Sekeping Surga di Aceh Jaya Itu Kini Tinggal Kenangan
BANGUNAN vila berdinding papan dan beratap daun nipah itu mengarah ke laut, dari jendela terlihat pemandangan
* Melihat Lebih Dekat Pantai Wisata Lhok Geulumpang
BANGUNAN vila berdinding papan dan beratap daun nipah itu mengarah ke laut. Dari jendela terlihat pemandangan yang indah berupa teluk-teluk kecil Kuala Do yang persis berada di bibir pantai. Inilah sekilas pemandangan pantai wisata Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya. Sekitar tahun 1987-1999 lokasi wisata ini terkenal hingga ke mancanegara. Ponorama alamnya yang indah mampu menghipnotis wisatawan asing masuk ke Aceh Jaya kala itu.
Tempat penginapan (vila) wisatawan asing yang dibangun bertengger di atas pohon Ketapang menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Juga terdapat kandang hewan seperti ular, burung, monyet dan binatang lainnya, menjadikan kawasan itu bagai magnet bagi pengunjung. Di lokasi wisata Lhok Geulumpang juga terdapat 17 unit anjongan bermotif rumah Aceh dibangun berderetan yang dapat dijadikan tempat beristirahat. Anjungan ini dibangun untuk 17 kecamatan di bawah pimpinan Bupati Aceh Barat saat itu T Rosman, sebelum Aceh Jaya dimekarkan. Banyak sisi eksotis lainnya yang dimiliki wisata Lhok Geulumpang.
Tinggal kenangan
Misalkan terdapat bebatuan besar di belakang pantai, hutan yang masih alami yang dihuni berbagai jenis satwa kerap berinteraksi dengan pengunjung. Sedangkan di sebelah barat berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dan di sebelah timur terbentang perbukitan yang tertata rapi. Namun konflik bersenjata yang melanda Aceh dan diperparah bencana tsunami 2004 mengubah semua pemandangan “sekeping surga” dari Aceh Jaya itu.
Kejayaan dan keindahan Pantai Lhok Geulumpang kini hanya menjadi sebuah mimpi dan kenangan. Sejumlah fasilitas di kawasan lokasi wisata itu hancur diterjang ombak. Sedangkan bangunan yang tersisa kini mulai lapuk dan hancur dengan sendirinya karena sudah tak terawat lagi. Marzuki, tokoh masyarakat Lhok Geulumpang kepada Serambi mengatakan, para pejabat Aceh Barat saat itu menjadikan kawasan Lhok Geulumpang sebagai tempat liburan keluarga dan tempat melakukan rapat. Semua fasilitas terjaga dan dirawat telaten oleh petugas khusus.
“Kiranya kejayaan Lhok Geulumpang bisa hidup kembali, jika wisata ini tersebut hidup kembali kita yakin akan menjadi peluang ekonomi masyarakat dan PAD untuk daerah,” tutur Marzuki. Ia meyakini meski sudah tidak terawat lagi, kawasan pantai wisata Lhok Geulumpang masih tampak indah dan tertata. Bebatuan raksasa dan hutan alami masih tersusun dan berdiri rapi di bibir pantai sehingga tak menghilangkan keindahan alami yang dimilikinya.
Menurut Marzuki, sepinya Aceh Jaya selama beberapa dekade hingga saat ini terlebih pada hari libur Sabtu dan Minggu, disebabkan belum adanya fasilitas wisata yang memadai. Sehingga masyarakat lebih memilih keluar daerah untuk liburan bersama keluarga. “Tapi kalau ada tempat wisata yang baik tentu Aceh Jaya akan semakin ramai kembali seperti dulu,” ujarnya.
Peran Daud Jerman
Camat Setia Bakti, Aceh Jaya Ibnu Abbas kepada Serambi, Selasa (3/10) mengatakan pantai Lhok Geulumpang memiliki panjang satu kilometer terletak di Kuala Do Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya. Pantai ini dulunya merupakan salah satu tempat favorit wisatawan asing. Pada tahun 1993 kawasan ini juga pernah menjadi lokasi pesta budaya regional ASEAN, semasa pemerintahan bupati Aceh Barat T Rosman.
Keberhasilannya meracik pesta budaya ini membuat semua orang kagum. Kala itu, ribuan warga memeriahkan Pesta Budaya bertajuk Piasan Raya Lhok Geulumpang yang dilaksanakan selama dua kali. Kini sisa-sisa bangunan masih terlihat seperti tempat penginapan turis asing yang dibangun di atas pohon. Menurutnya lokasi wisata di Lhok Geulumpang terbagi dua bagian.
Pertama kawasan penemuan sebuah batu yang mirip petani dan bagian Kuala Do di sebelah gunung khusus untuk wisatawan asing, dan tidak diboleh ada masyakat masuk ke tempat tersebut. Sehingga membuat banyak warga penasaran. Keteduhan laut Pantai Lhok Geulumpang sering dimanfaatkan wisatawan untuk aktivitas snorkling dan diving maupun sekadar berjemur sambil menikmati gugusan pulau-pulau kecil. Tempat wisatawan asing itu di kelola Dietmar Herbert Egber Hess, seorang warga Jerman yang dikenal dengan nama Daud Jerman.
Sejak Daud Jerman mengambil peranan di lokasi tersebut, wisatawan asing pun tak ragu-ragu mengunjungi pantai itu karena dianggap nyaman dan aman. Keberadaan Daud saat itu di Aceh Jaya diperkirakan sejak tahun 1989 dan memilih menetap di daerah itu hingga ia menikahi wanita Aceh. Peran Daud dalam menata wisata di Lhok Geulumpang menjadi suatu objek wisata yang baru untuk wisatawan asing dengan membangun villa bertengger di atas pohon.
Namun kini semua kejayaan lokasi wisata Lhok Geulumpang seperti sirna ditelan bumi. Konflik bersenjata dan tsunami 2004 telah mengubah wajahnya menjadi suram. Akankah kejayaan Lhok Geulumpang kembali bangkit? (sa’dul bahri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/lokasi-pantai-wisata-lhok-geulumpang-kecamatan-setia-bakti_20171014_091246.jpg)