarkan bahwa ingkungan seperti kebun agar selalu dijaga agar tidak diganggu oleh siapa pun supaya hasilnya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Adapun contoh wujud nilai budaya hubungan hubungan manusia dengan manusia adalah budaya mengantre. Berikut ini adalah kutipan teks yang mengandung nilai budaya mengantre yang terdapat dalam teks film komedi EB. “Hai... hai... tanyoe jamèe haruh antri, hanjeut ilèe, awai trôh lôn.” (EB, Vol. 13 Dur. 00:20:33)

Berdasarkan kutipan teks di atas dijelaskan bahwa Aduen Jelas yang sudah lebih dulu sampai di rumah Haji Uma menyuruh Joni untuk mengantre. Aduen Jelas mengatakan bahwa orang yang lebih dulu berada di depan, orang tersebutlah yang lebih dulu berhak bertemu dengan orang yang ditunggu. Oleh sebab itu, daripenggambaran teks tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya mengantre merupakan budaya yang harus selalu dijaga dan dipelihara dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Contoh wujud nilai budaya hubungan hubungan manusia dengan masyarakat adalah budaya bertanggung jawab. Nilai budaya bertanggung jawab ang terdapat dalam teks film komedi EB dapat dilihat pada kutipan berikut. “Hai Bang Taleb bu-bu kaleuh neurugé nyan? Bèk t’ak-t’eut euntreuk keu jamèe.” (EB, Vol. 12 Dur. 00:58:14)

Berdasarkan kutipan teks yang diungkapkan oleh seorang perempuan mudauntuk mengingatkan Bang Taleb yang mengemban tugas memasak nasi harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang telah disanggupinya. Terakhir, contoh wujud nilai budaya hubungan manusia dengan diri sendiri adalah budaya berusaha mengubah nasib. Berikut ini adalah kutipan teks yang mengandung nilai budaya berusaha mengubah nasib yang terdapat dalam teks film komedi EB. “Peujeut sunyi that gampông nyoe dilèe?” “Pemuda gampông nyoe kabéh ijak meurantö Bang Marwan.” (EB, Vol. 12 Dur. 00:15:51)

Marwan yang merupakan tamu di kampung yang dikunjunginya itu terheranheran dengan suasana kampung yang sangat sepi dan jauh dari hiruk pikuk aktivitas. Menjawab pertanyaan Marwan tersebut, Nurazizah menjelaskan salah satu penyebab kampung tersebut sepi adalah banyak pemuda yang mendiami kampung tersebut memilih merantau untuk memperbaiki nasibnya.Dibalik film yang ditonton ternyata ada sisi yang tersembunyi di dalamnya.

Menonton film tidak hanya sekadar memuaskan hati saja dan selesai. Selama ini sangat banyak hal yang penting terlewatkan dan luput oleh penonton film. Secara tidak langsung ternyata di balik film yang ditonton mengandung berbagai hikmah dan pedoman hidup yang dapat dipedomani. Terlepas dari itu semua, film tidak hanya untuk dinikmati pada gambaran visualisasinya saja, film juga mengandung bermacam nilai yang dapat dipetik untuk dipedomani. Salah satu nilai tersebut adalah nilai budaya yang dapat ditemui pada setiap gambaran teks percakapan yang diungkapkan oleh pemain film tersebut.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved