Narit Maja Dalam Kehidupan Orang Aceh

Narit maja adalah sebuah tradisi sastra lisan yang sudah lama hidup dan berkembang ditengah tengah

Narit Maja Dalam Kehidupan Orang Aceh

Narit maja adalah sebuah tradisi sastra lisan yang sudah lama hidup dan berkembang ditengah tengah masyarakat Aceh. Tradisi sastra lisan ini tentu saja mempunyai berbagai fungsi tertentu dalam masyarakat penuturnya sehingga tradisi ini terus ada dan dipergunakan.

Terdapat banyak nilai-nilai positif yang dapat diwariskan pada generasi penerus melalui narit maja. Narit maja mencakup semua aspek-aspek dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya dan kehidupan individu pada khususnya.

Narit maja dijadikan pedoman dalam kehidupan orang aceh setelah Alquran dan hadis. 1.Tuntunan dalam Beragama Masyrakat Aceh dikenal sebagai pemeluk agama islam yang taat. Terdapat banyak narit maja yang dapat dpergunakan sebagai tuntunan dalam beragama.

a. Umu geutanyo hanya siuro simalam, oleh sebabnyan taubat teu bakna (umur kita tidak ada sehari semalam, oleh sebab itu, bertaubatlah). Umur manusia itu pendek sekali (sehari semalam). Untuk itu dianjurkan kepada manusia, supaya selalu bertaubat kepada Tuhan (Allah).

b. La ila haillallah, kalimah taibah payongpagee. Sou nyang afai kalimah nyan, seulamat iman dalam hatee (La ila haillallah, kalimah taubah payung dan pagar.

Siapa yang dapat menghafal kalimat itu, selamat iman dalam hati). Seorang hamba Allah yang taat pada perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, akan diberikan balasan yang setimpal di hari kiamat sesuai dengan amal perbuatannya.

c. Abeh nyawong Tuhan tung, abeh areuta hukom pajoh (Habis nyawa, Tuhan yang ambil. Habis harta, hukum yang makan). Apapun yang kita lakukan, siapapun kita, dimanapun kita berada, pada akhirnya, kita akan dipanggil menghadap Tuhan.

d. Kullu nafsin geubeuet bak ulèe, nyan barô tathèe tatinggai dônya ketika mendengar Kullu nafsin dibacakan di kepala, sadarlah kita bahwa kita telah meninggalkan dunia. Narit maja di atas lazimnya digunakan untuk menyindir seseorang yang semasa hidupnya sangat pongah, sombong, sehingga bertingkah seakan-akan ia akan hidup selamanya, ia berkuasa di atas dunia ini. Narit maja ini juga diharapkan dapat menjadi pengingat akan datangnya kematian sehingga dapat mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi sakaratul maut.

e. ujob teumeu’a ria teukabo, di sinan nyang le ureueng binasa, ujub, ria, dan takabur, akan membawa manuasia pada kebinasaan. Narit maja ini menyiratkan bahwa ada kekuasaan lain yang mengatur kehidupan manusia, yaitu Allah. Karena itu, jangan sombong, jangan takabur karena hal itu akan membuat seseorang celaka.

f. Allah bri, Allah boh Allah yang beri, Allah yang ambil (buang)Narit maja ini digunakan untuk menyadarkan, mengingatkan seseorang bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Manusia hanya diwajibkan berusaha dan memasrahkan hasilnya hanya pada Allah semata. Hal ini senada dengan narit maja ”meunyo meugrak jaroe ngon gaki, na raseuki bak Allah Ta’ala”, kalau mau menggerakkan tangan an kaki, akan ada saja ezki dari Allah taala’.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved